stat counter Bu Dosen UIN ‘Menghilang’ | Aceh Online Magazine

Bu Dosen UIN ‘Menghilang’

Rosnida Sari, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry (c) Ist

Rosnida Sari, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry (c) Ist

Atjehcyber.comRosnida Sari, dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry yang dihebohkan dengan langkah kontroversinya membawa mahasiswa belajar di sebuah gereja di Banda Aceh tak terlihat lagi di kampungnya, salah satu desa di Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh. Begitupun nomor ponsel yang biasa digunakan sudah tak aktif sehingga akses untuk mendapatkan konfirmasi dari Bu Dosen semakin tertutup.

Sejak kasus itu mencuat, praktis belum ada tanggapan apapun yang disampaikan Rosnida Sari kepada publik terhadap berbagai tudingan maupun sikap yang diambil Senat Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry.

Seperti diberitakan, Senat FDK UIN Ar-Raniry telah melakukan rapat senat, Kamis 8 Januari 2015 dengan mendengarkan pendapat dosen di lingkungan fakultas terkait kasus dosen membawa mahasiswa untuk kuliah di gereja. Rapat tersebut berakhir dengan melahirkan dua rekomendasi yang akan segera disampaikan kepada Rektor UIN Ar-Raniry. Salah satu isi rekomendasi itu adalah Pimpinan UIN Ar-Raniry diminta melakukan pembinaan dan pendampingan agama (akidah) kepada sang dosen (Dr Rosnida Sari) dan menonaktifkannya sementara dari tugas-tugas akademik selama masa pembinaan.

Rekomendasi lainnya dari rapat senat itu adalah Rosnida Sari harus meminta maaf kepada pimpinan dan civitas akademika FDK dan Rektor UIN Ar-Raniry, para orang tua mahasiswa, tokoh-tokoh masyarakat Aceh, dan seluruh masyarakat Aceh melalui media massa.

“Kita memberikan apresiasi terhadap keputusan senat FDK UIN Ar-Raniry. Di sisi lain masyarakat sangat menunggu sang dosen menyampaikan pernyataan terbuka kepada masyarakat Aceh termasuk meminta maaf atas tindakannya yang telah melukai hati masyarakat dan mempermalukan ulama dan pimpinan ormas Islam di Aceh di hadapan umat Islam di luar Aceh,” kata seorang aktivis ormas Islam di Aceh kepada Serambi, Jumat (9/1) menanggapi rekomendasi Senat FDK UIN Ar-Raniry terhadap kasus Rosnida Sari.

Sepanjang Jumat kemarin, Serambi masih terus berupaya mendapatkan konfirmasi dan hak jawab dari Rosnida Sari terhadap pemberitaan yang dilansir sejak beberapa hari terakhir. Namun hingga berita ini diturunkan, Rosnida tak berhasil ditemui, baik di kampus tempat dia bertugas, di rumahnya (salah satu desa di Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh) maupun melalui komunikasi ponsel pada nomor yang biasa digunakannya.

 Pulang kampung
Pimpinan desa di tempat Rosnida Sari tinggal yang dihubungi Serambi tadi malam membenarkan Bu Dosen tersebut adalah warganya. Namun sejak kasus itu mencuat, Rosnida melapor untuk pulang kampung dan minta tolong melihat-lihat rumahnya. Ketika Serambi mengamati langsung rumah Rosnida Sari tadi malam, memang tak terlihat ada tanda-tanda aktivitas apapun di rumah itu. “Tak ada orangnya, sudah kosong,” kata seorang warga.

Seperti diberitakan, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (FDK-UIN) Ar-Raniry Banda Aceh secara tegas menyikapi heboh kasus Rosnida Sari, dosen di fakultas itu yang membawa sejumlah mahasiswi ke sebuah gereja di Banda Aceh. Kasus yang menarik perhatian masyarakat ini, bermula dari tulisan milik dosen dakwah itu sendiri di situs australiplus.

Kunjungan ke gereja yang menjadi bagian dari mata kuliah Studi Gender dalam Islam itu, sebagaimana ditulis Rosnida Sari, sebagai bagian dari ‘jembatan perdamaian’ dan ‘pembawa damai’ untuk agama dan budaya yang berbeda ini.

Tulisan dengan judul asli “Belajar di Australia, Dosen IAIN Ajak Mahasiswa ke Gereja di Banda Aceh” itu telah menjadi perbincangan hangat di jejaring media sosial. Beragam komentar mencuat, mulai dari yang mendukung dan tak sedikit pula yang menyesalkan tindakan dosen tersebut.

 Sudah ke rektor
Rekomendasi yang dihasilkan dalam Rapat Senat FDK UIN Ar-Raniry, Kamis (8/1) sore, mengenai kasus dosen yang membawa mahasiswanya kuliah di gereja, sudah diserahkan pihak fakultas kepada rektor universitas itu, Jumat (9/1) sore.

“Bukan cuma rekomendasinya yang kami sampaikan. Tapi juga kami sertakan sejumlah tulisan Saudari Rosnida Sari, baik yang dimuat di media massa, maupun yang kita peroleh di online sebagai bahan pertimbangan bagi Bapak Rektor,” kata Dekan FDK UIN Ar-Raniry, Dr A Rani Usman MSi saat dihubungi Serambi per telepon tadi malam.

Menurut A Rani, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA baru tiba dari Jakarta di Banda Aceh kemarin sore. Begitu rektor tiba di kediamannya, rekomendasi dari FDK UIN Ar-Raniry itu langsung diserahkan. “Kami utus Pembantu Dekan III, Bapak Baharuddin MSi yang mengantar berkas tersebut ke kediaman rektor,” kata A Rani.

Sengaja diserahkan cepat, kata A Rani, supaya tersedia waktu yang cukup bagi Rektor UIN Ar-Raniry untuk membaca dan menganal isis semua berkas yang diserahkan itu sebelum mengambil keputusan pada awal minggu depan.

Di antara berkas yang diserahkan itu, kata A Rani, berisi keterangan Dr Rosnida Sari maupun para mahasiswa yang dibawanya ke gereja untuk mendengarkan presentasi seorang pendeta tentang studi gender.

You must be logged in to post a comment Login