stat counter Mi Produksi Peunayong Positif Memakai Formalin dan Boraks | Aceh Online Magazine

Mi Produksi Peunayong Positif Memakai Formalin dan Boraks

Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) dan Disperindagkop Banda Aceh mengisi dan menyita temuan pangan kedaluwarsa di salah satu supermarket di kawasan Kota Banda Aceh, Selasa (7/6).SERAMBI/MASYITAH RIVAN

Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) dan Disperindagkop Banda Aceh mengisi dan menyita temuan pangan kedaluwarsa di salah satu supermarket di kawasan Kota Banda Aceh, Selasa (7/6).SERAMBI/MASYITAH RIVAN

ATJEHCYBER.com – Delapan dari 11 usaha yang memproduksi mi di Peunayong, Banda Aceh, yang diperiksa oleh petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Banda Aceh, delapan diantaranya positif menggunakan zat berbahaya bagi kesehatan manusia jenis formalin dan boraks.

“Temuan mi yang mengandung formalin dan boraks tahun ini yang paling tinggi temuannya adalah di produsen mi kawasan Lorong Pisang, Peunayong, Banda Aceh. Secara umum kita menemukan kandungan formalin, tetapi terkadang ada yang menggunakan kedua-dua zat berbahaya itu, formalin dan boraks,” ungkap Kepala BBPOM di Banda Aceh, Dra Sjamsuliani Apt MM kepada wartawan usai inspeksi mendadak (sidak) pasar yang dilakukan BBPOM, Disperindagkop Banda Aceh, dan Dinkes Banda Aceh, Selasa (7/6).

Ia menyebutkan, temuan mi positif mengandung formalin dan boraks adalah temuan akhir Mei, pemeriksaan BBPOM menjelang Ramadhan. Menurutnya, terkadang produsen mi itu mereka sadar penggunaan formalin dan boraks berbahaya, tetapi mereka tetap memakainya.

“Temuan ini sudah kami laporkan pada Wali Kota Banda Aceh. Secara hukum produsen mi ini dapat dipidanakan berdasarkan Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 Pasal 184, ancaman empat tahun pidana kurungan dan denda Rp 4 miliar,” sebut Sjamsuliani.

Ditambahkan Sjamsuliani, masih di kawasan Peunayong, pihaknya juga masih menemukan tiga produsen mi yang hasilnya tidak memakai sama sekali boraks dan formalin, yaitu produsen Mi NAD, Mi Sardani, dan Mi Bang Bei.

Sementara terkait tindakan untuk para produsen mi yang menggunakan formalin dan boraks di kawasan itu, Sjamsuliani mengatakan, pihaknya akan mempelajarinya bersama tim. “Kalau memang nakal dan ada indikasi kesengajaan, ini mengarah ke pidana. Karena kami sudah melakukan pembinaan beberapa kali,” ujarnya.

Sjamsuliani memaparkan, sedangkan untuk di kawasan Lambaro Ingin Jaya Aceh Besar temuan tahun ini menurun dibandingkan tahun 2015, dimana pada tahun lalu di Lambaro dari 11 sarana, enam yang positif menggunakan zat berbahaya, namun sekarang dari enam sarana yang memproduksi mi kuning di Lambaro, dua sarana yang positif menggunakan formalin dan boraks.

“Artinya, produsen mi yang menggunakan formalin atau boraks di Lambaro lambat laun akan berubah atau tutup usahanya karena masyarakat sudah cerdas, pasti akan meninggalkan produsen mi yang memakai zat berbahaya,” terang Sjamsuliani.

Pada bagian lain, Selasa kemarin, BBPOM juga menyita ratusan makanan kedaluwarsa dan rusak yang ditemui dari beberapa toko retail dan supermarket di kawasan Banda Aceh. Dari hasil monitoring yang dilakukan BBPOM untuk empat kabupaten/kota, masih menemukan 226 item pangan yang kedaluwarsa dan rusak.

“Yang kita temukan itu berupa susu formula, MP-ASI, makanan ringan, mi instan, biskuit, dan bumbu instan,” rinci Sjamsuliani didampingi Kepala Bidang Pemdik BBPOM, Drs Hasbi Apt MM kemarin. Menurutnya, monitoring yang dilakukan sudah berjalan sejak 23 Mei lalu hingga 7 Juni kemarin.

“Bulan Ramadhan pastinya konsumsi masyarakat Aceh meningkat daripada biasanya, makanya kita berharap, masyarakat harus lebih selektif lagi dan cerdas mengamati produk yang ingin dibeli,” ujar Hasbi. BBPOM juga menemukan pangan tanpa izin edar berupa permen hacks produksi Malaysia, apollo kek Malaysia, AMDK zaira semuanya sebanyak 17 item, kosmetika tanpa izin edar sebanyak 41 item, obat daftar G 4 item, dan obat tradisional tanpa izin edar 7 item.(avi/SerambiNews.com)