Home Nanggroe Miris, 12 Tahun Menjadi Guru Honorer, Maryama Hanya Digaji Rp. 200.000/bulan

Miris, 12 Tahun Menjadi Guru Honorer, Maryama Hanya Digaji Rp. 200.000/bulan

6
0
SHARE

Maryama
Maryama

ATJEHCYBER.com – Menjadi seorang guru bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi jika hanya honorer. Dunia pendidikan Indonesia begitu miris bila dilihat dari gaji para guru honorer, masih sangat jauh dari kata layak.

Sebutan legendaris “pahlawan tanda jasa” memang sangat pantas disematkan di atas pundakpara guru. Mereka tulus mengabdi untuk negeri bukan semata karena kepentingan pribadi. Hal tersebut di alami oleh seorang guru SMA Bina Bangsa, Blang Bintang, Aceh Besar.

Inilah potret kehidupan seorang guru honorer di negari seribu pulau, apalagi yang mengabdi di Provinsi terpencil seperti Aceh. Digaji dengan nominal yang sangat tidak pantas untuk disebut jika dibandingkan dengan air keringat perjuangan dan pengorbanan mereka saat mengajari anak negeri.

Jika saja para guru honorer mogok mengajar karena “upah” yang tidak manusiawi, entah apa jadinya pendidikan di negeri kebanggaan ini. Kisah Maryama, seorang guru honorer di daerah terpencil dapat mewakili kisah para honorer lain di seluruh Indonesia.

Terik panas begitu menggoda hari itu, sekitar pukul 11.30 WIB usai pertemuan segenap guru dengan Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat ( DPR) Aceh.

Disaat perut mulai keroncongan seorang wanita usia setengah abad duduk diantara anak tangga gedung megah DPR Aceh bersama rekan-rekan guru yang ikut dalam aksi unjuk rasa menuntut tuntas permasalah guru honorer K-2 di Aceh. Selasa 20 September 2016.

Dengan sangat hati-hati seorang wartawan dari klikkabar.com menghampirinya supaya tidak tersinggung perasaan wanita tersebut. Raut tulus terpancar dari wajah Maryama saat kami menyapa untuk diwawancarai.

“Saya mengajar sudah sangat lama, sejak tahun 1994”, ujar wanita berkulit sawo matang dengan tatapan ramahnya.

Dulunya tahun 1994-2002 sebagai guru honorer di MTS Sawang, kala itu konflik sedang melanda Aceh. Kemudian tahun 2002-2016 mulai mengajar di SMA Bina Bangsa, Blang Bintang.

Namun tahun 2004 baru diakui oleh Dinas Pendidikan meskipun belum berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), sehingga punya SK resmi dari Dinas untuk mengajar walaupun honorer.

“12 tahun sudah menjadi guru honorer sejak 2004 silam”, paparnya dengan nada lemah dan bergetar.

Menjadi seorang guru bukan seperti membalikkan telapak tangan, karena sebenarnya sangat melelahkan. Namun jika  dijalankan dengan ikhlas semua itu akan hilang dan berubah menjadi sebuah kebahagiaan.

Dibalik kesedihan tentunya ada kebahagiaan yang tak terkira, mendapatkan senyuman ceria dari anak didik ketika mengajar merupakan suatu hal yang sangat berharga bagi seorang guru.

Apalagi dukungan dari keluarga untuk mengajar juga sangat besar, terutama suami tercinta. Mengajar guna melanjutkan harapan-harapan anak bangsa, guru adalah penolong untuk mencerdaskan mereka.

“Hal yang paling menyedihkan selama menjadi seorang guru honorer adalah ketika hendak berangkat mengajar tidak punya minyak kereta, namun saya usahakan agar tetap bisa mengajar murid-murid tercinta, lagipula jarak rumah ke sekolah terbilang jauh”,  tuturnya dengan mata berkaca.

Berapalah gaji para guru honorer, apalagi dikala suami sudah tidak bekerja lagi. Sambil berdiri, Maryama sedikit berkisah tentang suaminya yang sudah sakit karena saat konflik dulu menjadi salah satu korban, dan sempat beberapa kali kepalanya dipukuli sehingga menyebabkan fungsinya tidak normal lagi.

Menjadi seorang guru honorer yang juga sebagai tulang punggung keluarga adalah hal paling berat. Bagaimana tidak, dengan gaji Rp. 200.000 per bulan harus menghidupi suami, dan tiga orang buah hati tersayang yang sedang mengenyam pendidikan di bangku kuliah, SMA juga SMP.  Jika suami sehat ia akan bekerja, namun tidak maksimal seperti dulu.

“Kadang air mata saya jatuh berderai”, ungkap wanita tersebut dengan senyuman yang penuh dengan kesedihan.

Saat ditanyai apakah gaji honorer tersebut cukup, Maryama mengaku sungguh tidak mencukupi.  Sehingga ia harus bekerja sampingan lain, seperti terima pasien untuk urut patah.

“Saya harus menerima pasien terkilir di rumah yang beralamat di Batoh guna menutupi kebutuhan sehari-hari”, tutur Maryama wanita penuh ikhlas yang sudah berusia 52 tahun itu.

Selaku salah satu guru honorer yang sudah terbilang lama, Maryama sangat berharap supaya bisa lewat K-2 serta dapat SK, NIP dan menjadi PNS. Begitupun harapan serupa bagi kawan-kawan honorer lain.

Sudah hampir seperempat abad usia Maryama dihabiskan untuk mengabdi sebagai seorang guru, namun belum juga mendapatkan kelayakan disegi “upah”. Jika mengingat perjuangan seorang guru sungguh sangat menyedihkan, apalagi jika ingat kisah perjuangan saat masa konflik dulu harus berjalan diantara dentuman senjata dan ledakan granat untuk mengajar.

“Bahkan sempat terkena percikan ledakan,namun itu bukan sebuah alasan baginya untuk mundur dari mengajar generasi muda yang penuh mimpi”. “Mengajar harus dengan penuh keihlasan”, demikian Maryama.(Klikkabar)