stat counter Begini Sebaiknya Istri Bersikap pada Pasang Surut Rezeki Suami | Aceh Online Magazine

Begini Sebaiknya Istri Bersikap pada Pasang Surut Rezeki Suami

original

“Giliran dapat transferan, senyum ke suami selegit gulali, kopi manis pun tersaji, Abang Sayang jadi julukan”

“Saat tak ada amplopan, muka cemberut tersenyum kecut, kopi pahit terasa di mulut, Abang tiba tak dihiraukan”

ATJEHCYBER.com – Ada diantara istri yang berlaku demikian terhadap suaminya. Istri yang di saat suaminya memberi rezeki seperti yang ia harapkan, ia akan melayaninya dengan sepenuh hati dan menjalankan kewajibannya dengan paripurna. Tetapi di kala suami pulang dengan rezeki jauh dari bayangan, ia pun enggan memberikan hak suaminya bahkan berani mencelanya.

Lalu, bagaimana sebaiknya istri bersikap terhadap pasang surut rezeki suami?

1. Bersikap Qana’ah

Sikap qana’ah/merasa cukup menjadi benteng terdepan bagi istri, sehingga ia ikhlas menerima berapapun pemberian suaminya, banyak atau sedikit, lebih maupun kurang,  tetap bersyukur atas rezeki dari Allah tersebut.

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, Rasulullah bersabda : “Sungguh sangat beruntung orang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rezeki yang secukupnya dan Allah menganugerahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan pemberian-Nya” (HR Ibnu Majah)

Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah bersabda : “Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar karena aku melihat penghuni neraka terbanyak adalah (kaum) kalian.’ Kemudian diantara mereka ada  seorang wanita bertanya, ‘Kenapa (kaum) kami menghuni sebagian besar neraka?’ Beliau menjawab, ‘Karena kalian sering melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami’.” (HR Muslim)

2.Berprasangka baik pada suami

Mengedepankan sikap husnudzon/baik sangka. Jangan dulu berpikir buruk saat pemberian suami kurang dari biasanya. Siapa tahu dagangan hari itu sedang kurang laku, barangkali ia memakai uangnya untuk membeli sesuatu yang sangat perlu atau mungkin  ia memberikan ke saudara yang perlu dibantu. Berbaiksangkalah, tidak perlu curiga dan tanyakan dengan hati-hati kalau memang ingin tahu alasannya.

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS Al-Hujurat 12)

3.Sabar dan syukur

Hidup ini antara sabar dan syukur, separuhnya iman itu sabar, lalu separuhnya lagi adalah syukur (Imam Ghazali). Sabar dan syukur menjadi kunci utama bagi istri sehingga tak akan membedakan perlakuan terhadap suami, baik kurang atau lebih rezeki yang diberi.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrohim  7)

“Sungguh menakjubkan orang beriman, semua urusannya baik bagi dirinya. Dan itu tidak akan terjadi kecuali pada orang beriman. Apabila diberi sesuatu yang menyenangkan, ia akan bersyukur, dan apabila diberi musibah/sesuatu yang tidak menyenangkan, ia akan bersabar. Dan kedua-keduanya baik baginya” (HR Muslim)

4.Hargai perjuangan suami

Daripada meributkan rezeki hasil jerih payah suami, lebih baik apresiasi perjuangannya untuk mendapatkan rezeki itu. Bayangkan saat suami harus sabar berhadapan dengan atasan yang terlalu menekan, wajib hati-hati bekerja karena resiko pekerjaan yang rentan kecelakaan, mesti menembus kemacetan untuk pergi dan pulang, juga  harus bersahabat dengan cuaca saat bekerja di lapangan.

Jadilah istri yang tersenyum indah saat menyambut suami, ridha menerima pemberiannya, mendamaikan segala keluh kesahnya, mendoakan kelapangan rezekinya pun selalu bersyukur pada Allah atas segala nikmat-Nya.(Ummi)