Home Nanggroe Ini Alasan Anggota DPRA Bawa Istri Kunker ke AS

Ini Alasan Anggota DPRA Bawa Istri Kunker ke AS

177
0
SHARE

GEDUNG-DPRA

ATJEHCYBER.com – Sebanyak 9 anggota Komisi I DPRA, hingga Rabu (27/7) masih di Amerika Serikat (AS) melaksanakan berbagai agenda perjalanan mereka ke luar negeri yang memicu berbagai sorotan, kritikan, bahkan kecaman. Perjalanan ke luar negeri ini juga dilakukan Komisi II (Australia), Komisi III (Swiss), Komisi IV (Maroko), dan Komisi VII (Spanyol).

Khusus Komisi I, Serambi berhasil menghubungi salah seorang anggota rombongan yaitu H Musannif melalui audio call WhatsApp, Rabu (27/7) pukul 17.19 WIB atau pukul 05.19 Waktu Amerika. Saat itu Musannif dan rombongan sedang di sebuah hotel di Kota Providence, Negara Bagian Rhode Island.

“Sebenarnya anggota Komisi I DPRA ke AS 10 orang namun Pak Djasmi Has tidak berangkat karena tidak mendapat izin dari partainya,” kata Musannif, anggota DPRA dari PPP.

Ditanya apakah pihaknya mengetahui tentang gencarnya sorotan terhadap kunker ke luar negeri anggota DPRA, menurut Musannif mereka mengikuti semua itu. “Kami tahu dan mendengar semua kritikan serta hujatan yang ditujukan kepada kami. Kami dikatakan jalan-jalan, plesiran, dan berbagai tudingan negatif lainnya. Sampai ke foto-foto kami pun mendapat sorotan tajam. Kami dibilang asyik foto-foto selfie,” ujar Musannif. “Saat sudah pulang nanti akan kami jelaskan semua ke publik,” lanjutnya.

Mengenai foto termasuk foto selfie, Musannif secara khusus menjelaskan, ketika bertemu dengan tuan rumah atau dengan pihak Kedubes RI, selalu saja diajak foto-foto dan langsung dishare ke Twitter resmi Dubes Indonesia. “Bagaimana mungkin ketika kita datang ke tempat orang tidak ada foto sama sekali,” kata Musannif menanggapi banyaknya komentar miring terhadap foto bersama maupun foto selfie anggota rombongan.

Saat dimintai konfirmasi terhadap laporan yang menyebutkan bahwa ada sejumlah anggota DPRA dari Komisi I yang ikut membawa istri kunker ke Amerika Serikat, Musannif membenarkan informasi tersebut.

“Ya, di antara kami (Komisi I) ada empat orang yang membawa istri dengan biaya pribadi,” kata Musannif.

Menurut Musannif, anggota DPRA dari Komisi I yang membawa istri, selain dirinya juga Abdullah Saleh, Azhari Cage, dan Buhari Selian. Ditanya mengapa harus bawa istri, Musannif menjelaskan, “Ya, kadang-kadang kita nggak siap untuk jalan sendiri karena perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan. Kalau alasan saya membawa istri, palig tidak saya punya kawan kalau capek-capek.”

Musannif mengaku bisa memahami munculnya berbagai reaksi termasuk hujatan terhadap mereka. Namun, kata Musannif, Komisi I sudah menyiapkan ekpose perjalanan termasuk hasil yang dicapai selama kunker di AS.

Musannif mencontohkan, Komisi I DPRA melakukan pertemuan dengan Dekan Fakultas Kemaritiman University of Rhode Island (URI) dan secara kebetulan ada beberapa mahasiswa asal Indonesia yang sedang ambil S2 dan S3 di sana.

“Kami juga membawa surat dari Rektor Unimal Lhokseumawe agar URI melakukan kerja sama dengan Unimal karena selama ini kerja sama sudah terjalin dengan ITB, IPB, Unsyiah, dan UTU Aceh Barat,” ungkapnya. Musannif menambahkan, sambutan pihak URI sangat positif, bahkan URI menawarkan kerja sama konkrit dengan Aceh kepada Komisi I DPRA.

URI merupakan salah satu kampus di AS yang dikenal memiliki keunggulan dan keahlian di bidang kelautan dan perikanan. Bahkan sampai saat ini pihak Kementerian KKP telah mengirim puluhan staf Kementerian melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di URI.

Dalam kunjungan ke USA, Komisi I DPRA didampingi Mr Brook Williams Ross, Founder and Manager Indonesia Education Partnertship. Mereka menggelar sejumlah pertemuan dengan kampus maupun otoritas lainnya di USA.

Pertemuan dengan pihak URI yang berlangsung Selasa 26 Juli 2016, hadir Wakil Rektor URI, Mrs Laura dan Mrs Nancy Stricklyn selaku Ketua Program Kemitraan dan Kerja sama Internasional URI serta Dekan Faculty of Environment and Life Sciences, Prof Jhon Kirby.

Sebuah komitmen disampaikan oleh kedua belah pihak untuk segera membangun kerja sama yang lebih konkrit dengan URI terkait isu hukum laut, perikanan dan kelautan, termasuk pendidikan S2 dan S3 serta kerja sama riset dan pendidikan jangka pendek tentang isu-isu (crush program), misalnya peningkatan kapasitas Kelembagaan KKR Aceh yang baru-baru ini terbentuk. “Untuk mengkonkritkan kerja sama tersebut, Wakil Rektor URI berjanji akan mengirimkan timnya ke Aceh pada Oktober 2016,” demikian Musannif.(nas/SerambiNews.com)