Home Internasional Sepenggal Kisah Gadis Belia Yazidi Yang Berhasil Lolos Dari ISIS

Sepenggal Kisah Gadis Belia Yazidi Yang Berhasil Lolos Dari ISIS

1182
11
SHARE

Seorang gadis Yazidi yang diberi nama samaran Narin berhasil melarikan diri dari kaum militan ISIS. Namun ia sangat terluka oleh penderitaan yang dialaminya.
Seorang gadis Yazidi yang diberi nama samaran Narin berhasil melarikan diri dari kaum militan ISIS. Namun ia sangat terluka oleh penderitaan yang dialaminya.

Atjehcyber.com – Sebelum memulai kisah gadis ini, wartawan lepas, Mohammed A Salih, yang menulis berita ini untuk harian Washington Post, membuat catatan berikut.

“Ini merupakan kisah yang diceritakan kepada saya oleh seorang gadis Yazidi berusia 14 tahun yang saya panggil saja ‘Narin‘. Saat ini, dia tinggal di bagian utara Kurdistan, Irak. Saya seorang wartawan Kurdi dengan gelar jurnalistik dari University of Missouri di Columbia yang meliput Irak utara sebagai seorang wartawan lepas (freelancer) untuk sejumlah media berita internasional. Saya mendengar kisah Narin dari seorang teman warga Yazidi yang mengenal gadis itu. Selain menerjemahkan dari bahasa Kurdi dan mengutip kisahnya bersama sejumlah editor Washington Post, satu-satunya yang saya ubah adalah nama, sesuai permintaan Narin, demi melindungi dirinya dan para korban lain dari aksi balas dendam. Banyak kerabat Narin yang masih disekap.”

* * *

SAAT sang surya terbit di atas desaku yang berdebu pada 3 Agustus lalu, sejumlah kerabat memberitahukan berita menakutkan: kaum militan dari Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mendatangi kami. Aku mengharapkan satu hari penuh tugas rumah tangga di Tel Uzer, tempat yang tenang di dataran Nineveh barat, Irak, di mana aku tinggal bersama keluargaku. Alih-alih, kami justru bergegas keluar kota dengan berjalan kaki, hanya membawa pakaian dan beberapa barang berharga.

Setelah satu jam berjalan ke utara, kami berhenti untuk minum air dari sebuah sumur di jantung gurun. Rencana kami adalah berlindung di Gunung Sinjar, bersama ribuan warga Yazidi lain seperti kami yang telah melarikan diri ke sana, karena kami mendengar banyak cerita tentang kebrutalan ISIS dan apa yang mereka lakukan terhadap orang yang tidak seagama dengan mereka. Mereka paksa kaum minoritas pindah agama atau membunuh mereka. Namun, tiba-tiba sejumlah kendaraan muncul dan kami mendapati diri dikelilingi kaum militan yang mengenakan seragam ISIS. Beberapa orang menjerit histeris. Kami takut akan nasib kami. Hingga usiaku mencapai 14 tahun, aku belum pernah merasa sedemikan tak berdaya. Mereka telah menghalangi jalan kami dan tidak ada yang bisa kami lakukan.

Kaum militan memisahkan kami berdasarkan jenis kelamin dan usia. Satu kelompok untuk para pria muda dan yang masih kuat, satu kelompok lagi untuk para gadis belia dan wanita muda, dan kelompok ketiga untuk pria dan wanita tua. Kaum militan itu mencuri uang tunai dan perhiasan dari kelompok terakhir itu dan meninggalkan mereka sendirian di oasis. Lalu, mereka menempatkan para gadis dan perempuan dalam sejumlah truk. Ketika mereka membawa kami pergi, kami mendengar suara tembakan. Belakangan, kami mengetahui bahwa mereka membunuh para pria muda, termasuk saudaraku yang berusia 19 tahun, yang baru saja menikah enam bulan lalu.

