Home Internasional Pekerja Bantuan Diduga Minta Pengungsi Muslim Pindah Agama

Pekerja Bantuan Diduga Minta Pengungsi Muslim Pindah Agama

117
0
SHARE

Moria merupakan salah satu fasilitas penahanan pencari suaka di Lesbos, Yunani, di bawah kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa yang dikritik banyak lembaga bantuan dan HAM, seperti Dokter Lintas Batas, Amnesty International dan PBB. (Milos Bicanski/Getty Images)
Moria merupakan salah satu fasilitas penahanan pencari suaka di Lesbos, Yunani, di bawah kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa yang dikritik banyak lembaga bantuan dan HAM, seperti Dokter Lintas Batas, Amnesty International dan PBB. (Milos Bicanski/Getty Images)

ATJEHCYBER.com – Petugas bantuan beragama Kristen yang bekerja di pusat penahanan pencari suaka paling terkenal di Yunani dituding mencoba membuat para pengungsi Muslim berpindah agama.

Diberitakan The Guardian pada Selasa (2/8), terdapat setidaknya dua kali kesempatan dalam beberapa bulan terakhir di mana para pekerja bantuan menyalurkan salinan aplikasi pemindahan agama berbahasa Arab dari Injil St. John untuk pengungsi yang ditahan di kamp Moria di Lesbos.

Kertas aplikasi tersebut, yang berhasil didapatkan The Guardian, meminta para pencari suaka untuk menandatangani pernyataan yang menyatakan, “Saya tahu saya seorang pendosa, saya meminta Yesus untuk mengampuni dosa-dosa saya dan memberikan saya hidup yang kekal. Keinginan saya adalah mencintai dan mematuhi firman-Nya.”

Pencari suaka Muslim yang menerima booklet kecil tersebut menilai bahwa upaya para pekerja bantuan tersebut “tidak pantas.”

“Ini masalah besar karena banyak warga Muslim dan mereka tidak ingin mengubah agama mereka,” kata Mohamed, seorang pengungsi asal Damaskus.

“Mereka mencoba melakukan ini selama bulan Ramadan, bulan yang paling suci bagi Muslim,” ujarnya.

Pengungsi asal Suriah lainnya, Ahmed, menyatakan, “Kami menyukai semua agama, tetapi jika Anda beragama Kristen, dan saya memberikan Anda Al-Qur’an, bagaimana perasaan Anda?”

Para pengungsi menyatakan bahwa booklet tersebut didistribusikan oleh setidaknya dua petugas dari Euro Relief, lembaga bantuan dari Yunani yang aktif memberikan bantuan terbesar di Moria setelah sejumlah lembaga bantuan lainnya hengkang dari pusat penahanan Moria.

Pasalnya, Moria merupakan salah satu fasilitas penahanan pencari suaka di bawah kesepakatan pengungsi antara Turki dan Uni Eropa yang dikritik banyak lembaga bantuan dan HAM, seperti Dokter Lintas Batas, Amnesty International dan PBB.

Kamp Moria sendiri diawasi langsung oleh kementerian imigrasi Yunani, namun pengaturan kamp ini sebagian besar dilakukan oleh berbagai kelompok bantuan.

Euro Relief menyatakan tidak menyetujui distribusi kertas pemindahan agama tersebut. Namun, lembaga ini tidak bisa mengesampingkan kemungkinan bahwa pekerja bantuan membagikan booklet semacam itu atas inisiatif sendiri.

“Saya sudah mengambil tindakan, sehingga relawan kami tahu betul bahwa mereka seharusnya tidak mendistribusikan kertas semacam itu. Kode etik kami dengan jelas menyatakan bahwa hal semacam ini merupakan sesuatu yang tidak dapat mereka lakukan, dan jika seseorang melakukannya maka kami sebagai sebuah organisasi akan mengambil tindakan untuk mendisiplinkan [mereka],” kata Direktur Euro Relief, Stefanos Samiotakis.

Sementaram kementerian imigrasi Yunani hingga kini belum memberikan komentar terkait hal ini.

Kesepakatan pengungsi

Insiden semacam ini terjadi menyusul penutupan perbatasan antara Yunani dan Jerman, dan diberlakukannya kesepakatan pengungsi Uni Eropa-Turki.

Pada periode Januari 2015 hingga Maret 2016, sekitar satu juta pencari suaka diizinkan menyebrang dari Turki menuju Yunani. Namun sejak Maret lalu, Makedonia menutup titik persimpangan pengungsi di perbatasan dengan Yunani.

Beberapa hari kemudian, Uni Eropa menyetujui kesepakatan yang mengizinkan para pengungsi dideportasi kembali ke Turki mulai 18 Maret 2016. Kesepakatan ini dikecam oleh berbagai kelompok pemerhati HAM karena dinilai bertentangan dengan hukum internasional.

Hingga kini, sekitar 57 ribu pencari suaka terdampar di Yunani, sebagian besar di antaranya ditampung di daratan utama Yunani, namun ribuan lainnya terdampar di sejumlah pulau di Yunani, termasuk Lesbos.

Para pengungsi dan aktivis HAM kerap meluncurkan kritik soal kondisi kumuh di kamp pengungsian. Para pengungsi kerap kali tidak mendapatkan akses listrik, air dan bahkan susu formula untuk bayi. Aplikasi pengajuan suaka juga dinilai rumit dan lambat.

Di beberapa kamp, ​​situasi ini berujung pada kerusuhan. Para pengungsi mengklaim hidup di kam pengungsian penuh rasa takut, putus asa dan dibayangi berbagai aksi pelanggaran hukum.

“Kami melihat kekerasan hampir setiap hari,” kata Fatima, seorang pengungsi Suriah yang tinggal di Moria bersama suami dan putrinya yang berusia tiga tahun.

“Kami tidak merasa aman di sini, kami tidak merasa nyaman di sini,” ucapnya.

Uni Eropa seharusnya memindahkan sebagian besar pengungsi yang tiba di Yunani melalui skema kuota pengungsi kepada seluruh negara anggotanya. Namun, karena skema yang rumit dan berjalan lambat, kesepakatan pengungsi Uni Eropa-Turki diberilakukan terlebih dahulu.

Banyak lembaga HAM memperkirakan puluhan ribu pengungsi di Yunani akan terjebak di negara itu dalam waktu yang lama. (CNN Indonesia)