stat counter ‘Kudeta’ Tuha Puet Untuk Mualem | Aceh Online Magazine

‘Kudeta’ Tuha Puet Untuk Mualem

Diduga, kelompok dr. Zaini Abdullah membuat rapat untuk menjatuhkan Muzakir Manaf ( Mualem) dari Ketua Umum Partai Aceh. Tapi, rencana itu gagal karena ratusan mantan kombantan GAM pro   Mualem mendatangi Pendopo Gubernur Aceh.

pertemuan-atjehpost.com_

Atjehcyber.com – Halaman mushala, Komplek Pendopo Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah tampak ramai, Sabtu pekan lalu. Maklum, ada ratusan mantan kombatagn Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dari 23 kabupaten dan kota berkumpul di sana.

Tak jelas apa yang agenda pasti. Namun, dari anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) kalangan bawah itu berhembus kabar, kelompok mantan kombatan GAM pendukung Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah berencana menurunkan Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem ini dari jabatan Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh (DPA) Partai Aceh (PA). Begitupun, rencana ‘kudeta’ untuk kesekiankalinya itu, masih gagal terwujud.

Kepada MODUS ACEH, salah seorang mantan kombatan GAM dari Wilayah Bireuen becerita, kedatangan mereka di Pendopo Gubernur Aceh, Sabtu pekan lalu itu, karena ada rencana tidak baik dari Tuha Puet dan Tuha Lapan KPA-PA. Menurut dia, mantan kombantan didikan Tripoli, Libya (Mualimin) khususnya pendukung dr. Zaini Abdullah,membuat rapat untuk menurunkan Mualem dari kursi nomor satu di PA. Dan, dari pantuan media ini, ruang pertemuan di Anjong Mon Mata memang telah disiapkan, guna melancarkan rencana politik  tersebut.

Tak hanya itu, salah seorang mantan kombatan GAM dari Pidie membenarkan rapat tersebut akan dilangsungkan di Anjong Mon Mata. Tapi katanya, dalam surat undangan yang ia terima tak menyebut secara pasti agenda rapat tersebut. Namun, dirinya mengaku diminta hadir pukul 08.00 Wib pagi hari.

“Agenda pastinya tidak tahu, yang jelas dalam surat yang saya terima rapat di Anjong Mon Mata,” ungkap dia dalam bahasa Aceh, usai mengikuiti pertemuan di rumah Dinas Gubernur Aceh, Sabtu sore pekan lalu.

Sebaliknya, mantan kombatan GAM Bireueun tadi mengaku, kedatangan mereka ke Pendopo Gubernur Aceh di Banda Aceh dengan sukarela dan tak ada perintah dari siapapun. Saat bincang-bincang dengan MODUS ACEH, ia becerita panjang lebar terhadap rencana kudeta terhadap Muzakir Manaf tadi.

Katanya, sikap petinggi DPA-PA dibawah kendali dr. Zaini Abdullah dan Zakaria Sama (Tuha Puet) ingin menurunkan Muzakir Manaf tak masuk akal. Sebab, Muzakir Manaf, merupakan petinggi GAM yang dekat dan paham dengan kondisi lapangan, terutama saat Aceh masih didera konflik. Itu sebabnya, mantan Panglima GAM Wilayah Bate Iliek, Darwis Djeunieb dan Wilayah Pase Tgk Zulkarnaini (Tgk Ni) serta beberapa Panglima Wilayah GAM lainnya, tetap komit dan solit untuk mempertahankan posisi Mualem. Sementara, mereka yang menamakan diri eks Libya sebut sumber tadi, saat konflik berada luar Aceh. “Setelah Aceh damai, seolah-olah mereka yang lebih berjasa,” kritik sumber tadi yang juga dari kalangan mantan kombantan GAM.

Bukan hanya itu, katanya rencana menurunkan Muzakir Manaf dari DPA-PA dan Ketua KPA, lebih pada target jabatan. Karena, jabatan orang nomor satu di DPA-PA dan KPA, adalah strategis dan itulah yang ingin direbut. “Seharusnya petinggi GAM ini memberi contoh yang baik pada kami, bukan ribut-ribut seperti ini, kami juga tidak paham apa tujuan petinggi-petinggi itu,” ujarnya dalam bahasa Aceh.

