stat counter Lima Penyakit Lebih Menakutkan daripada Ebola | Aceh Online Magazine

Lima Penyakit Lebih Menakutkan daripada Ebola

Atjehcyber.com | PENYAKIT akibat virus E bola menjadi yang paling ditakuti saat ini. Bahkan, penyakit tersebut sudah menjadi kedaruratan global.

Kendati demikian, masyarakat tetap harus waspada dengan berbagai penyakit lain yang juga masuk dalam status tersebut. Berikut ulasannya, sebagaimana dilansir IFL Science, Selasa (27/8/2014).

Influenza

Sekira 3-5 juta orang di seluruh dunia sakit parah karena virus flu dan menghasilkan 250.000-300.000 angka kematian setiap tahunnya. Jumlah itu termasuk luar biasa, meskipun angka kematian cukup rendah. Itu baru flu musiman, bagaimana dengan jenis mikroba atau strain baru, seperti yang biasanya ditemukan pada hewan?

Subtipe virus Influenza H5N1 memiliki strain yang ditemukan pada burung yang memiliki potensi untuk menyebabkan penyakit pada manusia. Beberapa strain H5N1 yang sangat virulen atau mematikan. Straintersebut telah mebunuh puluhan juta burung dan menyumbangkan 60% jumlah kematian pada manusia. Virus yang sangat cepat bermutasi ini dapat berpindah dari burung yang terinfeksi ke manusia, dan sejauh ini belum dapat menyebar dari orang ke orang.

Selain itu, kita tentu masih ingat pandemi H1N1 di tahun 2009 yang disebabkan oleh strain yang ditemukan pada babi. Selama musim flu tahun itu, sebagian besar kasus adalah karena H1N1, atau yang populer disebut sebagai “flu babi”. Dari April 2009 sampai Mei 2010, ada lebih dari 18.000 kematian dikonfirmasi oleh laboratorium karena H1N1. Bahkan ada perkiraan jumlah kematian sebenarnya hampir 15 kali lebih tinggi, dikarenakan kurangnya uji laboratorium di daerah yang sulit diakses.

Vaksin flu perlu diberikan setiap tahun karena tingkat mutasi yang sangat tinggi. Setiap tahun akan selalu ada kemungkinan munculnya strain baru yang berpotensi membahayakan manusia.

Penyakit diare

Diare adalah penyebab kematian nomor satu pada anak di bawah 5, di seluruh dunia. Diare menjangkit lebih dari 1,7 miliar orang setiap tahun dan mengakibatkan kematian lebih dari 801.000 anak. Diare menghabiskan cairan tubuh dan garam yang diperlukan oleh tubuh. Jika hal ini dibiarkan, orang yang terinfeksi dapat mati oleh dehidrasi berat.

Penyebab utama penyakit diare adalah rotavirus pada anak-anak dan norovirus untuk orang dewasa, meskipun ada penyebab bakteri dan virus lain juga. Kolera, salmonella, virus Nipah, dan demam berdarah adalah sumber penyakit infeksi yang dapat menyebabkan diare.

Diare paling mudah menular melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui kotoran. Jika seseorang yang terinfeksi buang air besar di dekat sumber air, maka air akan terkontaminasi. Air ini dapat diminum langsung oleh orang lain atau digunakan untuk untuk irigasi tanaman, sehingga virus mudah berpindah.

Sementara sebagian besar kematian akibat penyakit diare terjadi di daerah yang tidak memiliki akses air, virus diare yang bermutasi atau resistan obat dapat menciptakan akibat yang jauh lebih buruk bagi orang-orang di daerah maju.

Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang hampir selalu menginfeksi dua miliar penduduk dunia dan mengakibatkan 1,3 juta angka kematian, setiap tahunnya. Setelah bakteri masuk ke dalam tubuh, seseorang mungkin tidak langsung sakit. Bahkan bakteri dapat tetap aktif selama beberapa tahun sebelum penderita jatuh sakit.

Paru-paru adalah organ primer yang biasa terinfeksi. Gejala penyakit infeksi bakteri ini mulai dari batuk yang mengganggu, nyeri dada, hingga batuk darah. Jika TB mempengaruhi bagian lain dari tubuh, ini dapat menyebabkan nyeri sendi, menghambat fungsi hati atau ginjal, menyebabkan meningitis (pembengkakan selaput yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang), atau peradangan fatal dan penumpukan cairan di sekitar jantung. (Baca: Belum Ada Vaksin E bola, PHBS Bentengi Virus E bola)

TBC menular melalui udara, sehingga seseorang yang terinfeksi dapat menularkan penyakitnya kepada orang di sekitar mereka ketika mereka batuk, bersin, atau bahkan berbicara. Mereka yang menderita diabetes, memiliki pola makan buruk, merokok, atau bekerja di kondisi yang tidak sehat juga rentan untuk terjangkit TB.

Sayangnya, mengobati TB tidak cukup hanya dengan meminum antibiotik selama 10 hari. Banyak strainpenyebab TB yang resistan terhadap obat, sehingga orang-orang yang terinfeksi strain resistan ini harus melakukan terapi obat selama sekitar satu tahun setengah. Bahkan tingkat kematian TB yang resistan terhadap obat telah mencapai sekitar 80%.

Penyakit pernapasan

Severe acute respiratory syndrome (SARS) menyebar pada tahun 2003 di lebih dari 24 negara di empat benua. SARS, yang disebabkan oleh coronavirus, telah menewaskan 774 dari 8.098 orang (angka kematian 9,5%). Penyakit ini ditandai dengan gejala flu, termasuk demam dan nyeri otot, namun sebagian besar kasus berkembang menjadi pneumonia atau gagal ginjal yang dapat mengancam nyawa. Berkat kerjasama yang sigap dari negara-negara yang terkena dampak, wabah ini hanya bertahan selama lima bulan setelah pertama kali dilaporkan.

Sindrome pernapasan Timur Tengah (MERS) telah mencapai 20 negara sejak pertama kali muncul pada tahun 2012. Dari 837 kasus yang dikonfirmasi, 291 orang meninggal karena infeksi virus tersebut. Virus ini berasal dari reservoir binatang, yaitu kelelawar dan/atau dalam kasus ini unta. Mers sangat mirip dengan SARS dalam hal gejala dan komplikasi, namun kurangnya infrastruktur kesehatan di daerah endemik dapat menjelaskan mengapa angka kematian (30%) jauh lebih tinggi daripada SARS.

Mers dan SARS keduanya disebabkan oleh strain coronavirus yang sangat mematikan. Ada enam jenisstrain yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia, meskipun yang lain hanya berdampak ringan. Namun, strain yang bermutasi atau resistan terhadap pengobatan dapat meningkatkan jumlah orang yang terinfeksi.

Resistansi Antimikroba

Antibiotik telah menjadi salah satu kemajuan terbaik dalam sejarah medis, tetapi penggunaan yang tidak bertanggung jawab telah mengubahnya menjadi kutukan. Ketika tidak dikonsumsi dengan benar, obat tidak bisa membunuh semua bakteri. Jika pasien tidak melakukan terapi antibiotik dengan disiplin seperti yang disarankan dokter, bakteri akan dengan mudah bermutasi untuk menangkal antibiotik tersebut.

Tuan Alexander Flemming, penerima penghargaan Nobel di bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1945, telah memperingatkan efek dari penggunaan antibiotik. Tidak benarnya pemakaian antibiotik dapat membentuk strain bakteri resistan yang membahayakan bagi manusia. Tujuh puluh tahun kemudian, kita dapat membuktikan pernyataannya. (fik)