Home Nanggroe Mengenang Kisah Pilu dari Teluk Balohan Sabang

Mengenang Kisah Pilu dari Teluk Balohan Sabang

1104
0
SHARE

KMP Gurita (c) Serambi
KMP Gurita (c) Serambi

Atjehcyber.com – Berlayar terseok-seok membelah laut di kegelapan malam, KMP (Kapal Motor Penyeberangan) Gurita memang telah uzur. Produksi Jepang pada 1970, sudah 36 tahun berenang membuat Gurita kerap terbatuk-batuk di tengah lautan.

Malam itu, Gurita berangkat pukul 18.45 dari Pelabuhan Malahayati, Aceh Besar, diperkirakan tiba ke Balohan Sabang pukul 21.00 WIB. Sanak keluarga menanti. Mereka melihat sinar dari lampu kapal di kejauhan, pertanda tak lama lagi akan merapat.

Di tengah lautan, kapal mulai terseok kelelahan dengan muatan yang berlebihan. Dari kapasitas 210 orang, ternyata disesaki 378 orang (282 orang warga Sabang).

Ini belum termasuk muatan barang yang 50 ton, meliputi 10 ton semen, 8 ton bahan bakar, 15 ton tiang beton listrik, bahan sandang-pangan kebutuhan masyarakat Sabang serta 12 kendaraan roda empat dan 16 roda dua.

Maklum, penumpang memang berjejal lantaran akan menyambut ramadhan tiga hari lagi, yaitu 22 Januari 1996. Para warga Sabang ingin menyambut puasa di kampung halamannya. Maka sejak sepekan terakhir, ramai penumpang mengantre di dermaga Malahayati.

Pada 19 Januari 1996, Gurita yang memang sudah uzur itu mulai sangat kelelahan. Ia mulai tak kuat menanggung beban berlebihan. Apalagi pada malam itu ada gangguan cuaca. Nahkoda tak dapat menguasai kapal yang oleng ke kiri dan ke kanan. Gurita tak mampu melawan badai.

Sekitar pukul 20.30, para penjemput melihat keanehan. Lampu Gurita yang semula terlihat menyenter punggung laut, tiba-tiba padam. Gelap. Saat itu kapal berada sekitar 6 mil laut dari Teluk Balohan. Pejabat pelabuhan Sabang menyatakan kontak dengan Gurita terputus. Kepanikan pun terjadi.

Hingga akhirnya seorang penduduk Balohan, Syahril –waktu itu berusia 22 tahun– yang menumpang Kapal Gurita ditemukan terdampar di Teluk Keunake. Dari dialah cerita tenggalam kapal bermula. Ia selamat setelah berenang hingga mencapai daratan.

Betapa pilu ia mendengar jerit tangis yang ditelan gelombang dan badai. Mereka tenggelam dalam lautan di kegelapan malam dan riuhnya badai.

Pencarian pun dilakukan. Data terakhir tentang musibah kapal ini hanya 40 orang yang dinyatakan selamat. Selebihnya, 54 orang ditemukan meninggal, dan 284 orang dinyatakan hilang bersama Gurita yang tidak berhasil di angkat dari dasar laut hingga kini.

Ini adalah satu musibah besar di Aceh. Maut lautan yang terjadi 19 tahun silam itu hampir tak pernah dikenang.