stat counter Din Minimi Mengaku Tertembak di Betis | Aceh Online Magazine

Din Minimi Mengaku Tertembak di Betis

Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi (c) Ist

Nurdin bin Ismail Amat alias Din Minimi (c) Ist

Atjehcyber.comNurdin bin Ismail Amat alias Abu Minimi pada Jumat, 2 Januari 2015, sekitar pukul 15.10 WIB menghubungi Serambi dan berbicara melalui telepon genggam sekitar 15 menit. Dia mengaku tertembak di betis kirinya saat berlangsung penggerebekan oleh aparat Polres Aceh Timur pada Minggu (28/12/2014) sekitar pukul 21.00 WIB di kampungnya, Desa Ladang Baroe, Kecamatan Julok, Aceh Timur.

Din Minimi menyebutkan bahwa waktu itu dia memang ada pulang ke kediamannya. “Saya pulang karena mau melihat kondisi rumah setelah dilanda banjir. Lalu saya duduk–duduk di kedai depan rumah sambil ngopi bersama warga. Belum sempat saya minum kopi, tiba-tiba turun personel polisi dari mobil dan langsung melepas tembakan ke arah saya. Langsung saja saya masuk ke dalam rumah mengambil senjata dan saya kokang, tapi tidak ada saya lepaskan sebutir peluru pun,” ujarnya.

Malah, menurut Din Minimi, kalau waktu itu dia membalas tembakan polisi bisa saja. “Tapi saya tidak ada niat membalas. Namun, mereka tidak memikirkan saya, keluarga, dan anak saya, mereka tega langsung menembak saya tanpa memikirkan hak asasi saya,” ujar mantan kombatan GAM yang masih menguasai senjata api ini.

Ia juga bercerita kepada Serambi tentang caranya meloloskan diri saat digerebek polisi. “Saya buka pintu belakang rumah, lalu saya lompat dan berlari. Saat itu terus ditembaki dan saya jatuh bangun. Saya terus berlari sampai akhirnya terkena sebutir peluru yang menembus tulang betis kaki kiri saya,” ungkap Din Minimi.

Waktu itu, kata Din Minimi, ia sempat berpikir sudah tak mungkin lagi hidup. “Soalnya, antara saya dengan polisi berjarak tiga meter hanya dibatasi dinding rumah. Tapi saya terus berlari dan tidak membalas dengan sebutir peluru pun. Saya pikir, sudah nggak hidup lagi saat itu, tetapi Allah masih melindungi saya,” ujarnya.

Din Minimi juga mengaku bahwa betisnya yang tertembak itu sudah diobati dan sudah sembuh. “Saat ini saya sudah bisa jalan dan berlari–lari,” ucapnya.

Menurut Din Minimi, saat ia disergap saat itu sejumlah teman setia sedang berada bersamanya, tetapi tidak dia izinkan untuk membalas tembakan polisi. “Waktu itu beberapa teman sedang bersama saya, tetapi memang tidak saya kasih untuk membalas. Biarkan saja polisi terus memburu saya, tetapi saya tidak mengganggu mereka, niat saya baik kok dan saya tidak berbuat jahat,” katanya.

Ia tambahkan, “Saya berjuang untuk menuntut keadilan agar pemerintah memperhatikan kehidupan mantan kombatan GAM serta memperhatikan kelangsungan pendidikan bagi anak yatim dan janda korban konflik yang kehidupan mereka sangat memprihatinkan.”

Pria ini berargumen, “Kalau saya berjuang untuk pribadi saya bisa saja saya turun dan menyerahkan diri, tapi saya justru berjuang ini untuk masyarakat miskin.”

Din Minimi juga menyatakan bahwa sampai saat ini ia tidak pernah menjalin komunikasi dengan pihak ketiga sebagai mediatornya untuk menyerahkan diri. “Saya tidak ada komunikasi dengan pihak mana pun untuk berniat menyerahkan diri. Tidak ada itu,” imbuhnya.

Menurut Din Minimi, pemerintah harus peduli terhadap kehidupannya bersama anggotanya selaku eks kombatan GAM. “Kami juga masih bisa dididik tanpa harus mengorbankan nyawa kami. Apakah polisi tak punya kasih sayang terhadap kami?” ujarnya bertanya.

 Versi Kapolda
Pengakuan Din Minimi bahwa ia tertembak di betis, hampir senada dengan pernyataan Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi saat berlangsung konferensi pers akhir tahun di Mapolda Aceh, Rabu, 31 Desember 2014 lalu. Saat itu Kapolda, antara lain, mengatakan, “Saat penggrebekan itu, dia melarikan diri sambil melepaskan tembakan, sehingga polisi juga membalas tembakan. Informasinya, tembakan polisi mengenai bagian kaki Din Minimi, tapi saya belum memperoleh informasi resmi soal dia terkena tembakan itu.”

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Aceh Timur, AKBP Muhajir SIK MH sebelumnya juga memaparkan kepada wartawan di Idi bahwa karena Din Minimi melarikan diri, maka para petugas yang menyergapnya melepaskan tembakan peringatan ke udara. Tapi Din Minimi terus melarikan diri sambil membalas tembakan, sehingga terjadi kontak tembak beberapa menit. “Tapi kita tidak tahu apakah Din Minimi terkena atau tidak,” ujar Kapolres saat itu.

Begitupun, ada sejumlah keterangan Din Minimi kepada Serambi yang tak senada dengan pengakuan pihak kepolisian. Misalnya, tempatnya disergap, menurut Din Minimi, di warung yang berada di depan rumahnya. Tapi, menurut polisi, Din Minimi disergap justru di rumahnya yang berupa rumah panggung.

Hal lainnya yang berbeda adalah tentang kontak tembak. Versi polisi, Din Minimi melepas tembakan ke arah polisi sambil melarikan diri, sedangkan menurut Din Minimi ia hanya lari menyelamatkan diri, tanpa membalas sekalipun tembakan polisi.

Din Minimi adalah mantan kombatan GAM yang masih menguasai senjata api dan, menurut polisi, terlibat serangkaian tindak kejahatan bersenjata api. Di antaranya, merampok, menculik, dan memeras korbannya di wilayah hukum Aceh Timur.

 

You must be logged in to post a comment Login