Tak hanya itu, salah seorang Panglima KPA di Aceh mengaku ada rencana kelompok dr. Zaini Abdullah menurunkan Muzakir Manaf, tapi panglima tak usahlah kita sebut namanya mengaku, rencana itu tak mungkin terkabulkan.Alasannya, jika pun dilakukan Mubeslub DPA-PA, Muzakir Manaf tetap dipercaya dan dipilih kembali oleh sejumlah Panglima Wilayah GAM untuk memimpin PA.

Katanya, mantan GAM kalangan bawah menilai, kewenangan Mualem yang selama ini diberikan Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah tidak seberapa. Ambil contoh, soal penempatan Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA), menurut dia mayoritas dikuasai pejabat dari wilayah dr. Zaini Abdullah alias Pidie.

“Ya, tapi tidak jadi itu, karena kami melihat kalau pun dibuat Mubeslub PA, Mualem tetap terpilih kembali. Kami menilai, kewenangan yang diberikan Abu (sebutan untuk Gubernur Aceh—red) pada Mualem sedikit sekali,” ujarnya, saat bincang-bincang dengan MODUS ACEH.

Bisa jadi, pengakuan Panglima KPA wilayah itu ada benarnya. Ambil contoh, Sabtu pekan lalu.Kelompok pro dr. Zaini Abdullah disebut-sebut ingin menurunkan Muzakir Manaf. Tapi rencana itu gagal karena kedatangan mantan kombatan GAM dari semua wilayah di Aceh.

Itu sebabnya, rencana pertemuan di Anjong Mon Mata batal dilakukan. Akhirnya, petinggi KPA-PA membuat pertemuan di Pendopo Gubernur Aceh. Di sana, hadir beberapa petinggi KPA-PA. Sebut saja, Ridwan Abubakar (Nek Tu), Kamaruddin Abubakar (Abu Razak), Zakaria Saman (Apa Karia). Termasuk Wali Nanggroe Malik Mahmud Al Haytar, Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf.

Wakil juru bicara DPA-PA Adi Laweung pada MODUS ACEH membatah adanya dugaan ‘kudeta’ terhadap Mualem. Katanya pertemuan itu lebih pada silaturrahmi. “Tidak ada, hanya silaturrahmi saja,” kata Adi Laweung yang juga ikut dalam pertemuan tersebut, Sabtu pekan lalu.

Adi Laweung mengaku, dalam pertemuan itu Wali Nanggroe Malik Mahmud memberi pencerahan terhadap mantan kombantan GAM kalangan bawah. Misal, masalah turunan UUPA yang belum rampung. Karena itu, Malik Mahmud meminta Pemerintah Aceh dibawah kendali dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf untuk terus berupaya melobi Presiden SBY dimasa akhir jabatannya sebagai Presiden Indonesia.

Selain itu, Malik Mahmud juga memberi pencerahan soal perbedaan politik pada pemilihan Presiden 9 Juli 2014 lalu. Maklum, orang nomor satu dan dua Aceh berbeda dukungan. Muzakir Manaf lebih memilih Prabowo sedangkan dr. Zaini Abdullah mendukung pasangan Jokowi-JK. “Perbedaan politik presiden sudah selesai, jangan dipersoalkan lagi,” kata Malik Mahmud, seperti dikutip dari penjelasan Wakil Jubir DPA-PA, Adi Laweung.

Memang, mencuatnya pecah kongsi dua mantan pimpinan GAM dr. Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, saat mereka mendukung calon presiden yang berbeda. Kelompok dr. Zaini Abdullah menilai, kebijakan Muzakir Manaf perlu dievaluasi, karena telah membawa gerbong PA untuk mendukung Prabowo. Harusnya, Mualem berkonsultasi dulu dengan Tuha Puet dan Tuha Lapan, sebelum memutuskan dukungannya kepada mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto.

Sumber media juga menjelaskan, rencana untuk ‘mengkudeta’ Mualem, bukan kali itu saja terjadi. Sebelumnya, sempat ada undangan rapat dengan agenda serupa. Namun, melihat situasi tak menguntungkan, dr. Zaini Abdullah enggan hadir ke lokasi pertemuan. Hasilnya, pertemuan yang digadang-gadangkan untuk menurunkan Mualem dari kursi Ketua Umum PA, kembali gagal.***(Juli Saidi/ModusAceh)