stat counter Polres Aceh Timur Gagalkan Penyaluran TKI Ilegal | Aceh Online Magazine

Polres Aceh Timur Gagalkan Penyaluran TKI Ilegal

18-TKI-ILEGALAtjehcyber.com – Melalui sebuah operasi terencana, Polres Aceh Timur menggagalkan dugaan tindak pidana perdagangan manusia atau penyaluran tenaga kerja ilegal ke luar negeri, Senin (19/1) pagi sekitar pukul 04.00 WIB. Sebanyak 9 warga Aceh yang akan diberangkatkan ke Malaysia berhasil diamankan bersama calonya, seorang perempuan.

Kapolres Aceh Timur, AKBP Muhajir SIK MH melalui Kasat Reskrim AKP Budhi Nasuha Waruwu SH kepada Serambi di ruang kerjanya, Selasa (20/1) membenarkan pihaknya men gamankan 9 warga yang diduga korban perdagangan manusia yang akan diberangkatkan ke Malaysia melalui pelabuhan Tanjung Balai, Sumatera Utara. Rombongan diberangkatkan dari Kecamatan Simpang Ulim dengan minibus L–300 dan ditangkap ketika memasuki Desa Alue Bu, Kecamatan Peureulak Barat, Jalan Nasional Banda Aceh-Medan.

Menurut Kasat Reskrim Polres Aceh Timur, pihaknya sudah lama mencium gelagat mencurigakan tersebut. Karenanya, saat akan diberangkatkan pada Senin dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, langsung diikuti mulai dari Kecamatan Julok dan akhirnya ditangkap saat di Desa Alue Bu.

Korban yang akan diberangkatkan ke luar negeri tersebut terdiri 6 warga Aceh Utara dan 3 warga Aceh Timur dengan rincian 3 perempuan dan 6 laki–laki. Polisi juga men gamankan seorang calo asal Aceh Timur bernama Nuraini, 10 lembar KTP, 10 pasport pelancong, satu HP milik calo, satu unit mobil L–300 BK 1509 KB beserta sopirnya warga Aceh Tenggara.

Berdasarkan pemeriksaan polisi, ternyata pelaku yang merekrut tenaga kerja tersebut tidak memiliki surat izin penyaluran atau penempatan tenaga kerja dari dinas terkait dan tidak pula terdaftar di Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI). “Juga tidak ada perusahaan melainkan kegiatan perorangan yang dilakukan seorang perempuan diduga calo bernama Nuraini (30),” kata Kasat Reskrim Polres Aceh Timur.

Untuk proses keberangkatan ke luar negeri, calo menetapkan pembayaran Rp 2,5 juta/orang untuk kepentingan pembuatan paspor pelancong (bukan paspor untuk bekerja). Nuraini menjanjikan 9 warga tersebut akan mendapat pekerjaan setelah tiba di Malaysia. Nuraini mengaku telah menekuni pekerjaan itu sejak akhir 2013 dibantu seorang temannya berinisial NU yang sudah masuk DPO polisi.

Dalam pengusutan kasus itu, polisi juga menemukan bukti lain berupa komplain pihak keluarga yang dikirim melalui SMS ke nomor HP calo. Pihak keluarga khawatir korban yang akan diberangkatkan ke Malaysia tidak akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang dijanjikan calo.

Warga yang gagal berangkat ke Malaysia tersebut masing-masing Mardiana (28), Dami (34), Kanisa (25), Mustafa Kamal (25), Razali Daud (45), dan M Jafaruddin (19) dari Aceh Utara. Sedangkan warga Aceh Timur masing-masing Nurhayati (29), Munir (43), Dwiyanto (32). Sedangkan dua lainnya yaitu Nuraini (tersangka calo) sopir L-300 asal Aceh Tenggara.

Kasat Reskrim Polres Aceh Timur menambahkan, setelah diperiksa, ke-9 korban dipulangkan ke kampung masing-masing dan akan dipanggil jika diperlukan. Sedangkan sopir L-300, Mardan (58) hanya dijadikan saksi dan mobil dipinjampakaikan kembali kepada sopir untuk mencari nafkah, karena bukan mobil khusus untuk mengantar korban.

Sedangkan Nuraini masih diamankan di Mapolres Aceh Timur untuk proses lebih lanjut. Nuraini dikenakan sangkaan tindak pidana perdagangan manusia atau penyaluran tenaga kerja ke luar negeri tanpa izin sebagaimana diatur Pasal 2 yo Pasal 10 Undang–Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan Pasal 102 ayat (1) Huruf (a) dan Huruf (b) Undang–Undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri dengan ancaman minimal 3 tahun maksimal 15 tahun.

AKP Budhi menyebutkan dalam menangani perkara ini pihaknya berkoordinasi dengan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Direskrimum Polda Aceh.

You must be logged in to post a comment Login