Home Nanggroe L-300 Stop Operasi, Nelayan Berhenti Melaut

L-300 Stop Operasi, Nelayan Berhenti Melaut

1083
0
SHARE

Kendaraan antrean untuk mengisi bahan bakar jenis solar di SPBU Luengbata, Banda Aceh, Senin (25/8). Akibat langkanya bahan bakar jenis solar sejumlah angkutan L 300 tidak bisa beroperasi. SERAMBI/BUDI FATRIA
Kendaraan antrean untuk mengisi bahan bakar jenis solar di SPBU Luengbata, Banda Aceh, Senin (25/8). Akibat langkanya bahan bakar jenis solar sejumlah angkutan L 300 tidak bisa beroperasi. SERAMBI/BUDI FATRIA

Atjehcyber.com | BANDA ACEH – Krisis BBM jenis solar sejak beberapa waktu terakhir mulai memukul usaha masyarakat seperti sektor angkutan umum dan nelayan. Sebanyak 50 persen dari sekitar 1.200 unit armada angkutan penumpang umum jenis minibus L-300 di seluruh Aceh, dilaporkan tidak beroperasi. Begitu juga nelayan, semakin banyak yang tak bisa melaut.

Ketua DPD Organda Aceh, H Ramli menyebutkan, menyusul diberlakukannya pembatasan dan jadwal pengisian BBM jenis biosolar, ada 600 unit L-300 yang harus berhenti beroperasi. Kondisi memprihatinkan juga dialami bus penumpang umum trayek antarkota antarprovinsi (AKAP) yang beroperasi siang hari. Selain itu, pemilik dan awak truk barang dan jasa yang beroperasi di lintasan jarak dekat atau trayek lokal, seperti truk pasir dan batu (sirtu) juga tak bisa bergerak. “Kesulitan mendapatkan BBM sudah secara langsung berimbas pada sektor transportasi darat,” kata Ramli kepada Serambi, Senin (25/8) sore.

Sejumlah pengusaha dan awak angkutan penumpang umum minibus L-300 yang ditemui di terminal Luengbata mengaku kelangkaan solar yang telah berlangsung sepekan ini telah memaksa separuh dari armada mereka tidak bisa beraktivitas. “Kami hanya mengoperasikan 25 unit dari 56 armada yang tersedia. Sisanya, terpaksa standby dan antre ke SPBU untuk mendapatkan solar,” kata Direktur CV Plamboyan Mandiri, Muhammad Ranto.

Krisis solar juga menghentikan aktivitas nelayan sebagaimana terjadi di Pidie Jaya dan sejumlah kawasan lainnya di Aceh. Seorang anggota DPRK Pidie Jaya, Hasan Basri ST MM berharap ada solusi secepatnya terhadap persoalan ini.

Abu Laot Lhok Meurahdua, M Nasir Mahmud menjawab Serambi membenarkan sejak beberapa hari ini persediaan solar di SPBU Meurahdua kosong. Nelayan terpaksa istirahat. “Warga pesisir pantai yang mayoritas menggantungkan hidup dari hasil laut tidak bisa beraktivitas. Perekonomian sangat terganggu,” kata Nasir.

Panglima Laot Pidie Jaya, Abdul Hamid mengatakan bagi armada (boat) dengan mesin 30 GT ke atas sangat kewalahan menghadapi kondisi ini.

Presden Direktur (Presdir) Maar Group, H Sibral Malasyi MA, pemilik SPBU Ulee Gle, Kecamatan Bandardua, menyebutkan, belakangan ini solar sering langka disebabkan adanya penurunan jatah oleh Pertamina.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh Selatan, Cut Yusminar A.Pi MSi kepada Serambi, Senin (25/8) mengatakan, pihaknya langsung menggelar rapat khusus dengan Panglima Laot dan pengusaha SPBN untuk menyikapi terganggunya operasional kapal dan nelayan akibat masalah BBM.

Dalam rapat tersebut Cut Yusminar meminta seluruh Panglima Laot mendata kembali jumlah kapal nelayan sehingga dengan demikian pihaknya memiliki data ril untuk mengusulkan penambahan kuota BBM.

Sementara itu sebanyak empat SPBU di Meulaboh, Aceh Barat, sejak Minggu sore hingga Senin (25/8) pagi persediaan BBM subsidi jenis solar dan bensin kosong. Kalaupun masih ada persediaan di pedagang eceran, harganya mencapai Rp 10.000-Rp 12.000/liter.

Keempat SPBU yang kosong BBM adalah SPBU Pasi Pinang, Kecamatan Meureubo, SPBU Kuta Padang, SPBU Suak Raya, dan SPBU Blang Beurandang. Sekitar pukul 09.00 WIB, Senin kemarin, solar dan bensin disuplai lagi oleh Pertamina tetapi tiga jam kemudian kosong lagi.

Kadis Pertambangan dan Energi Pemkab Aceh Barat, Syahril kepada wartawan mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Pertamina terkait masalah itu. “Kita mengetahui secara nasional ada pengurangan namun tidak dilaporkan ke pihak kita (Pemkab Aceh Barat),” kata Syahril.

Kepala Depo Pertamina Meulaboh, Bastari menyebutkan BBM yang disalurkan ke SPBU sesuai kuota yang dikeluarkan Pertamina Cabang di Banda Aceh. “Kalau untuk stok aman di gudang, kita hanya menyalurkan saja,” ungkap Bastari.

Kelangkaan BBM juga terjadi di SPBU Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues sejak dua pekan terakhir. Pengguna kendaraan terpaksa mengisi BBM di kios pedagang pengecer yang harganya melambung.(awi/ag/tz/riz/c40/serambi)