stat counter Kisah Awal Penculikan Sebelum Wartawan AS Dipenggal ISIS | Aceh Online Magazine

Kisah Awal Penculikan Sebelum Wartawan AS Dipenggal ISIS

Steven Sotloff antara lain berkontribusi untuk majalah Time dan Foreign Policy

Steven Sotloff antara lain berkontribusi untuk majalah Time dan Foreign Policy

Atjehcyber.com – Wartawan AS, Steven Sotloff, memulai perjalanan terakhirnya masuk wilayah Suriah dengan memberi hadiah kejutan untuk fixer (asisten lokal)-nya, Yosef Abobaker. Hadiah itu berupa sebuah kamera kecil.

“Selamat ulang tahun!” kata Sotloff kepada asisten yang juga pemandunya itu. Mereka telah berteman setahun, bermula saat Sotloff mewawancarai ayah Abobaker tentang perang saudara di Suriah.

Setelah itu, terjadilah sesuatu yang sungguh mengejutkan bagi kedua orang itu. Sekitar 15 anggota ISIS bertopeng dan bersenjata melompat keluar dari tiga mobil dan menjadikan mereka sebagai tawanan. Itulah awal kisah kelam yang berujung pada pembebasan bagi Abobaker, tetapi berakhir pada pemenggalan Sotloff.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN pada pekan ini, Abobaker memberikan sebuah laporan rinci tentang bagaimana dia, Sotloff, dan tiga pengawal bersenjata diculik di Suriah oleh kelompok militan ISIS pada Agustus 2013. Namun, sejak itu, tidak pernah ada pejabat AS yang mencoba untuk mewawancarai Abobaker tentang pengalamannya bersama ISIS dan penangkapan Sotloff.

“Tidak, tidak ada orang yang mencoba untuk menghubungi saya dan saya telah mencoba untuk membantu. Dari Pemerintah AS tidak ada yang datang ke saya dan bertanya kepada saya… Tidak ada yang menghubungi saya atau menanyakan tentang kondisi mereka,” kata Abobaker sesekali dalam bahasa Inggris patah-patah. “Mereka bisa menemukan saya. Sangat mudah. Akan tetapi, tidak, tidak ada yang mencoba untuk menghubungi saya.”

Seorang wakil keluarga Sotloff yang terus berkontak dengan Abobaker sebelum dan sesudah penangkapannya mengulangi klaim itu. Ia mengatakan, pemerintah atau lembaga keamanan AS, yang telah diberi tahu tentang keberadaan fixer itu dan hubungannya dengan Sotloff, tidak pernah berbicara dengan Abobaker. “Itulah salah satu dari banyak kesalahan,” kata juru bicara keluarga Sotloff, Barak Barfi, kepada CNN. Dia menolak untuk berkomentar lebih lanjut.

Pernyataan Abobaker bahwa para penculiknya merupakan kelompok militan ISIS tidak dapat diverifikasi secara independen.

Sejumlah pejabat FBI menolak berkomentar terkait tuduhan Abobaker dan Barfi, tetapi menegaskan bahwa mereka sedang menyelidiki kasus Sotloff. “FBI secara aktif sedang menyelidiki pembunuhan biadab terhadap Steven Sotloff di tangan para teroris, dan tidak akan membahas rincian investigasi saat ini. Kami berkomitmen untuk membawa pembunuh Steven Sotloff ke pengadilan,” kata juru bicara FBI, Paul Bresson.

Pembunuhan ISIS terhadap Sotloff mengejutkan dunia karena itu merupakan pemenggalan kedua terhadap warga Barat dari tiga aksi pemenggalan yang divideokan ISIS sejak bulan lalu. Yang pertama juga seorang wartawan AS, yaitu James Foley, bulan lalu. Yang kedua adalah Sotloff, pada bulan ini, lalu seorang pekerja bantuan Inggris, David Haines, pada pekan ini.

Sejak pemenggalan Sotloff, Abobaker masih terguncang atas nasib teman wartawannya itu dan nasib baik dirinya terkait pembebasannya, serta saudaranya dan dua sepupu yang pergi bersama Sotloff sebagai pengawal bersenjata. “Saya sangat marah, dan setelah itu saya diam dan sangat-sangat menyesal,” kata Abobaker dalam sebuah wawancara yang dilakukan di Turki. “Saya menulis pesan di Facebook (untuk) memberi tahu ibunya bahwa saya minta maaf. Saya telah melakukan yang terbaik untuk bisa menyelamatkannya …. Perasaan saya sangat sedih, seperti saya kehilangan saudara. Dia pria yang baik dan orang yang baik hati, saya hanya berharap dia bisa beristirahat dalam damai saat ini,” tambah Abobaker.

Abobaker menyalahkan seorang penjaga di perbatasan Turki-Suriah yang mungkin telah mengkhianati keberadaan Sotloff dengan mengontak pihak ISIS. CNN menghubungi sejumlah wartawan lain yang bekerja sama dengan Abobaker, dan mereka mengatakan bahwa dia adalah seorang fixer bagus dengan reputasi yang baik.

“Saya rasa mungkin seorang penjaga perbatasan (menghubungi ISIS). Mereka memanggilnya lewat radio, dan dia bilang bahwa dia (Sotloff) telah melewati daerah mereka. Kalian dapat menunggunya. Dia menggunakan jenis mobil seperti ini,” kata Abobaker. Sadar akan masalah keamanan, dia tidak menggunakan mobilnya pada hari itu, tetapi meminjam mobil lain.

