Home Health Memasang “Sarung Penangkal HIV” pada Aplikasi Kencan

Memasang “Sarung Penangkal HIV” pada Aplikasi Kencan

625
5
SHARE

Daftar 12 negara di Asia pasifik yang menghadapi ancaman HIV dan tren infeksi baru tertinggi.
Daftar 12 negara di Asia pasifik yang menghadapi ancaman HIV dan tren infeksi baru tertinggi.

Atjehcyber.com – Di sofa pojok sebuah kedai Starbucks di Jakarta, sambil menyeruput double shot iced shaken espresso, Andy membuka aplikasi kencan Grindr. Jemarinya lincah naik turun di atas layar tablet. Ia lalu mengetuk beberapa foto pria dan mulai menyapa, “hai”.

Membuka Grindr sambil nge-bucks, itulah salah satu rutinitas Andy di kala senggang. Dengan aplikasi berbasis geolokasi ini, Andy–dan setiap gay– bisa mengetahui gay yang ada di sekitarnya, lengkap dengan profil berisi foto, tinggi badan, hingga ketertarikan.

Diluncurkan pada tahun 2008, aplikasi kencan pertama di dunia itu segera menjadi tren di nusantara dan negara Asia Tenggara lainnya. Dalam surat elektronik kepada Kompas.com beberapa waktu lalu, pihak Grindr menyatakan memiliki 23.966 pengguna aktif setiap bulannya di seluruh Indonesia. Sementara di Thailand, mereka punya 91.940. Selain Grindr, aplikasi JackD juga populer di tanah air.

Belakangan, Grindr dan aplikasi serupa dianggap sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi, mereka punya dampak positif karena memungkinkan para gay terhubung di tengah dunia yang kadang mengutuknya. Di sisi lain, Grindr dianggap bisa memicu epidemi, termasuk HIV.

Publikasi pada jurnal Sexually Transmitted Infection pada Juni 2014 mengungkap bahwa di Amerika Serikat, aplikasi kencan terbukti berkaitan dengan infeksi raja singa dan chlamydia. Untuk HIV, belum terbukti.

Tapi, di Hong Kong, Panda Cheung Yin-mei, aktivis HIV/AIDS dari AIDS Concern, mengatakan pada Gay Star News, 11 September 2012, Grindr diduga ikut memicu peningkatan infeksi HIV. Dari April hingga Juni 2012, ada 131 kasus baru HIV di Hongkong dan 65 di antaranya dari kalangan gay.

Kekhawatiran yang sama juga ada di Indonesia. Kekhawatiran itu bisa dipahami sebab kesadaran kesehatan di kalangan Lelaki Seks Lelaki (LSL) memang masih rendah. Itu bisa dilihat dari pemakaian kondom dalam berhubungan seksual.

Andy misalnya, masih sering berhubungan tanpa pengaman. “Saya lakukan dengan orang yang saya suka. Kalau dia kelihatan sehat, saya mau,” ungkapnya. Sehat baginya cukup punya penampilan dan berkulit bersih serta tak punya bintik aneh di kelamin.

Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) Kementerian Kesehatan tahun 2011 sendiri mengungkap, persentase penggunaan kondom dalam seks anal reseptif (menerima) dan insertif (melakukan) hanya 21 dan 23 persen. LSL yang punya pengetahuan komprehensif tentang HIV cuma 26 persen.

Menurut data yang dirilis UNAIDS pada tahun 2013, pemakaian kondom secara konsisten di kalangan LSL di Jakarta hanya 25 persen. Di Bandung lebih parah, hanya 6 persen, terendah di seluruh kota-kota Asia Pasifik yang disurvei oleh UNAIDS.

UNAIDSHasil survei penggunaan kondom secara konsisten di beberapa negara dan kota di Asia Pasifik.

Sementara itu, peningkatan infeksi HIV di kalangan LSL meroket. Data di Indonesia menunjukkan, pada tahun 2007, persentase penderita HIV dari kalangan gay adalah 6 persen dari total laki-laki penderita HIV. Tahun 2013, persentasenya meningkat pesat menjadi 27 persen.

Menurut data Red Cross Thailand pada tahun 2014, kini dari 8.000 – 10.000 infeksi baru HIV setiap tahunnya, 40 persen berasal dari kalangan gay. Padahal, pada 5-10 tahun lalu, persentase infeksi pada kalangan gay di Thailand hanya 10 persen.

Nittaya Phanumpak, aktivis HIV dari Red Cross Thailand, mengatakan lewat email pada 7 Juli 2014, Grindr mungkin saja berperan dalam peningkatan infeksi HIV di kalangan LSL. Namun, ia juga memandang bahwa Grindr pun punya potensi untuk dimanfaatkan oleh pemerintah ataupun LSM.

