Home Nanggroe MPU: Cara ISIS tak Sesuai Islam

MPU: Cara ISIS tak Sesuai Islam

630
19
SHARE

Atjehcyber.com | Negara-negara muslim tak terkecuali Indonesia, dikejutkan dengan kehadiran Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS). Majelis Permusyarawatan Ulama (MPU) Aceh yang berada di garis depan dalam mengingatkan umat mewanti-wanti agar masyarakat waspada dan menanyakan ke mereka setiap ajaran/ideologi baru yang masuk.

Sejauh ini MPU Aceh memang belum menerima laporan dari aparat  keamanan kalau  ISIS telah menyusup ke Bumi Serambi Mekkah.

Ibarat wabah, gelombang penolakan terhadap  ISIS begitu cepat menyebar. Pemerintah sudah menyatakan bahwa  ISIS merupakan organisasi terlarang di Indonesia. Tampuk pimpinan di negeri ini melalui Kementerian Agama juga sudah membuat pernyataan sikap yang mengharamkan bergabung dengan  ISIS.

“Ajaran  ISIS bertentangan dengan undang-undang dan Pancasila. Kekerasan tidak dianjurkan dalam agama Islam, melainkan berdialog dengan baik, baru kemudian dengan tindakan. Islam adalah agama yang mengajarkan lemah lembut, sementara ISISbersifat radikal. Cara-cara mereka bertentangan dengan syariat Islam,” papar Ketua MPU Aceh, Tgk H Ghazali Mohd Syam yang ditemui Serambi di Banda Aceh, Rabu 6 Agustus 2014.

Dalam pandangan Ghazali, karakter orang Aceh keras namun tidak kasar. Untuk itu, ia berharap yang tidak tahu agar menanyakan kepada yang lebih tahu, dalam hal ini menjadikan ulama sebagai rujukan. Di sisi lain, dirinya meyakini tidak mudah untuk menaklukkan atau memasukkan suatu ideologi ke Aceh karena akidah orang Aceh kuat.

Berkaca pada pengalaman sejarah, sikap pemimpin dan orang-orang Aceh hanya melunak dengan strategi khusus seperti dilakukan penjajah Belanda yaitu mendatangkan orientalis Snouck Hurgronje atau yang bergelar dengan Teungku Puteh.

Disinggung soal tragedi Laweung, Ghazali tidak berkomentar banyak karena menurutnya itu masih dalam penyelidikan polisi. Dirinya sudah mengintruksikan kepada MPU Pidie untuk konsisten terhadap agama dan pemerintah. Baik dari tingkat terkecil ia berharap partisipasi warga agar melapor jika mendapat temuan yang ganjil. Dalam lingkup yang lebih luas Ghazali menegaskan warga Indonesia harus satu kata merespons keberadaan  ISIS.

Organisasi yang dipimpin Abu Bakr Al-Baghdadi ini bercita-cita membangun daulah islamiyah di bawah satu khalifah. Dalam kacamata Ghazali, konsep ini tidak cocok bagi bangsa Indonesia yang toleran dan melindungi kebebasan beragama. Walaupun tak dipungkiri kehadirannya bisa memantik heroisme kaum militan di negeri ini, namun menghidupkan romantisme masa lalu kekhalifan di zaman sekarang terlalu utopis untuk diwujudkan.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia memasang radar tinggi terhadap kemunculan  ISIS. Bara konflik di negara Timur Tengah memantik tercetusnya ide pembentukan daulah islamiyah di bawah satu khalifah. Tak pelak Indonesia pun menjadi salah satu target pengembangan ideologi yang dinilai Islam garis keras. Namun, banyak organisasi Islam yang tak sepaham, salah satunya FPI.

Ormas Front Pembela Islam itu menyatakan  tidak sehaluan dengan  ISIS. FPI memang mengenal istilah jihad, namun dalam konteks negara Indonesia yang memang mayoritas muslim, yang terjadi lebih menjurus kepada perang pemikiran. Bukan jihad dalam arti perang melawan musuh Allah dengan cara mengangkat senjata.

Anggota FPI pun dilarang keras terlibat dalam jaringan  ISIS yang mulai merambah Indonesia. “Kita perlu mewaspadai kehadiran ISISyang berpotensi memecah belah umat Islam. Imam besar FPI Pusat sudah menginstruksikan laskar FPI untuk tidak bergabung dengan  ISIS, di Aceh juga banyak ulama dan FPI harus mendengar apa kata mereka,” ujar Ketua DPD FPI Aceh, Tgk Muslim At-Thahiry yang dikonfirmasi Serambi, Jumat 8 Agustus 2014.

Ia menjabarkan bahwa metode yang dijalankan FPI terbagi atas tiga yaitu dakwah, jihad, dan amar ma’ruf nahi munkar. Di Indonesia yang memang mayoritas muslim polanya tentu lebih kepada poin terakhir. Namun demikian ia memastikan bahwa FPI siap berjihad jika dibutuhkan seperti halnya mengirim anggotanya ke Palestina yang sedang dibombardir Israel.

FPI mensinyalir keberadaan  ISIS bisa saja merupakan bagian dari strategi barat sebagai upaya pengalihan isu terhadap pelanggaran kemanusiaan di Palestina. Untuk itulah Muslim mewanti-wanti agar masyarakat tidak terjebak dalam skenario tersebut. Ia juga mengurai risalah Rasulullah bahwa sebuah negeri harus ditopang oleh empat pilar yaitu umara yang adil, ulama yang berilmu, orang kaya yang dermawan, dan doa orang fakir.

“Soal keberadaan  ISIS itu urusan mereka, namun kami mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dan mendengarkan apa kata ulama. Sebab, bukan jihad namanya jika ulama tidak dianggap,” tegasnya.

Menurutnya,  Aceh cukup disegani karena menjadi kiblat dalam penerapan syariat Islam di Indonesia. Keberadaan  ISIS bisa mengkotak-kotakkan aliran Ahlus sunnah wal jamaah dengan yang lainnya. Muslim menegaskan Indonesia tidak butuh  ISIS karena ajarannya semua wilayah harus jihad, sementara di dalam konteks Indonesia tinggal lagi menegakkan hukum agama. Islam juga mengajarkan untuk tidak mudah mengatakan kafir kepada orang lain.(rul/serambi)