stat counter Awas, Beras Daur Ulang Beredar di Banda Aceh | Aceh Online Magazine

Awas, Beras Daur Ulang Beredar di Banda Aceh

beras-daur-ulang

ATJEHCYBER.com – Beras dengan merek dagang yang sudah cukup dikenal di Banda Aceh dan sekitarnya memunculkan keluhan konsumen karena gejala yang tidak lazim sejak dari proses pencucian, menanak, dan dampak terhadap kesehatan setelah dikonsumsi. Berbagai keanehan dan keluhan dari beras yang diduga hasil daur ulang itu banyak diperbincangkan di media sosial sejak beberapa hari terakhir.

Pengakuan yang dirangkum Serambi, baik secara langsung maupun melalui media sosial umumnya membenarkan buruknya kualitas beras yang beredar di pasaran sejak beberapa hari terakhir.

Selain cepat basi setelah dimasak, warga juga mengalami sakit perut setelah mengkonsumsi beras tersebut. Topik ini semakin santer diperbincangkan di media sosial, seperti facebook dan twitter.

Djamaluddin Husita, seorang warga Banda Aceh membagi pengalamannya terkait beras yang ia konsumsi bersama keluarga. “Dalam beberapa hari ini dua anak saya mengeluh sakit perut. Saya berpikir, mungkin pengaruh beras,” kata Djamaluddin yang dihubungi Serambi, Selasa (5/4).

Menurut Djamaluddin, beras yang dibeli cepat lembek dan basi setelah dimasak. “Agaknya, nasi agak lembek, tidak seperti biasa. Istri saya bilang padahal beberapa kali air dikurangi. Hasilnya lembek juga,” ujarnya.

Pengakuan serupa juga disuarakan mantan Wali Kota Sabang, Munawar Liza Zainal. Di salah satu komentar terkait beras, ia mengaku keluarganya mengalami sakit perut setelah mengonsumsi nasi dari beras aneh itu.

“Beberapa hari lalu, kami juga merasakan hal yang mirip. Asal habis makan, anak-anak sakit perut. Ketika makan nasi bungkus tidak mengeluh. Kami cek rupanya memang berasnya agak aneh. Baru masak sudah berkeringat dan beraroma basi,” katanya.

Munawar Liza mempersilakan Serambi mengutip komentarnya di media sosial. “Saya sedang di Tangse sinyal agak kurang bagus, silakan saja dikutip pernyataan itu,” katanya saat dikonfirmasi Serambi kemarin.

Warga Banda Aceh lainnya, Melidawati dari Rukoh juga mengaku mengalami hal yang sama terkait beras yang dikonsumsinya. Ia baru sadar saat banyak orang mendiskusikan keluhannya di media sosial.

Yurdani, warga Darussalam, Selasa kemarin langsung memperlihatkan kualitas beras yang dibelinya. Bahkan, ia menguji mencuci beras tersebut dan pada cucian keenam baru mendapat kejernihan air beras.

“Biasanya kami tiga kali sudah normal tidak terlalu jernih sekali sih, dan itu biasa para ibu-ibu pasti tahu,” katanya saat memperlihatkan hasil cucian beras yang akan ditanaknya.

Keluarga ini juga mengeluhkan sakit perut setelah mengkonsumsi beras itu. “Saya kira kami salah minum air yang dibeli. Lalu kami ganti dengan air mineral yang bagus, tetap juga masih sakit. Baru sadar saat membaca komentar di facebook,” kata Yurdani.(una/ari/Harian Serambi Indonesia)