stat counter Hukum Acara Nyanyian di Pesta Pernikahan | Aceh Online Magazine

Hukum Nyanyian di Pesta Pernikahan

Hukum Acara Nyanyian di Pesta Pernikahan

ATJEHCYBER.com – Sebuah pernikahan yang barokah serta membawa sakinah, mawaddah dan rahmah pada kedua mempelai, tentu saja tak bisa dilakukan dengan melakukan apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya. Oleh sebab itu kita perlu berhati-hati dalam melaksanakan pesta atau resepsi pernikahan, yang seringkali diwarnai dengan hal-hal yang tidak disukai Allah.

Bagaimana dengan adanya organ tunggal atau biduanita yang menyanyikan lagu-lagu di pesta pernikahan apalagi jika yang dibawakan adalah lagu dangdut?

Bukan masalah dangdutannya yang dilarang, karena cukup banyak lagu dangdut yang berisikan kebaikan seperti melarang judi, melarang minuman keras dan sebagainya, akan tetapi larangannya lebih pada penampilan biduanita yang sering kita lihat memamerkan aurat serta menyanyikan lagu yang merangsang syahwat dan menggoyang tubuh, sungguh jauh dari nilai kesopanan yang Islam ajarkan.

Perlu diketahui bahwa ulama masih banyak berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya ada nyanyian dalam sebuah pesta pernikahan. Ada yang mengharamkan, ada yang membolehkan. Namun membolehkan pun memiliki syarat-syarat yang perlu kita perhatikan, di antaranya:

1. Syair lagu tidak mengandung hal yang merangsang syahwat atau menjauhkan diri dari Allah/ menyekutukan Allah.

Misal lirik lagu: Kau kucinta lebih dari apapun juga, tanpa disadari lirik-lirik sejenis ini telah membuat seseorang yang menyanyikannya menyekutukan Allah, karena mencintai makhluk lebih dari apapun.

2. Penampilan penyanyi tetap sopan, tidak memperlihatkan lekuk tubuh, tidak menggoyang-goyangkan tubuh yang memicu nafsu birahi

3. Lebih baik hiburan nyanyian hanya diperuntukkan bagi pengantin dan keluarganya, bukan untuk khalayak ramai.

4. Jauh dari pornoaksi, kata-kata keji, atau hal yang dilarang ajaran Islam lainnya.

Ruba’i Binti Mu’awwidz Bin Afra berkata:”Nabi Saw mendatangi pesta perkawinanku, lalu beliau duduk di atas dipan seperti dudukmu denganku, lalu mulailah beberapa orang hamba perempuan kami memukul gendang dan mereka menyanyi dengan memuji orang yang mati syahid pada perang Badar. Tiba-tiba salah seorang di antara mereka berkata: “Di antara kita ada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam yang mengetahui apa yang akan terjadi kemudian.” Maka Nabi bersabda:“Tinggalkan omongan itu. Teruskanlah apa yang kamu (nyanyikan) tadi.” [HR. Bukhari, dalam Fâth al-Bârî, juz. III, hal. 113, dari Aisyah r.a.].

Dari Amir bin Sa’ad, ia berkata: “Saya masuk ke rumah Quradhah bin Ka’ab ketika hari perkawinan Abu Mas’ud Al Anshari. Tiba-tiba beberapa anak perempuan bernyani-nyanyi, lalu saya bertanya: “Bukankah Anda berdua adalah sahabat Rasulullah saw. dan pejuang Badr, mengapa ini terjadi di hadapan Anda?” Maka jawab mereka: “Jika Anda suka, maka boleh mendengarnya bersama kami dan jika Anda tak suka maka Anda boleh pergi. Karena kami diberi kelonggaran untuk mengadakan hiburan pada acara perkawinan. (HR.Nasa’i dan Hakim dan beliau mensahkannya).(Ummi-Online.com)