stat counter Dia Pergi di Usia Dua Bulan Menikah | Aceh Online Magazine

Dia Pergi di Usia Dua Bulan Menikah

tenggelam-pantai-pasie-saka

ATJEHCYBER.com – Kelopak mata Rahmad Hidayat (30) masih sembab. Bola matanya pun tampak memerah. Sesekali ia menutup mukanya, menangis sesengukan saat menceritakan peristiwa yang merenggut nyawa istri yang baru dinikahinya dua bulan lalu.

“Terlalu cepat dia pergi,” ungkap Rahmat Hidayat sembari menutup mukanya, menahan tangis. Sejenak, ia merebahkan badannya ke ranjang di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Teuku Umar, Calang, Aceh Jaya, Minggu (17/4).

Setelah kembali menguasai keadaan, Rahmat menyapu bulir-bulir air dari wajahnya. Ia mengungkapkan kata-kata seperti menyesali keputusan membawa istrinya berekreasi ke Pantai Pasie Saka. Baca : Aceh Jaya: Selfi di Pantai, Dua Wanita Tewas Dihantam Ombak

Pria asal Medan, Sumatera Utara ini bercerita, dalam perjalanan ke Pasie Saka, ia telah memiliki firasat yang tidak mengenakkan, sebab istrinya Maisya Sriyulia Rahmi (25), berencana akan pulang ke Langsa pada Minggu malam. Namun, di sisi lain, dia juga harus mengikuti keinginan istrinya yang meminta ditemani berekreasi ke Pasie Saka, sebelum berpisah sementara karena harus pulang ke Langsa.

“Apakah abang tidak rindu, jika aku kembali ke kampung nanti malam,” ujar Rahmat Hidayat mengutip kembali ucapan sang istri saat mengajak rekreasi ke Pasie Saka.

Demi membahagiakan istrinya, Rahmad yang sehari-hari bekerja di salah satu usaha aksesoris di Peunayong, Banda Aceh, kemudian meminta izin libur kepada majikannya. Ia ingin membawa istrinya ke Pantai Pasie Saka yang sudah lama direncanakan. Menurutnya, sang istri sangat penasaran dengan lokasi wisata yang sangat indah itu.

Jadilah, pada Minggu pagi kemarin, Rahmad Hidayat (30) bersama istrinya Maisya Sriyulia Rahmi (25), serta temannya Iswandi (31) dan Khairulia Layali (20), berangkat ke lokasi wisata Pasie Saka. Menunggangi dua sepeda motor, mereka menempuh jarak sekitar 117 kilometer dari Kota Banda Aceh, untuk mencapai pantai yang sangat terkenal di kalangan para pencinta wisata alam.

Medan berat yang ditempuh selama perjalanan, terbayarkan dengan pemandangan sangat indah di lokasi tersebut. Maisya Sriyulia Rahmi (25) dan Khairulia Layali (20) pun langsung jeprat jepret merekam keindahan alam. Mereka melepas kegembiraan dengan cara selfie, memotret diri dengan latar belakang hamparan pasir putih dan lautan lepas.

Tanpa sadar, saat sedang asyik berfoto di sekitar bebatuan besar pinggir pantai, ombak besar datang dari belakang dan menyeret mereka berdua. Iswandi yang sedang memegang kamera, langsung meloncat ke laut dengan maksud memberikan pertolongan. Tapi apa daya, Iswandi malah menghilang terseret gelombang.

Sementara Rahmat yang tidak bisa berenang, hanya menjerit-jerit sambil mencoba memasuki air. Saat dibawa ke RSUD Teuku Umar, Calang, Rahmad dalam keadaan pingsan dan shock berat.

Penelusuran Serambi, Khairulia Layali, salah satu korban meninggal dalam tragedi itu, adalah penggemar wisata alam. Pada akun facebooknya, selama bulan April, Khairulia memosting status lucu dan beberapa foto saat ia berkunjung ke beberapa lokasi wisata di Aceh.

Di Pasir Putih, Aceh Besar misalnya, ia memposting foto bersama tiga kawannya. Ia menulis “Hobi kita Wisata Alam Bukan Wisata Kuliner”. Di foto tersebut, Khairulia bersama rekannya yang diduga juga merupakan korban meninggal saat selfie di Pantai Pasie Saka, Aceh Jaya, Minggu (17/4).

Pada tanggal 7 April, dia menulis status yang menyiratkan kekecewaan tidak jadi berangkat Pantai Pasie Saka dengan hastag #PlaningGagal. “Gagal Ke Calang nya. Gagal ke Pantai saka. Gagal juga jalan2 ke Grutee nya.” Sementara, pada tanggal 17 April kemarin, di akun facebook Khairulia Layali terdapat beberapa ungkapan belasungkawa dari teman-temannya.

Manusia boleh berencana, tapi Allah yang menentukan segalanya. Keinginan Rahmad Hidayat untuk membahagiakan wanita yang baru dinikahinya dua bulan lalu, justru berujung maut. Mereka bukan hanya berpisah sementara, sebagaimana rencana awal, tapi berpisah selamanya.(sa’dul Bahri/Harian Serambi Indonesia)