Home Nanggroe Diduga Disiksa Pasutri, Tengkorak Bocah Retak

Diduga Disiksa Pasutri, Tengkorak Bocah Retak

596
0
SHARE

Aisyah (2,3) bayi yang disiksa ayah asuhnya mengalami patah tulang di tangan, kaki, dada, rusuk dan retak di kepala serta sejumlah bekas gigitan dan sulutan apai rokok di badan dirawat di RSU Aceh Tamiang. Kamis (23/4). SERAMBI/ M Nasir
Aisyah (2,3) bayi yang disiksa ayah asuhnya mengalami patah tulang di tangan, kaki, dada, rusuk dan retak di kepala serta sejumlah bekas gigitan dan sulutan apai rokok di badan dirawat di RSU Aceh Tamiang. Kamis (23/4). SERAMBI/ M Nasir

Atjehcyber.com – Indikasi bahwa bocah Aisyah–sebelumnya disamarkan dengan nama Mawar (2,3 tahun)–disiksa oleh pasangan suami istri (pasutri) yang menjaganya, semakin menguat. Terlebih setelah pihak Rumah Sakit Umum (RSU) Tamiang memperoleh hasil pemindaian (scanning) kepala dan rontgen tubuh bocah malang itu yang dilakukan dokter ahli di Rumah Sakit (RS) Materna Medan, Sumatera Utara (Sumut).

Dari hasil scan dan rontgen itu terungkaplah betapa dahsyat siksaan yang dialami Aisyah. Tulang tengkoraknya retak, tulang belikat, dada, rusuk, dan kedua tangannya patah. Kaki kirinya bahkan patah tiga.

Di perutnya terdapat bekas gigitan orang dewasa. Di sebagian besar tubuhnya terdapat luka bakar, termasuk di bawah pusarnya, diduga karena disundut dengan api rokok oleh ayah asuhnya, Irwan (32) atau oleh ibu asuhnya, Siti Maharani (32) yang merupakan istri Irwan, warga Dusun Bukit Panjang, Gampong Binjai, Aceh Tamiang.

Sebagaimana diberitakan Serambi, Rabu (22/4), pasutri itu sudah ditahan polisi secara terpisah, Selasa lalu. Sang suami di Mapolsek Seruway, sedangan istrinya dititipkan di sel Mapolres Tamiang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Aisyah adalah anak kandung Halimatun Sakdiah, warga Gampong Binjai, Aceh Tamiang. Karena impitan ekonomi, Halimatun mencari nafkah ke Malaysia sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Anaknya yang ketika itu belum genap dua tahun, dia titip kepada pasutri Irwan-Siti Maharani yang tak lain adalah sepupunya. Tapi di tangan pasutri ini Aisyah bernasib tragis, disiksa dalam empat bulan terakhir.

Direktur RSU Tamiang, dr Lia Imelda Siregar kepada Serambi, Kamis (23/4) mengatakan, untuk penanganan Aisyah lebih lanjut, pihaknya hari ini menggelar rapat dengan dokter spesialis RSU. Terdiri atas dr Taufik SpB, dr Idris SpA, dr Eva SpN, psikiater dr Nurul, dan Kabid Pelayanan Medis RSU Tamiang, drg Irma. Dalam rapat itu, direktur RSU ingin mendengarkan paparan mengenai kondisi terkini Aisyah.

Jika nanti para dokter spesialis itu menyimpulkan bahwa retak di tulang tengkorak Aisyah berdampak pada penurunan kesadarannya, maka ia akan dirujuk ke RSU di Medan.

Untuk penanganan sementara, dokter spesialis anak RSU Tamiang sudah menyatakan sanggup untuk menangani proses penyembuhan Aisyah. Namun, sang spesialis anak itu masih harus menunggu pendapat medis dari dokter spesialis saraf.

“Akibat retak tulang tengkorak bisa saja cairan otak pasien ke luar dari lapisan kepalanya, sehingga menurunkan kesadarannya. Oleh karena itu kita lihat dulu paparan dari sepesialis saraf,” ujar dr Lia.

Menurut dr Lia, tulang-tulang Aisyah yang patah sebagian besar merupakan patahan lama. Saat ini, tulang-tulang yang patah ataupun yang retak itu tumbuh secara tidak beraturan.

Tulang yang diduga patahnya sudah lama, meliputi kaki kanan, kaki kiri, belikat, dan rusuk bawah Aisyah. “Sedangkan tangan kanannya diduga baru patah dan sudah ditangani secara medis,” ujar dr Lia sembari menambahkan bahwa saat ini penanganan Aisyah difokuskan pada tulang tengkorak, baru kemudian membetulkan patahan tulang lama.

Selain melakukan penanganan medis, RSU Aceh Tamiang juga menggalang dana untuk kebutuhan bocah Aisyah yang masih perlu beberapa kali scan tengkorak di Medan, karena menurut dr Lia, biaya scan kepala tidak ditanggung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Bagi yang ingin memberi donasi untuk pengobatan Aisyah, disarankan Lia menayalurkan bantuannya ke rekening “Berbagi Sayang” BRI 065701000637309. “Baju saja bayi ini tidak punya,” ujar Lia lirih.

Sejauh ini, Baitul Mal Aceh Tamiang telah menyalurkan bantuan Rp 1 juta yang diserahkan Wakil Bupati Aceh Tamiang, Drs Iskandar Zulkarnain MAP kepada Direktur RSU Tamiang. Sehari sebelumnya Ketua DPRK Aceh Tamiang, Ir Rusman yang melihat langsung kondisi Aisyah sempat meneteskan air mata dan menyumbang Rp 2 juta. Sebelumnya, Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Dicky Sondani SIK melalui Kapolsek Seruway, Iptu Yunan AL, Selasa (21/4) mengatakan, dugaan penyiksaan terhadap bocah Aisyah awalnya terjadi sekitar empat bulan lalu, sejak ibunya, Halimatun Saksidah, bekerja ke Malaysia, sedangkan Aisyah dititipkan ke saudara sepupunya (pasutri Irwan-Siti Maharani). Selama itu pula Halimatun rutin mengirim uang untuk biaya hidup Aisyah kepada pasutri Irwan-Siti. Namun, di luar pengetahuan ibunya, anak itu ternyata mengalami nasib tragis. Ayah Aisyah pun tak diketahui berada di mana sejak cerai dengan sang istri.

Selama dititip di rumah itu, Aisyah jarang dibawa ke luar. Hanya tangisnya yang sering didengar tetangga. Tiba-tiba salah satu keluarga Aisyah membawa bocah itu secara diam-diam ke Puskesmas Seruway. Dokter yang memeriksanya terkejut melihat badan Aisyah penuh luka bakar dan bekas gigitan manusia dewasa. Imam dusun yang dipanggil dokter akhirnya menceritakan kondisi Aisyah kepada babinsa, lalu babinsa melapor ke polisi, sehingga pasutri itu pun ditahan./Serambinews.com