Home Nanggroe Warga Calok Pandrah Pertanyakan Makam ‘Asing’ di Bireuen

Warga Calok Pandrah Pertanyakan Makam ‘Asing’ di Bireuen

953
0
SHARE

Nisan di Desa Calok Pandrah, Jeunib, Bireuen. @Al Fadhal
Nisan di Desa Calok Pandrah, Jeunib, Bireuen. @Al Fadhal

Atjehcyber.com – Warga Calok Pandrah, Kecamatan Jeunib, Bireuen menemukan satu makam asing di daerah tersebut. Hal ini menjadi pertanyaan besar, milik siapa makam yang mempunyai bentuk dan corak seperti nisan-nisan keluarga kerajaan tersebut?

“Makam yang bentuk nisannya mirip keluarga kerajaan ini, terletak sangat jauh dengan Kerajaan Aceh,” ujar Ketua Bidang Humas Ikatan Penulis Santri Aceh Kabupaten Bireuen, Al Fadhal dalam surat yang dikirim ke redaksi ATJEHPOST.co, Selasa, 30 Desember 2014.

Nisan di Desa Calok Pandrah, Jeunib, Bireuen. @Al Fadhal
Nisan di Desa Calok Pandrah, Jeunib, Bireuen. @Al Fadhal

Ia mengatakan masyarakat setempat merasa asing dengan bentuk batu nisan di makam tersebut. Beberapa pihak juga sudah menyesuaikan antara batu nisan Desa Calok Pandrah ini dengan nisan-nisan pahlawan atau nisan milik kerajaan Jeumpa di Bireuen. Namun, kata Al Afdhal, tidak ada kesamaan bentuk sama sekali.

Menurut Al Fadhal, banyak warga setempat menduga pemilik makam ini merupakan seorang musafir. Mereka juga menduga pemilik makam tersebut meninggal di dalam kapal yang berlayar di dekat perairan Bireuen dan kemudian memakam sosok tersebut di Desa Calok Pandrah.

“Mungkin saja makam ini adalah pejabat tinggi Kerajaan Aceh Darusalam atau keluarganya Raja Aceh,” ujarnya.

Dugaan tersebut merujuk pernyataan tim arkeolog yang pernah mencari makam Kerajaan Sri Lanang, Malaysia. “Tulisan yang dibaca di batu nisan tersebut ada kaitannya dengan Kerajaan Aceh. Dan makam ini tidak ada kaitanya dengan Sri Lanang,” kata Al Fadhal mengutip keterangan warga sekitar.

Nisan di Desa Calok Pandrah, Jeunib, Bireuen. @Al Fadhal
Nisan di Desa Calok Pandrah, Jeunib, Bireuen. @Al Fadhal

Ia mengatakan sempat memeriksa tulisan di batu nisan unik ini. Menurutnya di nisan tersebut terukir kalimat: Lailahailallah.

“Tulisannya agak samar-samar ditutupi lumut. Mohon informasi dari rekan-rekan Mapesa (Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh) terhadap makam kuno ini,” katanya tanpa memberitahukan berapa jumlah nisan asing yang ada di desa tersebut.[]