Sore itu, mereka membawa kami ke sebuah sekolah kosong di Baaj, sebuah kota kecil di sebelah barat Mosul, dekat perbatasan Suriah. Kami bertemu dengan banyak perempuan Yazidi lain yang ditangkap ISIS. Ayah, saudara, dan suami mereka juga telah tewas. Demikian kata mereka kepada kami. Kemudian, sejumlah militan ISIS masuk. Salah satunya membacakan kalimat syahadat dan mengatakan bahwa jika kami mengulangi kalimat itu, kami akan menjadi Muslim. Namun, kami tolak. Mereka marah. Mereka menghina dan mengecam kami dan keyakinan kami.

Beberapa hari kemudian, kami dibawa ke sebuah aula besar yang penuh dengan puluhan gadis belia dan perempuan Yazidi di Mosul, di mana ISIS punya kantor pusat untuk wilayah Irak. Beberapa anggota ISIS itu seusiaku. Mereka memberi tahu bahwa kami kafir dan menyekap kami selama 20 hari di dalam gedung itu, di mana kami tidur di lantai dan makan hanya sekali sehari. Sesekali, seorang anggota ISIS akan datang dan memberi tahu kami untuk jadi mualaf, tetapi setiap kali kami tolak. Sebagai umat Yazidi yang setia, kami tidak akan meninggalkan agama kami. Kami banyak menangis dan meratapi kerugian yang diderita masyarakat kami.

Suatu hari, para penjaga kami memisahkan perempuan yang telah menikah dari mereka yang belum menikah. Teman baik dari masa kecilku, Shayma, dan aku dijadikan sebagai hadiah untuk dua anggota ISIS dari selatan, dekat Baghdad. Mereka ingin menjadikan kami istri atau selir mereka. Shayma diberikan kepada Abu Hussein, yang merupakan seorang ulama. Aku diberikan ke seorang pria gendut, berjanggut gelap berusia sekitar 50 tahun, yang tampaknya berpangkat tinggi. Dia menggunakan nama julukan Abu Ahmed. Mereka mengantar kami ke rumah mereka di Fallujah. Dalam perjalanan, kami melihat banyak anggota ISIS dan sisa-sisa pertempuran mereka.

Abu Ahmed, Abu Hussein, dan seorang pembantu tinggal di sebuah rumah di Fallujah yang tampak seperti sebuah istana. Abu Ahmed terus mengatakan kepadaku untuk jadi mualaf. Namun, saya diabaikan. Dia beberapa kali mencoba untuk memerkosaku, tetapi aku tidak membiarkan dia menyentuhku secara seksual. Dia lalu mengutuk dan memukuliku setiap hari, meninju, dan menendangku. Dia memberiku makan hanya sekali sehari. Shayma dan aku mulai mendiskusikan untuk melakukan bunuh diri.

Kami diberi ponsel dan diperintahkan untuk menelepon keluarga kami. Perjalanan mereka hampir sama beratnya dengan kami. Mereka berhasil mencapai Gunung Sinjar, di mana ISIS mengepung mereka dan mencoba untuk membuat mereka mati kelaparan. Setelah lima hari dalam pengepungan, pasukan Kurdi mengevakuasi mereka ke Suriah dan kemudian membawa mereka kembali ke Irak utara. Jika mereka melakukan perjalanan ke Mosul dan masuk Islam, sebagaimana penculik kami mengharuskan kami memberi tahu keluarga kami itu, kami akan dibebaskan. Untungnya, mereka tidak percaya ISIS sehingga mereka tidak menempuh rute itu.

