stat counter Distamben Nagan Gagalkan Penyelundupan 1 Ton Giok | Aceh Online Magazine

Distamben Nagan Gagalkan Penyelundupan 1 Ton Giok

Kadistamben Nagan Raya, Samsul Kamal ST memperlihatkan batu alam jenis Giok Black Jade (Batu Badar Besi) seberat satu ton yang berhasil digagalkan saat akan dikirim ke luar kabupaten setempat, Minggu (18/1). .SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Kadistamben Nagan Raya, Samsul Kamal ST memperlihatkan batu alam jenis Giok Black Jade (Batu Badar Besi) seberat satu ton yang berhasil digagalkan saat akan dikirim ke luar kabupaten setempat, Minggu (18/1). .SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Atjehcyber.com – Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Nagan Raya, Minggu (18/1) dilaporkan menggagalkan penyelundupan batu giok jenis badar besi (black jade) sebanyak satu ton di kawasan Simpang Peuet, Kecamatan Kuala. Sementara itu, Sabtu (17/1), Kadistamben Aceh, Said Ikhsan turun ke Kabupaten Aceh Jaya dan mengomentari kualitas beberapa jenis batu yang diburu oleh masyarakat setempat.

Dari Nagan Raya dilaporkan, satu ton batu giok yang berusaha diselundupkan sudah diamankan di Kantor Distamben Nagan Raya di Suka Makmue. “Pelaku tidak memiliki izin untuk membawa batu alam dari Nagan Raya ke luar daerah,” kata Kadistamben Nagan Raya, Samsul Kamal.

Menurut Samsul, batu alam yang sudah diamankan itu kabarnya akan dibawa ke Meulaboh, Aceh Barat. Namun tim Distamben tidak langsung percaya karena ditengarai akan diselundupkan ke luaer Aceh.

Dijelaskan Samsul, setiap batu alam/batu giok yang akan dibawa ke luar daerah harus memiliki izin resmi dari Pemkab Nagan Raya serta wajib memenuhi sejumlah ketentuan termasuk asal pen gambilan batu serta membayar retribusi/pajak daerah.

“Batu alam yang diperbolehkan dibawa ke luar kabupaten/luar daerah itu merupakan batu alam setengah jadi atau sudah menjadi batu yang sudah diasah dalam bentuk gelang, cincin, kalung, serta aneka aksesoris lainnya,” demikian Samsul Kamal.

Di tengah makin maraknya usaha rakyat yang dikelola secara mandiri, Kadistamben Aceh, Ir Said Ikhsan turun ke Kabupaten Aceh Jaya, Sabtu (17/1) melihat secara langsung masyarakat yang berburu batu di beberapa titik penggalian, antara lain di Desa Alue Apit, Cureh, Seumerah, dan Batee Kubu, Kecamatan Teunom.

Menurut Said Ikhsan, berdasarkan hasil penelitian terbaru pihaknya, terdapat sumber batu permata jenis cempaka yang bernilai ekonomi tinggi di Aceh Jaya. Tujuan kunjungannya ke empat desa yang menghasilkan batu cempaka madu, sunkist, levender, dan lainnya adalah untuk membuktikan hasil penelitian tim geologinya yang turun minggu lalu. Sedangkan menurut catatan Serambi, masyarakat Kecamatan Teunom sudah menemukan jenis-jenis batu tersebut jauh sebelum penelitian itu dilakukan.

Penelitian tim geologi Distamben Aceh, di Desa Alue Apit dan Cureh pada koordinat 95 derajat BT dan 04 derajat LU terdapat areal batu permata cempaka bernilai ekonomi tinggi seluas 1.340 hektare. Sedangkan di Desa Meurandeh dan Kubu pada koordinat 95 derajat BT dan 04 derajat LU terdapat lokasi batu permata cempaka seluas 1.100 hektare.

Ketua Tim Geologi Distamben Aceh, Djarot menyebutkan, batu cempaka adalah batu kuarsa berkristal sangat halus berbentuk ukuran kuarsa pipih dari pengendapan larutan silika pada suhu rendah yang menerobos rekahan batuan.

Batu cempaka madu yang memiliki sifat optik bergiwang atau katoyan adalah sifat optik antara cahaya pantul dengan cahaya bias berbentuk bidang cahaya. Kelasnya sama dengan batu permata kelas mewah dan bernilai tinggi dengan harga dari jutaan sampai ratusan juta rupiah sekilo.

Seorang perajin batu di Aceh Jaya, Midi kepada Serambi mengatakan, batu cempaka madu, levender, dan sunkist sudah mulai dipalsukan oleh perajin batu dari luar Aceh. Ciri-ciri batu permata cempaka madu, levender, dan sunkist palsu tidak berkilau seperti aslinya, warna batu di dalamnya agak buram, dan tidak bening bercahaya. “Karenanya kita ingatkan berhati-hati agar tidak terjebak dengan barang palsu,” kata Midi.

You must be logged in to post a comment Login