stat counter Saksikan Hukuman Cambuk, Pelajar Teumamong | Aceh Online Magazine

Saksikan Hukuman Cambuk, Pelajar Teumamong

Satu dari dua pelaku judi togel, menerima hukuman cambuk dari algojo di Alun-Alun depan kantor bupati, Aceh Singkil, Rabu (14/1). PROHABA/DEDE ROSADI

Satu dari dua pelaku judi togel, menerima hukuman cambuk dari algojo di Alun-Alun depan kantor bupati, Aceh Singkil, Rabu (14/1). PROHABA/DEDE ROSADI

Atjehcyber.com – Jerit histeris membelah gemercik hujan di tengah alun-alun depan kantor Bupati Aceh Singkil. Rabu (14/1), lokasi dimaksud menjadi arena eksekusi hukuman cambuk dua pelaku judi toto gelap (togel). Suara tersebut bukan erang kesakitan pelanggar Qanun Aceh Nomor 13 tahun 2003 akibat sabetan rotan sang algojo, melainkan dari tribun penonton yang disesaki ratusan pelajar.
Dila, pelajar salah satu Sekolah menengan Pertama (SMP) di Singkil, tiba-tiba meronta tidak karuan begitu menyaksikan hukuman cambuk. Kondisi tersebut langsung menyedot perhatian penonton yang berjubel. Beberapa warga pun memegangnya setelah tahu Dila teumamong (kemasukan-red).
“Masukkan ke mobil, bawa pulang. Jangan dibiarkan di sini,” kata Rostani, yang membantu menolongnya dengan usapan air putih. Usai mendapat pertolongan sejumlah warga, ia pun berhenti meronta sehingga bisa dibawa pulang.
Sementara itu, pelaksanaan hukan cambuk walau di tengah guyuran hujan mendapat perhatian warga. Ini adalah kali pertama dilaksanakan eksekusi hukum cambuk di Aceh Singkil. Mayoritas yang hadir pelajar mulai dari SD hingga SMA. Kehadiran siswa SD itu sempat disesalkan pemerhati anak sebab dikhawatirkan mempengaruhi psikologis mereka.
Pelaku judi togel yang mendapat hukuman cambuk masing-masing Walidin Limbong (44), warga Lae Butar, dan Maiman (33), warga Rimo, Kecamatan Gunung Meriah. Keduanya dijatuhi hukuman cambuk delapan kali dipotong masa tahanan sebanyak dua kali.
Ketika mengeksekusi Walidin Limbong, algojo sempat meminta pergantian cambuk. Sebab, rotan yang digunakan patah. Setelah diganti, eksekusi berlanjut hingga selesai.
Bupati Aceh Singkil, Safriadi, berharap hukuman cambuk merupakan pertama dan terahir di wilayahnya. “Secara pribadi saya sedih. Peristiwa ini harus jadi pembelajaran bagi semua. Saya berharap ini pertama dan terakhir. Setelah ini, daerah kita bersih dari pelanggaran syariat Islam, sehingga tidak ada lagi yang dihukum,” ujar Safriadi, saat memberikan sambutan sebelum eksekusi dilaksanakan.

You must be logged in to post a comment Login