Pada hari keenam kami di Fallujah, Abu Ahmed dan pembantunya pergi karena ada urusan di Mosul. Abu Hussein, penculiknya Shayma, tinggal di rumah. Saat matahari terbenam pada hari berikutnya, pria itu pergi ke masjid untuk shalat, meninggalkan kami sendirian di rumah itu. Dengan menggunakan ponsel kami, kami menghubungi Mahmoud, seorang teman Sunni dari sepupu Shayma, yang tinggal di Fallujah, untuk memohon bantuan. Terlalu berbahaya baginya untuk melepaskan kami dari rumah itu. Jadi, Shayma dan aku menggunakan pisau dapur dan pisau daging untuk memecahkan kunci dari buah pintu agar bisa keluar. Dengan mengenakan pakaian abaya hitam tradisional bekas yang kami temukan di rumah itu, kami berjalan sekitar 15 menit melewati kota yang tenang karena saat itu waktu shalat maghrib. Kemudian, Mahmoud datang dan menjemput kami di jalan dan membawa kami ke rumahnya.

Malam itu, Mahmoud memberi kami makan dan tempat untuk tidur. Keesokan paginya, dia merekrut seorang sopir taksi untuk membawa kami dalam sebuah perjalanan selama dua jam ke Baghdad. Sopir itu mengatakan, dia takut kepada ISIS, tetapi menawarkan diri untuk membantu kami. Kami berpakaian seperti wanita lokal dan menutupi wajah kami dengan niqab, hanya menyisakan mata kami terlihat. Mahmoud memberi kami ID mahasiswa palsu untuk berjaga-jaga jika kami dihentikan di pos pemeriksaan.

Aku belum pernah merasa begitu cemas. Di setiap pos pemeriksaan, aku yakin bahwa kami akan diketahui. Pada satu ketika, aku tidak ingat apakah pos itu dikendalikan pasukan ISIS atau Irak. Mahmoud menyuap para penjaga agar membiarkan kami lewat. Kami telah menghubungi keluarga Yazidi dan teman-teman keluarga Kurdi Muslim untuk membantu kami di Baghdad, dan aku tidak bisa menggambarkan kelegaan yang aku rasakan ketika kami tiba di rumah mereka.

Di Baghdad, teman-teman keluarga memberi kami sepasang KTP palsu yang memungkinkan kami naik pesawat ke Arbil, ibu kota Kurdistan di utara. Aku masih tidak bisa percaya bahwa kami bebas sampai pesawat kami menyentuh landasan. Setelah tinggal di Arbil semalam, di rumah anggota parlemen Irak dari komunitas Yazidi, Vian Dakhil, kami pergi ke utara ke Shekhan, ke kediaman Baba Sheikh, pemimpin spiritual Yazidi di dunia.

Setelah begitu ketakutan selama berhari-hari, memeluk ayahku lagi merupakan saat terbaik dalam hidupku. Dia mengatakan, dia menangisiku setiap hari sejak aku hilang. Malam itu, kami pergi ke Khanke, di mana ibuku tinggal bersama kerabatnya. Kami berpelukan dan terus menangis sampai aku pingsan. Penderitaanku selama sebulan berakhir, dan aku merasa terlahir kembali.

Namun, kabar yang lebih buruk datang. Saat itulah aku tahu bahwa ISIS telah menembak saudaraku di oasis. Adik iparku, seorang wanita yang sangat cantik, masih disekap di suatu tempat di Mosul.

Sekarang aku mencoba untuk berdamai dengan apa yang terjadi. Aku tidak pernah lagi menginjakkan kakiku di desa kecil kami, bahkan jika desa itu pun dibebaskan dari ISIS, karena ingatan tentang saudaraku yang meninggal di dekatnya akan sangat menghantuiku. Aku masih mengalami mimpi buruk dan pingsan beberapa kali sehari, saat aku ingat apa yang aku lihat atau bayangkan apa yang akan terjadi jika Shayma dan aku tidak melarikan diri.

Apa yang bisa kulakukan? Aku ingin meninggalkan negara ini. Negara ini bukan lagi tempat untukku. Aku ingin pergi ke tempat di mana aku mungkin bisa mulai lagi dari awal, kalau memang itu mungkin. ( Kompas.com / The Washington Post)