Home Nanggroe Ketua IMT-GT: Aceh Masih Kampungan

Ketua IMT-GT: Aceh Masih Kampungan

504
0
SHARE

imt-gt-sept-2013
Foto IMT-GT 2013

Atjehcyber.com – Pernyataan Ketua IMT-GT (Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle), Dato’ Faudzi Naim Hj Noh, yang menyatakan promosi investasi Aceh masih kampungan, mendapat reaksi beragam dari para pengusaha pelaku pariwisata dan pakar di Aceh.

Sejumlah kalangan yang dihubungi maupun menghubungi Serambi sepanjang hari kemarin hampir semuanya menyatakan sependapat dengan pernyataan yang disampaikan Dato’ Faudzi Naim Hj Noh.

“Kita terima pernyataan (kampungan) CEO IMT-GT itu. Kita jadikan itu sebagai bahan introspeksi dan evaluasi untuk berubah. Sejujurnya, itulah wajah promosi dan investasi kita,” kata Wakil Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Aceh, Ustaz Mujiburrizal, dari Malaysia kepada Serambi, Jumat (12/9).

Menurutnya, hal itu terjadi karena Pemerintah Aceh tidak punya konsep, tidak serius, penempatan SDM yang tidak tepat, tidak punya program yang kontinyu dan terukur, tidak ada target, tim tidak kompak, serta kurangnya koordinasi antarbidang, dinas, instansi dan stake holder.

“Masing-masing jalan sendiri. Padahal pada kenyataannya, untuk konteks pariwisata, untuk jangka pendek ini tidak memerlukan investasi yang besar,” imbuhnya.

Selama ini pun, lanjut Mujiburrizal, tren wisata syariah Aceh cukup baik diterima para wisatawan, terutama wisatawan Asean dan Nusantara. Ini pun atas kerja keras dari pelaku pariwisata, bukan Pemerintah Aceh. Sayangnya, tahun 2013 dan 2014, tidak ada satu pun promosi di Malaysia yang diikuti Aceh, padahal wisatawan terbesar dari Malaysia.

“Silakan cek dari Agustus sampai Desember nanti, peningkatan turis dari Malaysia sangat signifikan. Untuk itu, berdasarkan pengalaman kami di lapangan selama ini, kami ingin menawarkan konsep wisata syariah kepada Pemerintah Aceh. Mari kita ubah mental kita dari menghabiskan anggaran kepada bagaimana meningkatkan devisa Aceh melalui industri pariwisata syariah. Kami siap mempresentasikan dan bekerjasama dengan semua pihak,” tegasnya.

 Wajar kampungan
Hal senada juga disampaikan Ketua Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Aceh, Hasbul Fayadi. Dikatakannya, promosi pada dasarnya merupakan investasi. Oleh karena itu harus dikerjakan secara profesional, terencana dan terukur, diseusaikan dengan kondisi dan situasi daerah, dan dikerjakan oleh orang-orang yang profesional.

“Pemahaman bahwa promosi adalah investasi, inilah yang tidak ada. Selama ini promosi dikerjakan sendiri dan asal jadi. Jadi kalau ada statemen promosi Aceh kampungan, ya wajar saja,” ujarnya.

Pengamat ekonomi Aceh, Rustam Effendi juga memberi pandangan serupa. Menurutnya, promosi yang dilakukan oleh Pemerintah Aceh belum terjadwal dengan baik dan masih bersifat dadakan. Substansi promosi masih miskin, tidak kongkrit, dan kurang meyakinkan calon investor. Selain itu juga tidak banyak pameran yang bisa diikuti di tingkat global.

“Berbagai upaya yang dilakukan oleh sebagian pejabat selama ini cenderung seperti tanpa misi dagang yang jelas, tidak lebih sekadar jalan-jalan dan untuk pencitraan semata,” pungkas Rustam.

Belum lagi imej Aceh sebagai daerah konflik belum pulih sepenuhnya di mata orang luar. Secara internal juga belum terlihat bahwa Aceh memang antusias dengan program kerja sama IMT-GT. “Jalan bagi Aceh memang masih panjang, tidak salah kalau kita dalam IMT-GT ini masih sebatas sebagai penyelenggara meeting atau penggembira saja,” kata Rustam.(yos)

tanggapan pengamat
* Pemerintah Aceh tak punya konsep, tidak serius, penempatan SDM tidak tepat, tidak punya program yang kontinyu dan terukur, tidak ada target, tim tidak kompak, serta kurangnya koordinasi antarbidang, dinas, instansi dan stake holder
* Tren wisata syariah Aceh cukup baik diterima para wisatawan, terutama wisatawan Asean dan Nusantara. Ini pun atas kerja keras dari pelaku pariwisata, bukan Pemerintah Aceh
* Pemahaman bahwa promosi adalah investasi, inilah yang tidak ada. Promosi dikerjakan sendiri dan asal jadi. Jadi kalau ada statemen promosi Aceh kampungan, ya wajar saja
* Berbagai upaya yang dilakukan oleh sebagian pejabat selama ini cenderung seperti tanpa misi dagang yang jelas, tidak lebih sekadar jalan-jalan dan untuk pencitraan
* Secara internal juga belum terlihat bahwa Aceh memang antusias dengan program kerja sama IMT-GT 2014

SerambiNew.com