Home Nanggroe Kampus Unsyiah Gayo Lues Resmi Beroperasi

Kampus Unsyiah Gayo Lues Resmi Beroperasi

774
0
SHARE

* Terima Mahasiswa 3-5 September

DIRJEN Dikti, Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc (kiri) Bupati Galus Ibnu Hasim, Ketua DPRK Galus, Said Sani (tengah) dan Rektor Unsyiah Banda Aceh Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng (kanan) menekan tombol sebagai tanda peresmian Kampus Unsyiah Gayo Lues, Selasa (2/9). SERAMBI/RASIDAN
DIRJEN Dikti, Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc (kiri) Bupati Galus Ibnu Hasim, Ketua DPRK Galus, Said Sani (tengah) dan Rektor Unsyiah Banda Aceh Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng (kanan) menekan tombol sebagai tanda peresmian Kampus Unsyiah Gayo Lues, Selasa (2/9). SERAMBI/RASIDAN

Atjehcyber.com – BLANGKEJEREN – Kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) di Kabupaten Gayo Lues (Galus) yang berada di Blangnangka, Kecamatan Blangjerango, resmi beroperasi, Selasa (2/9) kemarin setelah diresmikan Direktur Jenderal Direktorat Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Prof Dr Ir Djoko Santoso MSc.

Peresmiannya ditandai dengan penekanan tombol oleh Dirjen Dikti bersama Rektor Unsyiah Banda Aceh Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng, Bupati Galus Ibnu Hasim, dan Ketua Sementara DPRK Galus Said Sani, kemarin petang. Resminya kampus ini bernama Kampus Program Studi di Luar Domisili (PDD) Unsyiah di Galus.

Prosesi peresmian kampus itu berlangsung meriah, dihadiri ribuan undangan mulai dari pejabat, PNS, pelajar, serta warga sekitar. Hujan lebat menyertai prosesi peresmian kampus tersebut, sehingga Dirjen Dikti dan Rektor Unsyiah serta Bupati Galus terpaksa terus-menerus dipayungi. Baik saat menekan tombol peresmian maupun ketika menandatangani prasasti.

Saat ditanyai Serambi tentang prosesi peresmian itu, Prof Djoko Santoso memaknai hujan tersebut sebagai tanda rahmat Allah kepada masyarakat Galus yang kemarin resmi memiliki universitas negeri, bagian dari Unsyiah yang berkedudukan di Darussalam, Banda Aceh.

Ia mengaku amat terkesan dengan wilayah cagar alam yang berada di kawasan kaki Gunung Leuser. Karena itu pula ia yakin, program studi (prodi) kehutanan sebagai salah satu dari empat prodi yang kini dibuka di Unsyiah Galus ini, akan terkenal nantinya.

“Meski Unsyiah Galus baru memiliki empat prodi pada tahap pertama, tetapi yakinlah Unsyiah Galus akan mampu menciptakan generasi bangsa yang bermutu,” ujarnya optimis.

Dengan adanya Unsyiah Galus di Blangjerango saat ini, kata Prof Djoko Santoso, maka masyarakat Galus dan kabupaten tetangganya tak perlu lagi pergi jauh-jauh untuk kuliah. Ini mengirit biaya.

Dirjen Dikti ini menilai, keempat prodi yang dibuka di Unsyiah Galus itu belumlah cukup, sehingga ia minta Rektor Unsyiah segera menyusun dan menyusulkan prodi lainnya. “Soal pendanaan selanjutnya, Kampus Unsyiah Galus ini akan dibantu melalui dana APBN karena Unsyiah Galus merupakan bagian dari Unsyiah Darusalam, Banda Aceh. Selain itu, pemerintah daerah juga harus tetap membantu,” kata Dirjen Dikti.

Saat hendak berangkat menuju Kutacane ke Medan kemarin sore, Prof Djoko mengatakan, masih ada peluang bagi kabupaten/kota untuk membangun atau membuka kampus selagi tidak bertentangan dengan undang-undang, lain halnya dengan pembukaan kuliah kelas jauh.

Terpisah, Rektor Unsyiah Banda Aceh, Prof Dr Samsul Rizal MEng mengatakan, setelah Kampus Unsyiah Galus resmi beroperasi kemarin, pendaftaran mahasiswa barunya dibuka mulai hari ini, 3 hingga 5 September 2014. Selanjutnya, 6 September ujian tulis, tanggal 8 September pengumuman hasil tes.

“Pendaftarannya dilakukan secara manual di Kampus Unsyiah Galus. Tapi untuk penerimaan mahasiswa baru tahun depan pendaftarannya akan dilakukan secara online,” kata Samsul Rizal.

Tahun ini, prodi yang menerima mahasiswa baru untuk kuliah meliputi: Ekonomi Manajemen (Fakultas Ekonomi), Pendidikan Biologi (FKIP), Prodi Agroteknologi dan Prodi Kehutanan (Fakultas Pertanian). Khusus Prodi Kehutanan dimandatkan Kemendikbud untuk dibuka di kampus ini.

Sebagaimana diberitakan terdahulu, Kampus Unsyiah Galus yang menampung sekitar 2.000 mahasiswa baru itu digagas empat tahun lalu. Bahkan program ini disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 yang membedakannya dengan program kelas jauh yang sudah tidak lagi diperbolehkan pemerintah berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. (c40/Serambi)