“Kita bisa melihat aplikasi ini sebagai channel baru. Ini inovatif,” katanya saat diwawancara lewat surat elektronik. Lewat aplikasi tersebut, edukasi bisa dilakukan. Demikian pula ajakan untuk melakukan konseling dan tes HIV.

Red Cross bekerja sama dengan LSM Rainbow Sky di Thailand dan 5 klinik. Mereka memasang iklan di aplikasi Grindr. Isinya, edukasi tentang HIV/AIDS dan peringatan untuk selalu melakukan seks aman.

Rapeepun Jommaroeng dari Rainbow Sky mengatakan, sejauh ini data menunjukkan bahwa jumlah LSL yang tes HIV karena melihat iklan di aplikasi kencan masih rendah. Kebanyakan LSL menjalani tes HIV karena pengaruh dari teman dekat.

Namun, Jommaroeng tetap berpikir bahwa aplikasi kencan adalah potensi. “Saya pikir geo-social media punya potensi untuk dikembangkan. Aplikasi kencan bisa lebih efektif dengan strategi inovatif yang mungkin belum ditemukan,” katanya.

Di Amerika Serikat, Ian D. Holloway dari University of California di Los Angeles, melakukan survei di California bagian selatan. Dengan bantuan Grindr, ia menanyakan pada 195 orang LSL, apakah mereka bersedia menjalani kelas program pencegahan HIV.

Hasil studi yang dipublikasikan di jurnal AIDS Behavior pada 1 Desember 2013 mengungkap, 80 persen responden ternyata bersedia menjalani program pencegahan HIV. Sebanyak 70 persen dari yang bersedia memilih komunikasi lewat media online.

Dengan hasil tersebut, Holloway menekankan perlunya pengembangan program edukasi lewat media online. Rancangan dan pengiriman pesan edukasi atau ajakan bisa diintegrasikan lewat platform yang sudah ada, misalnya Grindr.

Agar bisa efektif, setiap wilayah bisa melakukan survei serupa seperti Holloway. Ini untuk menguji apakah penerimaan program pencegahan HIV berbasis online bisa diterima. Jika bisa, maka pendekatannya bisa dirancang.

Hartoyo, pentolan Ourvoice Indonesia, sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan kaum Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual (LGBT) mengatakan, “Paling mudah mungkin pemerintah bisa bekerja sama dengan pemilik Grindr.”

Tahun 2013 lalu, ketika terjadi outbreak meningitis di New York, Grindr memasang pop-up message yang bisa dilihat setiap penggunanya ketika membuka. Isi pesan adalah peringatan bahaya meningitis dan ajakan untuk melakukan tes bagi yang berisiko.

Menurut Hartoyo, hal yang sama bisa ditiru oleh Indonesia. “Kita bisa pasang stiker-stiker pesan di Grindr kalau kita bekerja sama,” jelasnya ketika dihubungi Kompas.com pada Selasa (2/9/2014).

Holloway mengatakan, cara sederhana lain bisa juga ditempuh. Ia mengungkapkan, klinik-klinik yang melayani pemeriksaan dan pengobatan HIV bisa membuka akun di aplikasi kencan. Hal itu akan memudahkan para LSL untuk mengakses dan bertanya.

Menurut Holloway, pemerintah, LSM dan klinik mungkin juga dapat menyediakan aplikasi tersendiri yang lebih interaktif khusus LSL. Aplikasi ini memungkinkan setiap LSL untuk bercakap, bertanya seputar HIV, meng-update isu kesehatan seksual, dan sebagainya.

Tapi, Hartoyo mengingatkan, “komunikasi itu cuma printilan.” Mengurangi infeksi HIV pada kalangan LSL tidak bisa cuma dilakukan dengan menjadikan mereka sebagai obyek dalam program pencegahan HIV.

“Mereka harus diajak untuk sadar. Bukan hanya soal HIV. Tetapi juga identitasnya, hak-nya sebagai homoseksual, dan hak kesehatannya. Kalau mereka punya kesadaran, tes HIV tidak perlu dikejar-kejar,” ungkapnya. Seperti Andy.

Selain soal komunikasi, persoalan pendanaan khusus untuk kalangan LSL juga penting. Selama ini, Indonesia hanya mengalokasikan dana 1 persen untuk menangani masalah HIV pada kelompok itu.

UNAIDSHasil survei spending beberapa negara di Asia Pasifik untuk HIV pada kalangan LSL. Survei membuktikan, banyak negara Asia Pasifik belum punya perhatian.

Andy baru saja tes HIV untuk pertama kalinya, 4 tahun setelah hubungan seks pertamanya. Dulu, ia enggan melakukannya. “Nggak cuma takut kalau kena HIV, tapi juga kalau tahu-tahu mahal biayanya. Tempatnya juga nggak tahu,” katanya.

“Berkat teman,” Andy menyebut cara ia mendapatkan informasi tentang tes HIV itu. Bukankah ini bisa diberikan Grindr dan aplikasi serupa lainnya?

Kompas.com