stat counter Diskriminasi BL Harus Dituntaskan | Aceh Online Magazine

Diskriminasi BL Harus Dituntaskan

farid-wajdi-ibrahim_20151029_134053

ATJEHCYBER.com – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, meminta Gubernur dan Kapolda Aceh serta Pangdam Iskandar Muda segera menuntaskan perlakuan diskriminasi bahkan pungutan liar oleh oknum polisi Sumatera Utara (Sumut) terhadap para pengemudi mobil dan truk berpelat BL asal Aceh saat memasuki wilayah Sumut.

Menurutnya, meski persoalan itu sudah disikapi, tapi pemeriksaan ketat yang berujung pada pungutan liar (pungli) masih saja marak terjadi saat mobil-mobil Aceh memasuki wilayah Sumut.

Hal itu disampaikan Farid Wajdi dalam tausiahnya pada acara silaturahmi pasca-Lebaran civitas akademika dan alumni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan UIN Ar-Raniry di Gedung AAC Prof Dayan Dawood, Banda Aceh, Senin (1/8) siang. Dalam 30 tahun terakhir, inilah untuk pertama kalinya acara silaturahmi pasca-Lebaran dilaksanakan bersama oleh Unsyiah dan UIN Ar-Raniry di bawah satu atap.

Civitas akademika dan alumni Unsyiah maupun UIN, menurut Farid, harus selalu kompak dan siap sedia membela almamaternya. Jangan pula diam ketika ada yang menzalimi.

Ia menilai sebagian polisi Sumut zalim terhadap pengemudi asal Aceh. “Mereka zalim sekali kepada kita. Setiap mobil BL dari Aceh ke sana (Medan -red), langsung jadi sasaran Pak Polisi di sana. Sopan-sopan memang mereka. Katanya, hormat Pak, siap Pak, tapi sampai ke celana dalam kita diminta periksa. Sementara mobil pelat BK (Sumut) yang masuk ke Aceh, aman-aman saja, kita perlakukan dengan baik,” kata Farid Wajdi.

Menurut Farid, persoalan ini harus segera disikapi serius, meski sebelumnya Gubernur, Wakil Gubernur, dan Kapolda Aceh telah menyikapi dan membicarakan berkali-kali hal itu dengan Pemerintah Provini Sumatera Utara.

Kata Farid, walau selama ini sudah dilakukan berbagai upaya, tapi tak ada realisasi apa pun. Kondisi tersebut masih saja terjadi, mobil pelat BL selalu menjadi sasaran pemeriksaan secara ketat di sana.

“Ini aib besar, makanya ini harus terus disikapi. Kalau masalah ini tidak beres, pemimpin Aceh dianggap tidak punya ‘itu’ dalam celana, atau periksa dulu mereka ini apa ada ‘itu’ atau tidak?” kata Farid sambil mengembang-kuncupkan jari tangannya yang disambut gelak tawa hadirin, termasuk Gubernur Zaini Abdullah, Kapolda Husein Hamidi, Pangdam Iskandar Muda L Rudy Polandi, dan Kajati Raja Nafrizal.

Belum reda tawa hadirin, Farid melanjutkan bicaranya, “Jangan takut pada mereka, orang itu tidak ada apa-apanya. Bentak-bentak saja mereka, suaranya saja yang besar, tapi kalau kumis ada sama kita,” tambah Farid sambil memegang kumisnya. Ucapan Farid itu kembali membuat hadirin terbahak-bahak.

Bukan hanya soal pelat BL, Farid juga menyampaikan soal pelemparan bus yang selama ini kerap terjadi di perbatasan Aceh-Sumut. Meski sudah jarang terdengar ada bus yang dilempar, tapi hal itu tidak menutup kemungkinan akan kembali terjadi sewaktu-waktu nanti. “Buktinya sampai saat ini bus yang lewat ke sana semua pakai jaring kawat. Itu tandanya apa? Tandanya ancaman bahaya masih ada. Di dunia ini hanya bus di Aceh yang bagian kacanya pakai jaring kawat, bahkan di Afrika sana pun tidak ada yang seperti ini. Kita benar-benar dizalimi,” ujar Farid.

Atas dasar semua itu, Farid meminta Pemerintah Aceh serius menanggapi hal itu. Kata Farid, upaya yang dilakukan tak bisa hanya sekadar melakukan pertemuan dengan Gubernur dan Kapolda Sumut atau melaporkan hal ini kepada Kapolri sebagaimana telah dilakukan Kapolda Aceh. “Tapi ini harus disampaikan kepada Presiden atau Wakil Presiden RI. Ini masalah serius, jangan sampai orang Aceh selalu saja digitukan kalau ke sana (Medan), makanya pemerintah kita harus menindaklanjuti hal ini,” pungkas Farid saat diwawancarai ulang seusai acara kemarin.

Dalam pidatonya, Farid juga menyentil tentang ketergantungan Aceh pada Medan. Ia contohkan seperti telur ayam yang hingga saat ini masih dipasok dari Medan. Ia tak lupa mencontohkan urusan listrik di mana Aceh masih saja bergantung pada Medan, padahal Aceh punya mesin sendiri. “Inilah tugas kita, tugas profesor kita, doktor kita, pakar kita, lulusan Darussalam (Unsyiah dan UIN). Jangan selalu kita bergantung pada Medan, bek sampe meunyoe putoh jalan Banda Aceh-Medan, geutanyoe han tateumung rasa boh manok,” pungkas Farid Wajdi.

Di awal tausiahnya, Farid juga mengingatkan bahwa Masjid Jamik Kopelma Darussalam maupun Lapangan Tugu Darussalam bukanlah milik sepihak Unsyiah, melainkan milik bersama dengan UIN yang dulunya bernama IAIN Ar-Raniry.

Dalam acara silaturahmi itu, Rektor Unsyiah juga menyerahkan Unsyiah Award kepada Gubernur Zaini Abdullah, Kapolda Husein Hamidi, Pangdam L Rudy Polandi, dan Kajati Raja Nafrizal yang dinilai Unsyiah berprestasi dalam menyukseskan pembangunan Aceh di bidangnya masing-masing.

Dijelaskan Samsul Rizal, penghargaan itu diberikan setelah melalui serangkaian proses. Salah satunya melalui rapat senat di lingkungan Unsyiah. “Universitas ini memberi apresiasi yang tinggi kepada para alumninya serta kepada para tokoh yang dinilai telah berjasa sedemikian rupa untuk masyarakat Indonesia, sehingga hasil dan dampaknya dapat dinikmati oleh bangsa,” kata Samsul Rizal. (dan/sak/SerambiNews.com)