stat counter Kembali Berulah, Sekolompok Anak Punk di Langsa Menyerang WH | Aceh Online Magazine

Kembali Berulah, Sekolompok Anak Punk di Langsa Menyerang WH

Ilustrasi

Ilustrasi

ATJEHCYBER.com – Kelompok anak jalanan dalam wujud kaum punk yang selama ini terbiarkan di Kota Langsa, Selasa (12/4) malam kembali membuat ulah. Kali ini mereka nekat menyerang anggota Polisi Wilyatul Hisbah (WH) ketika melakukan pengawasan (patroli-red) di Taman Bambu Runcing sekitar Lapangan Merdeka Langsa.

Akibat penyerangan itu seorang petugas WH Edy Saputra, mengalami luka di kepala terkena lemparan batu dari anak punk. Sementara dua anak punk diduga sebagai otak pelaku penyerangan, saat itu juga berhasil ditangkap dan sudah diserahkan ke pihak berwajib Polres Langsa.

Kepala Dinas Syariat Islam (DSI) Langsa, Drs H Ibrahim Latif MM, Rabu (13/4) menyebutkan, karena maraknya aksi muda-mudi (remaja-red) bercampur baur dan diduga khalwat di Taman Bambu Runcing, malam itu sekitar pukul 23.30 WIB satu regu WH dikerahkan ke lokasi melakukan penertiban.

Namun upaya penertiban oleh petugas itu mendapat penentangan dari segerom bolan anak punk. Mereka juga dibantu sejumlah pemuda yang langsung menyerang petugas WH. Tak urung terjadi baku pukul antara kaum punk dengan petugas penertiban.

Pertarungan antara petugas WH dengan segeromban anak punk sesaat kemudian dapat dileraikan oleh masyarat setempat. Tapi seorang anggota Edi Saputra terluka kena lembaran batu, kepalanya pecah dan malam itu jaga di bawa lari ke UGD RSUD Langsa untuk mendapatkan penanganan medis.

Seorang lainnya petugas WH Abdul Rajak meski terkena pukulan, namun tidak mengalami luka-luka. Sedangkan dua orang anak punk berhasil ditangkap, dan malam itu juga diserahkan ke pihak berwajib Polres Langsa guna diproses hukum. Sedangkan sjeumlah anak punk dan pemuda lain yang ikut menyerang WH berhasil kabur dari lokasi.

Dua anak punk diduga sebagai otak penyerangan personel WH itu adalah Ridhwan Alias Opung (28) tercatat sebagai warga Gampong Rantau Panjang Bayeun, Aceh Timur, dan Samsul Bahri (23) juga tercatat di indetitasnya sebagai warga Bayeun, Aceh Timur.

Menurut Ibrahim Latif, kasus tersebut sudah ditangani oleh Polres Langsa dan pelaku penyerangan dapat diproses hukum. DSI dan masyarakat setempat berharap agar sama-sama menjaga Taman Bambu Runcing, agar tidak dijadikan sebagai tempat mesum. “Kita berharap semua komponen merasa memiliki Kota Langsa, maka mari kita jaga kota ini dari perbuatan maksiat. Apalagi taman ini dibangun pemerintah untuk kegiatan postif, bukan sebaliknya. Janganlah kita berpikir memberantas maksiat adalah tugas Dinas Syariat dan WH saja, tetapi tugas dan kewajiban kita bersama,” imbuh Ibrahim Latif.

Informasi dihimpun Prohaba, sejak dibangunnya meunasah atau mushalla di dalam komplek Taman Bambu Runcing Langsa yang berdekatan dengan Lapangan Merdeka, fasilitas umum itu ditengarai sering dijadikan sebagai tempat mangkal atau bermalam (sarang-red) anak-anak punk tersebut.

Namun hal itu terkesan dibiarkan pihak -pihak terkait, seolah-olah mushalla ini dibangun untuk keperluan anak punk, padahal musala sebagai tempat ibadah. Keberadaan punk sangat meresahkan masyarakat terutama di pusat kota, karena selain berpenampilan jorok, mereka juga terkesan mempalak warga. “Punk ini merupakan aliran kelompok perusak moral Islam dari negara Yahudi yang harus diberantas keberadaannya, jangan dibiarkan kelompok ini berkembang di Aceh,” ujar seorang warga di Langsa.(zb/Prohaba.co)