Penculikan ini, kata Abobaker, terjadi hanya 20 menit setelah Sotloff, Abobaker, dan kerabatnya yang bertugas memberi bantuan untuk memasuki Suriah, pada tanggal 4 Agustus 2013.

Saat tim jurnalistik itu memasuki Suriah, Abobaker menelepon Barfi untuk mengonfirmasi bahwa kelompok itu sudah berada di wilayah Suriah.

Barfi sedang tinggal di sebuah hotel di Turki. Ketika ditanya mengapa dia tidak ikut melakukan perjalanan bersama Sotloff ke Suriah, Barfi mengatakan kepada CNN, “Saya tidak bisa lebih rinci lagi terkait hal ini.”

Perjalanan tersebut bukan kali pertama bagi Abobaker sebagai seorang fixer untuk wartawan. Sebagai fixer, ia mengatur segala macam hal, dari tugas pemanduan, terjemahan, hingga mengatur wawancara. Dia telah berpengalaman 18 bulan bekerja dengan setidaknya 100 wartawan lainnya. Dia mengatakan memasang tarif sebesar 80 dollar AS (Rp 955.000) per hari untuk memandu Sotloff.

Abobaker juga pernah jadi seorang pemberontak yang bertempur selama empat atau lima bulan di Suriah bersama brigade Tauhid, sebuah faksi Islam moderat. Dia bahkan menikah dengan mengenakan seragam tempurnya di Aleppo pada Februari 2013. Rekan-rekannya menembakkan senjata mereka ke udara saat perayaan pernikahannya. Itu terjadi enam bulan sebelum perjumpaan naasnya dengan anggota ISIS itu.

Saat orang-orang ISIS bertopeng dan bersenjata itu berhadapan dengan Abobaker serta rombongannya, ia sempat mengeluarkan pistolnya. Namun, dia melihat dirinya kalah jumlah. “Kami hanya empat orang, dan mereka 15 orang,” kata Abobaker. “Kami tidak punya kesempatan untuk membela (diri kami).”

Para pria bersenjata ISIS membawa Sotloff dan rombongan ke sebuah pabrik tekstil di pinggiran Aleppo. Di situlah kali terakhir Abobaker melihat Sotloff. Para tawanan disuruh untuk menutup mata mereka. Seorang penculik kemudian memukuli Sotloff dengan pistol dan mengatakan kepadanya untuk tidak melihat.

“Saya tahu semua jalan. Saya tahu jika mereka berbelok 500 meter, mereka berbelok ke kiri, mereka berbelok ke kanan …,” kata Abobaker.

Para tawanan ditahan seorang diri dalam kamar terpisah, dan Abobaker mendengar seorang penculiknya meminta paspor Sotloff. Awalnya, Abobaker tidak tahu siapa para penculik itu karena mereka beraksen Maroko, Libya, dan Aljazair.

Beberapa hari berlalu, ia bertanya-tanya apakah dirinya berhadapan dengan kaum militan yang berperang di Suriah dan Irak timur laut dalam upaya untuk membentuk sebuah kekhalifahan. “Kadang-kadang saya berpikir mereka akan membunuh kami semua karena saya telah bekerja dengan orang-orang asing,” kata Abobaker.

Setelah 15 hari penyekapan, Abobaker, saudaranya, dan kedua sepupunya dibebaskan para penculik. “Mereka bertanya kepada saya, apakah Anda tahu siapa kami, dan saya berkata ‘ya, saya rasa kalian adalah ISIS’,” kata Abobaker. “Mereka berkata, ya, kami seharusnya membunuh Anda. Anda mata-mata dan bekerja dengan Amerika, CIA, dan FBI, tetapi kami membebaskan Anda sekarang karena Anda bergabung dengan (Tauhid) karena saya punya surat-surat. Namun, jika kami mendengar Anda bekerja dengan wartawan lagi, kami pasti akan membunuh Anda.”

Menurut Barfi, keluarga Sotloff yakin bahwa ISIS membayar 50.000 dollar kepada para pemberontak yang memberi tahu kelompok militan itu bahwa wartawan tersebut telah memasuki Suriah.

Setelah dibebaskan, kata Abobaker, ia bertemu Barfi beberapa kali untuk melaporkan rincian tentang penculikan dirinya. Abobaker kemudian sering bepergian antara Turki dan Suriah, dan kadang-kadang ia bertanya kepada para mantan tawanan ISIS lainnya. “Apakah mereka tahu informasi soal seorang wartawan,” kata Abobaker.

“Saya kembali (ke Suriah), dan saya mencoba untuk mendapatkan informasi,” tambahnya.

Bahkan, Abobaker mendengar sebuah laporan bahwa Sotloff telah dipindahkan dari pabrik tekstil ke pusat industri, juga di luar Aleppo. Dia kemudian mendengar laporan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya bahwa Sotloff dipindahkan lagi, kali ini ke basis ISIS di Raqqa.

Setahun berlalu, Abobaker akhirnya melihat berita di internet. Sotloff, wartawan yang pernah memberinya sebuah hadiah ulang tahun, dibunuh secara biadab oleh algojo ISIS bertopeng hitam.

Abobaker mengatakan, ia kini telah memindahkan semua keluarganya dari Suriah ke Turki. Dua bulan lalu, ia telah menjadi seorang ayah.(Kompas/CNN)