stat counter Pemkab Nagan Bangun Masjid dari Giok | Aceh Online Magazine

Pemkab Nagan Bangun Masjid dari Giok

Masyarakat Gampong Krueng Isep, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Selasa (17/2) sore menyerahkan sejumlah peralatan pembelah batu giok yang ditemukan warga di kawasan hutan, guna selanjutnya diserahkan kepada Kapolres Nagan Raya AKBP Agus Andrianto SIK. SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Masyarakat Gampong Krueng Isep, Kecamatan Beutong, Nagan Raya, Selasa (17/2) sore menyerahkan sejumlah peralatan pembelah batu giok yang ditemukan warga di kawasan hutan, guna selanjutnya diserahkan kepada Kapolres Nagan Raya AKBP Agus Andrianto SIK. SERAMBI/DEDI ISKANDAR

Atjehcyber.com – Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dalam tahun ini akan memulai pembangunan Masjid Agung Baitul A’la, dengan menggunakan material batu Giok yang diambil di kawasan Beutong. Luas areal pen gambilan batu giok untuk pembangunan masjid itu tersebar di areal seluas 4.000 hektare.

“Pembangunan masjid menggunakan material batu giok ini diharapkan menjadi ikon Nagan Raya,” kata Bupati Nagan Raya, Drs HT Zulkarnaini, Selasa (17/2).

Ia menjelaskan, material batu giok untuk membangun masjid itu di ambil di luar areal hutan lindung, agar tidak merusak kawasan konservasi, dan mencegah kerusakan lingkungan di lokasi pen gambilan batu alam tersebut.

Aktivitas pen gambilan batu giok untuk pembangunan masjid itu juga akan dilakukan setelah berakhirnya moratorium (larangan sementara) pen gambilan batu giok di wilayah ini, yang diberlakukan sejak 5 Februari lalu hingga 8 Maret 2015 mendatang.

Ia menerangkan, moratorium ini diberlakukan karena pen gambilan batu giok selama ini tak terkendali, dan menyebabkan areal hutan di kawasan itu rusak parah.

Ke depan, Pemkab Nagan Raya akan membentuk kelompok masyarakat sebagai pencari batu alam, dengan masing-masing kelompok beranggotakan 30 orang. Kelompok tersebut akan diberi izin resmi dari Pemkab yang juga menetapkan areal mana yang diperbolehkan sebagai lokasi penambangan batu alam, dan syarat-syarat lainnya demi mencegah kerusakan kawasan hutan

Ia berharap, warga yang biasa mencari batu giok, tidak resah dengan kebijakan moratorium ini. Karena kebijakan ini merupakan upaya Pemkab Nagan Raya untuk mengatur agar pemanfaatan potensi batu giok, dilakukan secara lebih tertib.

“Dari survei yang telah dilakukan, terdapat 4.000 hektare lahan di wilayah ini yang menyimpan kandungan batu giok yang sangat besar. Potensi alam ini akan digarap bersama masyarakat, namun dengan cara-cara yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.

Muspida Nagan Raya yang terdiri dari Dandim 0116 Nagan Raya, Letkol Arm Erland Hendriatna, Kapolres AKBP Agus Andrianto SIK, dan Kejari Suka Makmue, Ali Saifuddin, mengaku siap mendukung dan men gamankan kebijakan moratorium yang telah diputuskan oleh Pemkab bersama Muspida tersebut.

Bupati Nagan Raya ini mengungkapkan, karena potensi batu giok terbesar berada di kawasan Beutong, maka daerah ini ke depan akan dijadikan sebagai pusat perdagangan dan penjualan batu alam, termasuk hasil yang telah diolah. “Hal ini dilakukan guna membantu meningkatkan pendapatan masyarakat, menambah lapangan kerja, serta meningkatkan pembangunan dan menambah pendapatan asli daerah (PAD),” ujarnya.

Sementara itu, batu giok seberat 20 ton yang diperebutkan warga dan  saat ini masih berada di dalam hutan, rencananya akan diangkut oleh Pemkab Nagan Raya, dengan alasan untuk diamankan demi menghindari konflik yang lebih besar. “Batu tersebut akan kami ambil untuk selanjutnya diamankan, karena tidak mungkin batu itu diamankan terus-menerus di dalam hutan,” katanya.

You must be logged in to post a comment Login