stat counter Penambang Giok Merajalela, 4 Kabupaten Terancam Longsor | Aceh Online Magazine

Penambang Giok Merajalela, 4 Kabupaten Terancam Longsor

PENGGALI BATU. Yusma warga desa Alu Raya menggali lubang untuk mencari batu akik di pergunungan Alu Raya, Aceh Jaya, Minggu (4/1).Rakyat Aceh/Zulkarnaini

PENGGALI BATU. Yusma warga desa Alu Raya menggali lubang untuk mencari batu akik di pergunungan Alu Raya, Aceh Jaya, Minggu (4/1).Rakyat Aceh/Zulkarnaini

Atjehcyber.com – Aceh merupakan sebuah provinsi di Indonesia, memiliki Jumlah penduduk mencapai sekitar 4.500.000 jiwa, provinsi ini dikenal dengan salah satu daerah yang menjunjung tinggi nilai syariat.

Daerah ini dari dahulu hingga sekarang memang mengandung sumber daya alam luar biasa, baik di gunung, sungai, laut maupun didalam tanah menjadi pusat perhatian mata dunia.

Banyak kekayaaan alam dimiliki Aceh salah satunya batu akik atau akrabnya dikenal dengan sebutan Giok Aceh. Karena Giok ini, Aceh kini menjadi pembicaraan hangat di kalangan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Harga batu giok di Aceh kian hari kian melambung, seiring permintaan terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir ini.
Untuk satu kilogram saja, harganya sudah seperti emas, mencapai jutaan rupiah, seiring belum adanya regulasi dari pemerintah, sehingga harganya tak ada standar di pasar bebas.

Akibatnya, penambang pun merajalela mengeruk giok di Aceh , sehingga terkesan tanpa aturan dan tidak memikirkan akibat yang dirasakan masyarakat sekitar dikemudian hari.

Hal tersebut, disebabkan demam batu giok di daerah syariat ini, yang telah merasuki hampir semua kalangan. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, pengusaha batu tersebutpun sudah lupa atas pelestarian alam, yang mengakibatkan kerusakan alam bersekala besar.

Hal ini diungkapkan Menurut data Walhi, daerah penghasil batu giok yang melakukan penambangan secara berlebihan, mengakibatkan rusak alam secara berkelanjutan, hal ini terjadi pada empat Kabupaten di Aceh, yakni Nagan raya, Aceh Besar, Pidie dan Aceh Tengah.

“Empat daerah kita lihat sudah terjadi lahan tambang batu giok berskala besar. Akibatnya struktur tanah akan tidak padat lagi, sehingga bencana alam akan datang, seperti banjir dan tanah longsor, dengan skala lebih besar,” sebut Direktur Walhi Aceh M Nur kepada Rakyat Aceh, Kamis (5/2) di Banda Aceh.

Dia juga menyebutkan, para pencari batu giok di Aceh, saat ini sudah imbang dengan penambang ataupun galian lainnya yang merusak alam.

“Kita liat aja, mereka mengambil batu di atas gunung, pada kawasan hutan lindung dan produksi sebagai lahan eksplorasi maupun operasi, apa yang akan terjadi, jika kita kaji secara ilmu bencana ekologi di Aceh pada tahun 2014, banjir longsor datang karena kerusakan alam hingga saat ini belum di koservasi lagi,” sebutnya.

Di juga menyatakan, jika pemerintah tidak melakukan langkah serius dengan hal ini, maka akan merugikan masyarakat secara banyak lagi, dibandingkan dengan pendapatan dari hasil bumi ini.

“Pemerintah harus tanggap dengan kejadian ini, jangan biarkan penggalian pada gunung secara berkelebihan, jika emang merugikan masyarakat sekitar,”sebutnya lagi.

Dia juga mengukapkan, saat ini Aceh dalam bahaya besar, akan datang bencana alam lebih besar lagi, jika penggalian pada stuktur bumi terus terjadi.

“Satu tahun kedepan, musim hujan akan datang dan masyarakat akan menderita jika pengalian ini terus terjadi dan makin menjadi,” sebutnya.

Sementara, menanggapi persoalan ini Ketua Gabungan Pengusaha Batu Aceh Teungku Abang, menyatakan penambang batu cincin di Aceh masih secara tradisional, tidak merusak lingkungan, pasal petambang batu akik di Aceh mengambil batu tidak secara berlebihan.

Menurutnya, data yang dipersentasikan Walhi tidak melihat dari sisi ekonomi masyarakat, sebab, dengan ada penomena batu akik di Aceh mampu mendongkrak perekonomian masyarakat secara lebih lagi.

“Kita liat saat ini masyarakat Aceh memiliki pendapatan lain, selain dari sektor pertanian, perkebunan dan lain- lain,” sebutnya, Kamis (5/2) di Banda Aceh.

Selanjutnya dia katakan, seharusnya Walhi meliat secara lebih luas lagi jika dikatakan penambang batu akik di Aceh bisa menghadirkan bencana Alam, selain penambang batu Aceh, di aceh masih banyak perusak alam lainnnya, bahkan bersekala lebih besar.

“Perusahaan yang melakukan pertambangan di kawasan hutan lindung apakah tidak merusak lingkungan, kenapa mesti dikatakan pencari batu akik merusak lingkungan, karena kita liat sendiri di Aceh siapa yang lakukan perusakan alam,” tutupnya.

You must be logged in to post a comment Login