Home Nanggroe Milad Ke-41 GAM, Begini Kisah Pertama Kali Hasan Tiro Pulang ke Aceh...

Milad Ke-41 GAM, Begini Kisah Pertama Kali Hasan Tiro Pulang ke Aceh Setelah 25 Tahun di Amerika

123
0
SHARE

Tgk Hasan Tiro diangkat prajurit GAM di belantara Aceh. Sumber foto/Buku The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro

AJEHCYBER.com – “Perahu saya sampai di daerah pendaratan di pantai utara Aceh pada Sabtu pagi, 30 Oktober 1976, sekitar pukul 08.30 wib di desa nelayan Pasi Lhok disaksikan warga desa. Untungnya tidak ada polisi Indonesia di tempat itu.

Saya meminta orang-orang di pantai untuk memanggil orang saya, Muhammad Daud Husin (yang juga dikenal sebagai Daud Paneuk) datang menjumpai saya ke kapal.

Setelah satu jam menunggu, utusan tersebut kembali dan mengatakan bahwa Muhammad Daud Husin tidak ada di rumah tapi pergi ke Sigli, sebuah kota garnisun Jawa, sekitar sepuluh kilometer jauhnya.”

Rekaman peristiwa ini ditulis Dr Teungku Muhammad Hasan Di Tiro pada 30 Oktober 1976 dalam bukunya The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Tengku Hasan Di Tiro.

Inilah momen yang amat bersejarah dan mengharukan saat deklarator GAM itu menjejakkan kakinya pertama kali di tanah kelahirannya, Aceh setelah 25 tahun hidup terasing di Amerika Serikat.

Kapal motor kecil yang membawa Hasan Tiro melalui jalur pantai akhirnya tiba di Kuala Tari, arah Timur Desa Pasi Lhok, Kabupaten Pidie. Ada belasan orang, dipimpin M Daud Husin telah menunggu untuk mengantarnya ke daerah pegunungan.

Hasan Tiro berkata, “Malam itu juga menjadi malam pertamaku di tanah air setelah saya berada di pengasingan selama 25 tahun di Amerika Serikat. Tidak ada yang  tahu kedatangan saya ke Kuala Tari yang dikelilingi oleh rawa-rawa,” tulisnya dalam buku fenomenal itu.

Selanjutnya Hasan Tiro dibawa Daud Paneuk dan pasukannya ke sebuah pondok terpencil dan ia ikut makan malam bersama pasukannya.

“Mereka semua pemuda kuat dari Desa Pasi Lhok yang memiliki ikatan tradisional yang kuat dengan keluargaku. Sekitar tengah malam kami melanjutkan perjalanan menuju hutan gunung Panton Weng, sekitar enam jam berjalan kaki dari tepi laut. Kita harus berjalan dalam gelap diam tanpa menggunakan senter untuk menghindari pendeteksian tentara musuh,” tulis Hasan Tiro.

Praktis dalam persembunyiannya di medan gerilya sejak 1 sampai 29 November 1976, Hasan Tiro beradaptasi dengan kondisi alam di tengah hutan.

Ia merasakan dunianya saat bergerilya dengan kehidupannya di Amerika Serikat sangat kontras. “Penyesuaian datang secara alami, meski sesekali kenangan akan dunia lamaku datang begitu kuat seperti ketika saya mendengar suara maskapai penerbangan internasional Eropa terbang tinggi di atas mengingatkan saya akan kenyamanan hidup di kabin kelas satu. Tapi segera semua yang terlupakan, digantikan oleh suka cita sejati memenuhi tugas yang agung dan suci, dikelilingi oleh rekan-rekan seperjuangan,” ujarnya.

Hasan Tiro bersama pasukannya ditemani Geuchiek Uma, Dr Muchtar Hasbi sampai di daerah Tiro sekitar pukul 4 sore pada Jumat, 3 Desember 1976 setelah melalui perjalanan panjang, hingga akhirnya mereka tertidur.

Esoknya Hasan Tiro baru mengetahui bahwa mereka sudah sampai di Bukit Tjokkan, sebuah bukit tua yang dijadikan markas bagi para pejuang Aceh yang tak pernah tersentuh oleh musuh. Di Bukit Tjokkan itu pula akhirnya Hasan Tiro mendeklarasikan GAM pada esok harinya, Sabtu 4 Desember 1976. (serambi/sar)