Home Nanggroe Disesalkan, Wali Nanggroe Absen di Ijtima’ Cot Goh

Disesalkan, Wali Nanggroe Absen di Ijtima’ Cot Goh

2527
0
SHARE

Wali Nanggroe Malik Mahmud
Wali Nanggroe Malik Mahmud

Atjehcyber.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh terpilih Ghazali Abbas Adan, menyesalkan tidak hadirnya  Wali Nanggroe Malik Mahmud pada acara ijtima’ umat Islam dari bebagai negara di Masjid Cot Goh, Kecamatan Montasik, Aceh Besar pada hari Rabu (17/09/2014) lalu.

Menurut Gahzali Abbas, seharusnya Malik Mahmud  berhadir pada kegiatan tersebut. Mengingat, fungsi dan peran Wali Nanggroe sebagai pemersatu rakyat, termasuk pemersatu umat Islam.

“Dalam ijtiima’ kolosal ummat Islam ini saya mempertanyakan mengapa Malik Mahmud yang oleh DPRA masa bakti 2009-2014 dan pengikutnya sudah dinobat dan digadangkan sebagai Wali Nanggroe dengan rupa-rupa gelar yang selangit itu tidak muncul,” Ghazali Abbas dalam pernyataan tertulisnya yang diterima AtjehLINK, Jumat (19/09/2014).

Selain itu, kata Gahzali Abbas, Qanun Aceh tentang Pokok-Pokok Syariat Islam di dalamnya disebutkan, bahwa Wali Nanggroe sebagai pengarah pelaksanaan syariat Islam di Aceh.

“Padahal semestinya dia (Wali Nanggroe) hadir, apalagi melihat kehadiran ribuan jamaah  ijtima’ kaum muslimin di Cot Goh dapat dikatakan berskala internasional,” ujarnya.

Jika Malik Mahmud hadir dalam acara Syiar Cot Goh itu, kata dia, tentu dapat didaulat menyampaikan taushiyah dan pengarahannya berdasarkan nash quran dan hadis sekaitan dengan pelaksanaan syariat Islam di  Aceh.

Selebihnya, sambung Ghazali, momen tersebut dapat menjadi kesempatan bagi Malik Mahmud selaku Wali Nanggroe untuk dikenal oleh para ulama terutama dari berbagai negara tersebut, dan maklum akan kedalaman ilmu keislamannya sesuai status dan dan fungsinya sebagai Wali Nanggroe di tanah syariat Islam Aceh.

“Serta dalam waktu yang bersamaan semakin yakin akan keseriusan dan kesungguhan pemimpin dan segenap ummat Islam Aceh menegakkan syariat Islam,” imbuh Ghazali Abbas.

Keditakhadiran Wali Nangroe pada ijtima’ Cot Goh juga dipandang kontras dengan keberadaanya dalam sejumlah pertemuan penting Aceh selama ini dengan berbagai pihakdi bawah kepemimpinan Gubernur Zaini Abdullah. Menurut Ghazali, Wali Nanggroe kerap hadir dan menemani Gubernur Zaini termasuk ke luar negeri dalam berbagai pertemuan penting terkait kepentingan Aceh.

Namun, Ghazali menyayangkan hanya Gubernur Zaini Abdullah yang hadir di pertemuan ijtima Cot Goh yang dihadiri umat Islam dari berbagai negara di antaranya Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Benglades, Thailand dan India itu.

“Saya kira ke Cot Goh yang dekat itu tidak salah apabila Malik Mahmud juga dapat ikut rombongan Gubernur,” sebut mantan anggota DPR RI ini.

“Atau boleh jadi ketidakhadiran Malik Mahmud itu karena panitia pelaksana lupa mengundangnya, wallahi ‘alam. Namun, seperti yang sering terjadi selama ini, bahwa Malik Mahmud kerap ikut atau diikutsertakan Gubernur, bahkan sampai ke luar negeri yang menurut saya tidak urgent dan menghabiskan uang rakyat,” imbuhnya.

Harusnya, lanjut Ghazali Abbas, sesuai tupoksinya selaku Wali Nanggroe, kehadiran Malik Mahmud dalam acara yang demikian, lebih realistis dan bermakna ketimbang nampang dalam baliho besar yang dipajang di jalan-jalan protokol menyambut event-event tertentu di Aceh seperti yang dipamerkan selama ini.

“Lagi pula biaya pemasangan baliho itu tidaklah murah, kecuali apabila biayanya itu dirogoh dari kocek Malik Mahmud sendiri atau dari dompet pengikutnya. Apabila dari uang rakyat,  sebagai salah seorang rakyat jelata di Aceh dengan tegas harus saya katakan tidak setuju, itu tindakan tabdzir (pemborosan) uang rakyat, karena menurut saya, dari baliho itu tidak memberi manfaat apapun kepada rakyat. Ada hadis Rasulullah Muhammad SAW yang menyatakan; manusia paling baik adalah yang bermanfaat bagi orang banyak,” pungkas Ghazali Abbas Adan. (sp/atjehlink)