Home Health Gangguan Jiwa Bukan Hanya Gila

Gangguan Jiwa Bukan Hanya Gila

418
0
SHARE
Ilustrasi
Ilustrasi
andri_190x230Atjehcyber.com | Seorang psikiater dengan kekhususan di bidang Psikosomatik dan Psikiatri Liaison. Lulus Dokter dan Psikiater dari FKUI. Mendapatkan pelatihan di bidang Psikosomatik dan Biopsikososial dari American Psychosomatic Society. Anggota dari American Psychosomatic Society dan The Academy of Psychosomatic Medicine. Sehari-hari mengajar di FK UKRIDA dan dokter penanggung jawab Klinik Psikosomatik RS Omni, Alam Sutera, Tangerang.
Saya menuliskan artikel ini segera setelah menonton acara Just Alvin di Metro TV yang sedang membahas kasus selebriti yang sedang hangat yaitu Marshanda. Tadinya saya tidak terlalu peduli dengan berita-berita selebriti. Bagi saya kehidupan selebriti yang tergambar di media sering tidak seperti apa adanya. Tapi ketika masalah selebriti ini terkait dengan gangguan kejiwaan maka saya jadi lebih tertarik untuk mengikutinya.

Dalam wawancara Just Alvin di Metro TV tadi, banyak terminologi gangguan kejiwaan dan pengobatan gangguan jiwa yang disebutkan.

Diawali dengan ucapan Marshanda bahwa dia pernah mengkonsumsi Xanax (suatu obat jenis penenang/benzodiazepine), lalu kemudian ada ungkapan Marshanda mengatakan dia didiagnosis Bipolar tipe II oleh psikiater, sampai ada pendapat pengacara yang berhubungan dengan pengobatan yang diberikan.

Wawancara Just Alvin tadi jujur membuat saya merasa sedih sekaligus gemas. Betapa masih banyaknya orang yang masih belum memahami secara baik apa yang dimaksud gangguan jiwa bahkan dalam pengertian sederhana sekalipun.

Gangguan Jiwa masih selalu dihubungkan dengan kegilaan. Masih banyak orang yang berpikir bahwa jika orang didiagnosis suatu gangguan jiwa maka itu artinya dia GILA.

Sebaliknya orang yang TIDAK GILA artinya dia pasti tidak menderita gangguan jiwa. Padahal gangguan jiwa itu tidak selalu berarti GILA, bukan berarti selalu orang yang menderitanya kehilangan kewarasannya dan berlaku aneh. Banyak diagnosis gangguan jiwa yang sebenarnya orangnya masih bisa berfungsi dengan baik dan bisa bekerja atau berkreasi.

Lebih jauh lagi mungkin banyak orang yang tidak memahami bahwa ada beberapa jenis gangguan jiwa yang penderitanya mempunyai kesadaran akan sakitnya sangat rendah atau bahkan tidak sama sekali.

Dalam praktek psikiatri sehari-hari pasien-pasien yang mengalami kondisi seperti ini paling sulit dihadapi. Kebanyakan dari mereka berobat karena atas bantuan orang terdekat seperti orang tua, anak atau pasangannya. Berita baiknya adalah kondisi seperti ini bisa diobati walaupun kadang harus dipaksa masuknya obat ke dalam diri pasien ini.

Kompetensi Dipertanyakan?

Dalam wawancara juga dijelaskan sudah sejak beberapa lama Marshanda meminum obat untuk mengatasi kondisi gangguan emosional yang diceritakannya sendiri tadi.

Diagnosis masalah emosionalnya ditentukan oleh seorang psikiater senior (beliau menyebut nama dr.Richard) yang sudah lebih dari 20 tahun berpraktek. Pengobatan juga dilakukan pastinya sesuai dengan standar yang berlaku.

Kalau kita lebih mencermati wawancara tadi, bahkan bisa dikatakan bahwa sebelum mulai stop makan obat, semua kehidupan Marshanda terlihat baik-baik saja. Marshanda bahkan menikah dan mempunyai anak.

Saya malah mempunyai kesan dan berasumsi, sejak lepas obat kelihatannya Marshanda mulai kembali gejala emosionalnya yang sayangnya tidak disadari oleh Marshanda sendiri. Tentu saja ini hanya asumsi saya karena tentunya yang paling tahu adalah psikiater yang merawat Marshanda selama ini.

Namun yang perlu diperhatikan adalah adanya pihak lain yang bukan dokter mengatakan kalau Marshanda sehat, tidak sakit jiwa dan menyuruh penghentian pengobatan. Marshanda bahkan mengatakan kalau dirinya stop obat lingkungannya harus siap menerima konsekuensi dari emosinya. Asisten yang tadi ikut muncul dalam wawancara bahkan dengan berani mengatakan bahwa dia bersiap menanggung risikonya.

Saya sangat menyayangkan hal ini. Kompetensi seorang dokter jiwa seolah-olah dipertanyakan dalam mendiagnosis dan memberikan pengobatan. Mungkin sebenarnya hal ini masalah yang biasa. Saya sendiri sering mengalami pasien berhenti makan obat yang saya berikan karena mendengar saran tetangga. Tapi menentukan seseorang itu sakit jiwa atau tidak, baik dan layaknya sesuai kompetensi adalah seorang PSIKIATER dan bukan profesi lainnya.

Apa yang terjadi pada Marshanda membuat saya semakin berpikir bahwa para praktisi kesehatan jiwa harus lebih banyak berjuang untuk mengatasi kondisi kekurangtahuan masyarakat akan masalah gangguan jiwa. Perlu lebih banyak lagi hal yang dilakukan untuk edukasi masyarakat berkaitan dengan masalah gangguan jiwa.

Para dokter sendiri yang bukan psikiater suka menganggap gangguan jiwa itu membingungkan apalagi masyarakat. Tapi jangan lupa, gangguan jiwa itu gangguan medis juga. Jadi kalau sakit jiwa jangan ragu berobat ke psikiater atau dokter jiwa ya ! Editor :

Lusia Kus Anna/kompas.com