stat counter Riswan tak Sadar Kalau Tangannya Putus | Aceh Online Magazine

Riswan tak Sadar Kalau Tangannya Putus

Riswan (44) satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan yang merengut tujuh nyawa di Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh, Km 15,5 Gampong Mon Ikeuen, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, dirawat di RS Meuraxa, Banda Aceh, Senin (31/10/2016). SERAMBI/M ANSHAR

Riswan (44) satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan yang merengut tujuh nyawa di Jalan Nasional Banda Aceh-Meulaboh, Km 15,5 Gampong Mon Ikeuen, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, dirawat di RS Meuraxa, Banda Aceh, Senin (31/10/2016). SERAMBI/M ANSHAR

ATJEHCYBER.com – Riswan (40), warga Gampong Bunon, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue, merupakan satu-satunya korban kecelakaan maut di depan Pabrik Semen Lafarge Lhoknga yang selamat. Namun, ia kehilangan tangan kirinya akibat kecelakaan itu.

Riswan yang masih dirawat di Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh, Senin (31/10) sempat menceritakan tentang kecelakaan itu. Menurutnya, saat kejadian, dirinya bersama enam penumpang lainnya dalam kondisi tertidur. Sedangkan mobil melaju dalam kecepatan sedang.

“Saya tertidur dalam perjalanan itu. Saat terbangun saya sudah tergeletak di atas aspal di pinggir jalan dan saya hanya melihat dalam pandangan yang remang-remang ada polisi dan beberapa orang di dekat saya,” ujar Riswan.

Ia mengaku, saat tergeletak di pinggir jalan tidak menyadari jika tangan kirinya sudah terlepas dari anggota tubuh, karena tidak ada lagi rasa sakit.

Selanjutnya, ia sempat tak sadarkan diri beberapa saat. Sehingga ia baru sadar diri lagi saat sudah berada di Rumah Sakit Meuraxa, serta mengetahui jika tangannya sudah putus. Oleh kerabat, tangannya ikut dimakamkan bersama lima rekannya para anggota Jamaah Tablig dari Simelue di Gampong Bueng Tujoh, Montasik, Aceh Besar.

Riswan mengisahkan, pada Sabtu (29/10) pagi mereka tiba di Pelabuhan Labuhan Haji, Aceh Selatan, dari Simeulue, dengan tujuan ke Markas Jamaah Tablig di Cot Goh, Montasik. Karena tujuannya mereka selanjutnya melaksanakan dakwah ke Medan, namun bermusyawarah terlebih dahulu di Cot Goh.

Setelah beristirahat di masjid setempat, sekitar pukul 21.30 WIB mereka dijemput oleh Ustad Muhammad Khalilullah, santri sekaligus guru di Pesantren Darussalam, Labuhan Haji. Dengan mengendarai mobil Toyota Avanza mereka bergerak ke arah Banda Aceh.

Dalam mobil tersebut Riswan duduk di barisan paling belakang bersama dua korban lainnya, M Kuat dan Musri Antoni (sebelumnya sempat dirawat di RS Meuraxa). Dibarisan tengah duduk Arsin bersama anak dan adiknya, Riski Ifanda dan Rian Hidayat. Sedangkan di depan duduk, Edi Mawansyah bersama Muhammad Khalilullah yang mengendarai mobil.

Dalam perjalanan itu mereka sempat singgah di SPBU Lamno sekitar pukul 03.00 WIB, untuk beristirahat dan shalat tahajud. Setelah melanjutkan perjalanan ketujuh penumpang itu langsung tertidur. “Saat terbangun saya sudah di luar mobil,” ujarnya.

Ia juga menceritakan, sebelum berangkat untuk misi dakwah, para sahabatnya yang meninggal itu sudah berpesan kepada keluarganya, agar jika ada suatu kejadian yang dialami selama perjalanan dakwah, mereka minta tidak dibawa pulang ke kampung halaman. Maka keenam korban dimakamkan di Aceh Besar. Riswan sendiri masih anggota keluarga dari Arsin, korban meninggal.

Marka pudar
Sementara itu, Dinas Bina Marga bersama Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkomintel) serta Pusat Penanggulangan Kr isis Kesehatan (P2KK) Dinkes Aceh, meninjau lokasi kecelakaan yang merenggut tujuh nyawa rombongan Jamaah Tabliq, Senin (31/10).

Bersama tim tersebut juga ikut dari Ditlantas Polda Aceh dan Satlantas Polres Aceh Besar.

Kapolres Aceh Besar, AKBP Drs Heru Suprihasto SH melalui Kasat Lantas Iptu Sandy Titah Nugraha SIK mengatakan bahwa dari hasil pemantauan di lokasi ditemukan fakta marka jalan mulai pudar dan penerangan sangat kurang.

“Itu hasil yang disimpulkan dari peninjauan ke lokasi kejadian. Untuk fakta baru terkait kecelakaan maut tersebut tidak seperti isu yang sempat berkembang. Tapi, kronologisnya lebih kepada yang kami sampaikan sebelumnya,” kata Sandy.

Kasat Lantas menjelaskan ketentuannya untuk setiap sopir yang melakukan perjalanan jauh wajib beristirahat tiap 4 jam sekali, minimal 30 menit dan dipakai untuk tidur, bukan istirahat yang masih melakukan aktivitas. “Keterangan Riswan (44) korban selamat yang masih dirawat di RSU Meuraxa, mengatakan pukul 21.30 WIB mereka bertolak dari Labuhan Haji, tujuan ke Banda Aceh, hanya singgah sejenak di Lamno sekitar 10 sampai 15 menit. Di sana, almarhum Muhammad Khalilullah (sopir) tetap melakukan aktivitasnya shalat malam dan tidur sejenak, sehingga kemungkinan kecelakaan itu dugaan kami akibat kelelahan dan tertidur,” demikian Sandy.

Menanggapi kabar yang menyebutkan mobil ambulans Puskesmas Lhoknga enggan melakukan evakuasi korban lain dari lokasi kejadian setelah sempat membawa satu korban luka parah ke rumah sakit di Banda Aceh, menurut Kepala Puskesmas Lhoknga dr Firzalinda itu tidak benar. Ia pun meluruskan kabar. “Bukan enggan membantu evakuasi korban lainnya. Tapi, saat ambulance kami membawa pasien ke rumah sakit, petugas kami betul-betul harus memastikan pasien sudah bisa ditinggalkan,” sebutnya. (mun/mir/dik/SerambiNews)