stat counter "Karena BL, Kita Dihina", Pesan untuk Polisi Sumut | Aceh Online Magazine

“Karena BL, Kita Dihina”, Pesan untuk Polisi Sumut

topi-polisiAtjehcyber.com – Setelah menghebohkan para pengguna sosial media dengan tulisan mimpi berjudul Gubernur Aceh Tampar Jokowi , sebuah tulisan yang diunggah di jambomuhajir.blogspot.com  kembali diperbincangkan. Kali ini berkisah tentang bagaimana warga Aceh diperas di perbatasan oleh polisi Sumatera Utara.

Muhajir Juli, penulis artikel tersebut geram dengan penegak hukum yang ia tulis sebagai sosok keparat berseragam polisi. Kemarahan itu, tercermin dari tulisannya yang berkisah bagaimana ia diperlakukan layaknya seorang teroris saat memasuki Medan dengan mobil berpelat BL dari Aceh.

Aksi pemerasan berkedok razia di Medan untuk mobil dari Aceh, memang bukan kali ini saja dikeluhkan. Selain menimpa rakyat biasa, razia berlebihan itu juga menimpa para pejabat di provinsi Aceh. Beberapa hari lalu, Wakil Bupati Tamiang Iskandar Zulkarnain juga memprotes Kapolda Sumut karena mobil yang ditumpanginya juga dihentikan.

Janji Kapolda Sumut Irjen Eko Hadi Sutedjo yang memastikan tidak ada lagi pemeriksaan berlebihan terhadap plat BL oleh anak buahnya, masih belum terlihat di lapangan. Buktinya, selang beberapa hari janji itu dilontarkan di depan Kapolda Aceh Husein Hamidi, Kasdam Iskandar Muda Brigjen Rudi Polandi, Sekda Aceh Demawan, dan sejumlah unsur muspida Sumut saat melakukan pertemuan di Mapolda Sumut, (Rabu 18/2/2015), keluhan kembali disuarakan rakyat Aceh yang memasuki kota Medan.

Berikut tulisan ekspresi kekesalan Muhajir Juli dijambomuhajir.blogspot.com  yang juga menjadi korban pemerasan polisi Sumatera Utara. Simak tulisannya, mungkin pembaca pernah mengalami hal serupa.

***

Menjadi Aceh adalah sebuah petaka. Karena negeri ini sudah sedemikian parah kehilangan marwah. Bukan saja tidak dihargai secara politik, tapi dihina pula dalam pergaulan sosial jalan raya. Entah mengapa?

Beberapa waktu yang lalu, kami berangkat ke Sumatera Utara untuk menjemput ibu di Bandara. Kami lolos di perbatasan Tamiang. Akan tetapi begitu memasuki Kota Medan para bajingan yang memakai mobil polisi dan berseragam keparat hukum menghentikan mobil Avanza yang kami tumpangi.

Kami diperiksa seperti teroris. Mereka memerkarakan jumlah penumpang dan kehadiran bantal di dalam mobil. Keparat bersegaram coklat itu juga memeriksa setiap detail kelengkapan mobil. Mereka sempat saling berbisik karena gagal menemukan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk memeras kami.

Kemudian kami kembali diperiksa. Suasana sudah tidak nyaman lagi. Saya mulai marah. Namun emosi saya tidak jadi memuncak, karena abang kandung saya yang berbadan gagah, ternyata tidak punya cukup nyali untuk berperkara.

Akhirnya kami berhasil diperas. Karena dalam kotak P3K mobil yang kami rental, tidak ada obat merah.

“Sudah berikan saja uangnya,” Ujar abang penulis.

“Ah kau bang. Model gini yang buat kita tidak dihargai keparat itu,” Kata saya dihadapan mereka.

“Jangan buat perkara di negeri orang,” Timpalnya pula dengan muka marah. Saya mengalah.

Plat BL, itulah mengapa kami diberhentikan oleh keparat polisi Sumatera Utara. Saya tidak lagi menyebut oknum, karena sudah menjadi rahasia umum bahwa rakyat Aceh yang ber pelat BL pasti menjadi sasaran aksi nakal para bajingan itu.

Mulai Dari Rakyat Sampai Pejabat

Pemerasan terhadap pemilik kendaraan yang bernomor polisi BL nyaris setiap hari terjadi. Bahkan dari sopir truk sampai pejabat Aceh kena “tilang” polisi jahannam. Sejauh ini tidak ada aksi nyata dari Pemerintah Aceh dan Kepolisian Aceh. Seolah-olah, pemeraan tersebut sudah benar dan tidak melanggar aturan.

Sehebat-hebatnya penguasa di Aceh, hanya mampu menghimbau agar Polda Sumut “berbaik” hati dan meniadakan penjajahan terhadap orang Aceh. Selebihnya hanya bisa bertawakal kepada Ilahi. Sudah sedemikian parahkah kita (Aceh) kehilangan harga diri?

Lalu dimana letak wibawa self goverment yang selama ini di agung-agungkan oleh para penguaa Aceh? Dimana letak wibawa kaum yang mengakui dirinya sebagai bangsa teuleubeh ateuh rueng donya?
Wahai GubernurAceh Zaini Abdullah!

wahai wakil GubernurAceh Muzakir Manaf!

Wahai Kapolda Aceh Husein Hamidi!

Wahai anggota DPRA yang mengakui diri sebagai penyambung lidah rakyat!

Bila kalian benar-benar putra Aceh. Bila kalian benar-benar punya darah Aceh. Bila kalian benar-benar cinta pada Aceh. Bila kalian benar-benar bukan keturunan lamiet Belanda kubah

Ayo! hantam kepala bajingan Sumatera Utara yang begitu pongah menghina rakyatmu yang mengendarai kendaran berplat BL.

BL bukan sebuah nista. BL adalah identitas kita –walau warisan kafir belanda- sudah, berhenti saja bualan akan memajukan bangsa. Stop saja khayal untuk menjaga kami dari kekejaman musuh-musuh kalian. Bila marwah Aceh saja belum bisa kalian bela, maka pada suatu ketika BH adalah hadiah yang pantas untuk kalian pakai.

You must be logged in to post a comment Login