stat counter Gedung Megah di Tengah Hutan | Aceh Online Magazine

Gedung Megah di Tengah Hutan

MESIN press sabut kelapa bantuan tahun 2011 senilai Rp 800 juta belum difungsikan. Saat ini mesin tersebut terletak di pinggir jalan kawasan Desa Paya Meuneng, Peusangan Kabupaten Bireuen.SERAMBI/YUSMANDIN

MESIN press sabut kelapa bantuan tahun 2011 senilai Rp 800 juta belum difungsikan. Saat ini mesin tersebut terletak di pinggir jalan kawasan Desa Paya Meuneng, Peusangan Kabupaten Bireuen.SERAMBI/YUSMANDIN

Atjehcyber.com – Setelah menyusuri jalan setapak sekitar 500 meter, atap gedung yang megah pun terlihat. Namanya gedung Rintisan Sekolah Bertaraf  Internasional (RSBI). Letaknya di belakang permukiman penduduk Desa Ketapang Indah, Singkil Utara, Aceh Singkil.

Butuh waktu sekitar 45 menit bagi wartawan Serambi ‘merayap’ untuk  mencapai gedung berstandar internasional ini, karena harus menyingkirkan rumput dan tanaman liar di sisi kiri-kanan jalan yang durinya tajam-tajam. Sedangkan kendaraan harus ditinggal jauh di perumahan warga. Kawanan burung langsung beterbangan menyambut  Serambi saat mendekati bangunan bikinan tahun 2009 itu pada Sabtu (21/2) pagi.

Dari jalan raya Singkil-Rimo, bangunan ini sejatinya tak jauh letaknya. Mungkin tak sampai satu kilometer. Namun, semak belukar diselingi onak duri menyesaki jalan setapak, sehingga perlu usaha ekstra untuk menerobos ke sana.

Di kompleks RSBI, pohon liar menjulang tampak menutup bangunan yang terdiri atas empat ruang belajar, kantor, mushala serta rumah dinas guru. Sebagian kaca jendela sudah pacah. Di antara bangunan di kompleks ini, rumah dinas gurulah yang sangat tertutup, karena ilalang dan pohon-pohon liar tumbuh setinggi bangunan itu sendiri.

Bertahun-tahun proyek yang bernilai sekira Rp 6 miliar ini dibiarkan mubazir. Entah apa sebabnya. Ironisnya, di sisi lain, ternyata masih ada sekolah di Aceh Singkil yang kekurangan ruang belajar.

Berdasarkan catatan Serambi, pada tahun 2014 saja, sedikitnya ada enam sekolah dasar (SD) yang harus berbagi ruang belajar. Satu ruangan disekat untuk dua rombongan belajar. Yang lebih ironis lagi, ada murid yang masih belajar di bawah pohon sawit, yakni murid Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Simpang Kanan. “Sudah hampir setahun ini siswa belajar di bawah pohon sawit. Kadang di ruang kepala sekolah dan guru, karena kekurangan kelas,” kata Kepala MIS Simpang Kanan, Restu Saputra.

Bukan cuma ini. Ada beberapa proyek lain yang dibiarkan terbengkalai di Bumi Syekh Abdurrauf ini. Bangunan bernilai belasan miliar rupiah  yang belum termanfaatkan, antara lain, gedung Islamic Center di kawasan Lae Petal, Kecamatan Suro yang dibangun sejak tahun 2009. Proyek multiyears (bertahun jamak) ini merupakan mimpi Bupati Aceh Singkil yang pertama, Makmursyah Putra sebelum meninggal. Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berucap bahwa pusat kajian Islam ini  harus berfungsi sebelum dia mengakhiri masa tugas memimpin Bumi Sekata Sepekat ini. Sayang, harapannya belum kesampaian, bahkan  bertahun-tahun kemudian setelah ia meninggal pada 15 Oktober 2011.

Jika Anda memotretnya dari pinggir jalan Singkil-Subulussalam, gedung Islamic Center ini terlihat indah dengan belahan sungai di antara bangunan beratap kubah. Bangunan utamanya cukup luas, terletak di bagian depan. Di belakangnya, ada bangunan untuk guru yang sempat difungsikan sebagai mes pekerja. Di pojok kanan, ada masjid yang dibangun dua lantai. Kompleks ini juga telah dilengkapi pagar pengaman. Halamannya beraspal. Namun, cat bangunan terlihat mulai mengelupas di beberapa bagian, sejalan dengan perjalanan waktu.  Meski belum dimanfaatkan, renovasi sempat dilakukan, khususnya setelah gempa menggoyang Singkil beberapa waktu lalu.

Syukurnya, terkait bangunan RSBI dimaksud, diam-diam ternyata Bupati Aceh Singkil, Safriadi SH mengaku sudah punya rencana untuk memanfaatkan bangunan ini. Seperti halnya Makmur Syahputra, Safriadi pun berjanji untuk segera bisa memanfaatkannya. “Gedung RSBI tinggal dilengkapi saja. Tahun ini kami upayakan dimanfaatkan menjadi SMP Singkil Utara karena yang ada sekarang sudah kelebihan siswa. Kami sedang urus izinnya ke Dinas Pendidikan Aceh,” kata Safriadi.

Terhdap bangunan Islamic Center pun Bupati Safiadi alias Oyon mengaku sudah punya rencana. Menurutnya, tahun 2016 bangunan tersebut akan difungsikan menjadi pesantren terpadu.

Menyukseskan program tersebut, pada tahun ini dibangun pula 12 ruang tempat belajar santri. “Enam lokal oleh Badan Dayah Aceh, enam lokal lagi dari APBK. Kalau tahun ini dibangun lokal, maka tahun depan sudah bisa dimanfaatkan menjadi pesantren terpadu,” ujarnya.  Begitupun, tak ada yang bisa menjamin bahwa proyek bernilai miliaran rupiah ini akan segera bisa dimanfaatkan, seperti juga sulitnya terpenuhi janji yang pernah diucapkan Makmur Syahputra semasa hidupnya.

You must be logged in to post a comment Login