stat counter Tu-ngang: "Logo UIN Ar-raniry Baru itu Seperti Lempap" | Aceh Online Magazine

Tu-ngang: “Logo UIN Ar-raniry Baru itu Seperti Lempap”

Tu-ngang Iskandar, Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Tu-ngang Iskandar, Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

ATJEHCYBER.com – Polemik logo UIN Ar-raniry yang baru hasil dari perlombaan terus bergulir, terutama di media sosial, sebagian kalangan menilai bahwa logo UIN Ar-raniry yang dimenangkan oleh Fandy Diadline Widi Anugerah dari Jawa Timur itu tidak mencerminkan nilai ke acehan dan keislaman. Bahkan beberapa orang ada yang nekat menilai bahwa logo tersebut terkait dengan misi zionisme.

Tu-ngang Iskandar, Mahasiswa Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang fokus pada bidang pengkajian Desain Komunikasi Visual pun angkat bicara. Menurutnya, respon atas logo yang mendapatkan juara pertama itu terlalu berlebihan. “Hana wah heboh that are, donya mandum nyan,,he” canda lelaki yang akhir-akhir ini sibuk mengurus kumisnya itu.

Namun, Tu-ngang menilai bahwa penolakan berlebihan dari masyarakat Aceh terhadap logo UIN Ar-raniry hasil dari lomba tersebut wajar, karena dalam logo tersebut tidak terlihat unsur yang bisa mewakili sentemen ke acehan. “Pembuat logo sepertinya terlalu fokus pada usaha merangkum visi misi baru kampus dalam karyanya, tapi lupa pada jiwa ke acehan yang juga harus ditanamkan di sana, di jantong hate rakyat Aceh” kata Tu-ngang dengan tangan memukul meja, sok serius.

Lebih lanjut inisiator Seniman Perantauan Atjeh (SePAt) ini menjelaskan bahwa penolakan terhadap logo tersebut sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh penggunaan warna biru. Biru menurut Tu-ngang merupakan warna yang tidak begitu diakui oleh orang Aceh. “Orang Aceh ketika melihat warna biru akan secara lebih nyaman menyebutnya dengan sebutan “ijo” (Hijau). Biru itu warna yang mati bagi orang Aceh” sebutnya.

Kesan buruk tentang warna biru dinilai Tu-ngang bisa ditarik benang merahnya ketika orang Aceh sangat membenci Belanda. “Warna biru menjadi salah satu warna dalam bendera Belanda, sedangkan bagi orang Aceh, hijau telah dianggap seperti warna perlawanan, selain warna merah. Warna hijau berkaitan erat dengan perang gerilya, bisa mewakili identitas dan spiritualitas orang Aceh. Perlu diketahui juga bahwa Biru memang erat kaitannya dengan a gama Yahudi. Biru merupakan warna untuk kekudusan dan keilahian bagi mereka. Sedangkan bagi a gama lain seperti Hindu, biru merupakan warna dari Dewa Krishna, dewa yang paling dipuja” jelas Tu-ngang.

Tu-ngang tidak terlalu mempermasalahkan bentuk dari logo karya anak muda Malang ini, karena memang bentuknya sudah sangat sederhana, sehingga akan murah biaya dan mudah pengaplikasiannya. Akan tetapi menurutnya antara bentuk dan warna pada logo itu amat besar kaitannya. “Warna adalah yang pertama tertangkap indera penglihatan sebelum bentuk. Ketidaksukaan pada warna akan berimbas pada penilaian terhadap bentuk. Maka jangan salahkan orang-orang yang menilai logo itu buruk dan menuduh macam-macam, karena memang kesan pertamanya sudah tidak baik” jelas Tu-ngang lebih lanjut.

Terkait dengan kontroversialnya logo UIN Ar-raniry yang telah membuat orang-orang kehilangan waktu dan penghasilannya, secara khusus Tu-ngang memberikan kata-kata penutup singkatnya melalui acehmediart.com; “Logo UIN Ar-raniry baru itu seperti lempap” kata Tu-ngang.***( acehmediart)