Home Nanggroe Diakah Si Pembisik Gubernur Zaini Itu?

Diakah Si Pembisik Gubernur Zaini Itu?

488
0
SHARE

Atjehcyber.com – Beberapa hari ini saya absen menulis di media ini. Saya lagi kering ide. Tadi pagi saya mencoba membaca beberapa artikel di media ini. Dari sejumlah artikel saya memilih membaca “Terbuai Pembisik Peng Grik”.

Artikel ini memuat tentang seseorang yang dikatakan pembisik. Saya seperti merefrest kembali memori saya. Maklumlah sudah berumur, jadinya pengalaman yang tidak terlalu berkesan menjadi mudah lupa. Seperti pemimpin kita di Aceh yang mudah lupa kepada para teman seiring dan pengalaman perjuangan .

Saya juga heran kenapa begitu? Apakah faktor usia beliau atau memang karakter. Saya amat bimbang dalam hal ini. Sepanjang interaksi saya dengan beliau sejak dulu saya memang mengenal beliau primordial. Tapi saya sama sekali tidak punya kesan dengan kesukaan beliau dipuji dan disanjung. Apakah ini karena faktor ketuaan beliau atau karena pengaruh lingkungan dan kekuasaannya sekarang.

Tapi sungguh kasihan bila perubahan drastis itu terjadi karena faktor lingkungan sekarang saat beliau dipanggung kekuasaan. Karena itu akan menghancurkan kehidupan beliau di masa depan. Baik di dunia dan akhirat. Loh kok saya bawa-bawa akhirat segala. Baiklah biar pembaca saya berikan logika saya . Ini hanya logika saya jadi sangat boleh anda tidak percaya. Anggap saja sekelebat tas kresek yang diterbang angin.

Di dunia bila ada umur panjang setelah kekuasaannya berakhir kalau gagal meminpin Aceh maka akan di hujat terus oleh rakyat. Dipastikan kawan-kawan atau anak buahnya seperjuangan akan menjauh dan terus mengutuk, apalagi lawan. Orang-orang baru yang datang setelah beliau berkuasa, saya berani taruhan bahwa mereka akan melambaikan tangan selamat tinggal seiring beliau meninggalkan kursi Gubernur.

Mereka butuh beliau karena hanya tiga hal. Pertama azas manfaat baik jabatan maupun akses ekonomi. Kedua kepentingan politis jangka pendek dan jangka menengah. PA harus dihancurkan melalui tangan Doto Zaini. Maaf saya menyebut beliau Abu Doto. Karena gelar Abu Doto datang dati para penjilat setelah beliau jadi gubernur. Lagian gelar Abu di Aceh umumnya kepada Ulama.

Mungkin gelar Abu yang tenar di Aceh tapi bukan ulama hanya dua orang di mata saya. Yaitu Abu doto gubernur kita dan Abu Shalihin seorang pedagang otodidak yang lumayan sukses asal Panton Labu. Yang lain sebutan Abu yang saya tau ya para ulama.

Upssss, kok sudah kayak layang putus tali tulisan ini. Hampir saya lupa menjelaskan akibat di akhirat. Sebagai pemimpin beliau jelas akan di minta pertanghungjawaban di akhirat kelak. Nah saya kira saya tak perlu menjelaskan pa jang lebar soal ini bila selama beliau memimpin anak yatim dan orang miskin masih di posisi ” deuek deuek troe”. Kacaunya lagi bila termasuk dalam kriteria munafik.

Contohnya “cakap tak serupa bikin” kata orang malaya. Janji kampanye. Contohnya lagi melanggar sumpah jabatan dan ketentuan pasal 47 UUPA. Disitu jelas Gubernur dilarang KKN. Nyata ? Simpulkan sendiri. Sungguh tak bisa kita membayangkan pemimpin kita kena di dunia dan akhirat.

Nah walaupun lari kesana kemari tulisannya kita tetap kembali ke asal atau ke pangkalan. Pangkalan tulisan ini adalah soal pembual, upss pembisik maksudnya. Terkait hal ini saya juga berpengalaman dengan hal itu. Orangnya entah sama dengan pembisik ditulisan tetsebut diatas. Saya ragu antara iya atau tidak. Tapi saya yakin tidak sama.

Nah menjelang pilpres yang lalu. Pertentangan Gubernur dan Wakil Gubernur menuncak. Tak lain dan tak bukan saol dukung mendukung capres.  “Gob cang Geureuda tanyoe labo darah”. Perseteruan terkeras datang dari Meuligoe Gub. Bahkan cenderung anarkhir secara politik dan mental. Padahal daerah lain juga beda dukungan tapi tidak “sok mok” seperti di Aceh.

Perseteruan ini kemudian meruncing menjadi upaya pendongkelan Ketum PA Muzakkir Manaf. Upaya ini datang dari Meuligoe Gubernur. Di sinilah peran penggagas alias pembisik tadi. Suatu ketika beliau menyampaikan ke saya bahwa akan ada gerakan untuk memakzulkan Mualem (Muzakir Manaf).

Upaya ini akan dilakukan para eks libya. “Mereka sedang melakukan konsolidasi dan segera menyampaikan sikap ke tuha peuet,” begitu beliau menyampaikan kesaya.  Dalam percakapan sehari-hari dengan saya, beliau yang pembisik ini selalu membicarakan bagaimana caranya agar kedua pemimpin berbaikan dan lebih mengutamakan rakyat di banding urusan politik lainnya.

Beliau itu juga mengenalkan ke saya seorang eks Libya yang sehari harinya menjadi supir beliau dalam beberapa kesempatan. Dalam kesempatan yang lain, sepulang dari Idi bersama Gubernur untuk membuka Acara PORA kami minum kelapa muda di Blang Geudong, Aceh Utara. Kami duluan pulang dibanding rombongan Gubernur. Ketika sedang menikmati kelapa muda beliau menunjukkkan ke saya AD ÀRT Partai Aceh. Walaupun beliau PNS tapi sangat melek politik praktis.

Sambil menunjukkan pasal demi pasal ke kuasaan Tuha Peuet untuk mengganti Ketua Umum dan pengurus lainnya. Beliau juga menampakkan kes aya resume untuk konfrensi pers terkait pasal-pasal itu. Nah ketika pertemuan beberapa eks libya di meuligoe dalam acara buka puasa bersama dan dibacakan pernyataan sikap menuntut Mubeslub PA.

Sebetulnya, saya tak tahu ada acara itu. Tetapi esoknya saya baca di harian Serambi Indonesia. Saya langsung terperangah ketika itu. Karena isi siaran pers yang dimuat itu persis dengan yang pernah saya baca dari beliau di Blang Geudong. Begitu juga pertemuan itu. Pas buaaaanget ceritanya, bahkan cerita itu diucapkan sebelum peristiwanya terjadi.

Dari sini dan beberapa kejadian lain setelah saya renungi besar kemungkinan beliaulah aktor intelektualnya. Yang menarik dari beliau sangat hobbi mengoleksi telpon pintar blackberry hadiah para pejabat. Satu hal yang menarik bahkan saya sangat bersimpati ke beliau karena visi beliau dengan masa depan Aceh. Tapi entahlah semoga beliau tidak marah.

Tentu saja harapan kita beliau selaku orang dekat gubernur akan dicatat dalam sejarah sebagai orang yang punya peran besar dalam rezim Aceh kali ini. []