stat counter Ancaman Hukuman Gantung Mengunggu AKBP Idha Endi | Aceh Online Magazine

Ancaman Hukuman Gantung Mengunggu AKBP Idha Endi

polisi-selundukkan-narkobaAtjehcyber.com – Polis Diraja Malaysia menangkap dua anggota Kepolisian Republik Indonesia di Bandara Kuching, Malaysia, Sabtu (30/8). Mereka adalah Ajun Komisaris Besar (AKBP) Idha Endi Prasetyono dan Brigadir Harahap. Polisi Malaysia juga mengamankan barang bukti narkoba seberat 6 kilogram.

Jika mengikuti perundangan di Malaysia, Idha dan Harahap bakal diancam hukuman mati karena tindak kriminal yang dia lakukan. Menurut Pasal 39 B Undang-Undang Anti narkotika Malaysia, para pembawa narkoba ini diancam hukuman gantung sampai mati.

Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto menjelaskan awal mula penangkapan ini. Pada Jumat (29/8), pukul 15.15 WIB waktu Kuching Malaysia, Polisi Narkotika PDRM diketahui telah mengamankan dua WNI di Kuching.

Tindakan tersebut dilakukan sebagai hasil pengembangan terhadap pelaku yang telah ditangkap oleh Polis Narkotik PDRM di KLIA, yang mengaku bahwa akan mengirimkan barang ke Kuching.

“Sehingga berdasarkan informasi tersebut dilakukan pelacakan ke Kuching, dari hasil penelusuran tersebut maka Polis Narkotik PDRM menemukan 2 orang atas nama Idha Endri Prastiono dan MP Harahap yang ternyata adalah anggota Polda Kalimantan Barat,” ujar Arief lewat rilisnya, Minggu (31/8).
Idha sempat menjabat sebagai Anjak Muda Biro Rena Polda Kalbar. Sedangkan Harahap merupakan anggota Polsek Entikong Polres Sanggau.

Penangkapan ini kemudian dilaporkan oleh Liaison officer (LO) Polri di Kuching Kompol Taufik Nurisya SIK pada pukul 19.30 WIB kepada Kapolda Kalimantan Barat. Laporan ini kemudian diteruskan kepada Kapolri.
Selain melaporkan penangkapan, Kapolda Kalbar juga memohon izin menugaskan Wakapolda Kalbar dan Direktur Reserse Narkoba melakukan pengecekan dan berkoordinasi dengan Kepolisian di Kuching.
Dari hasil penyelidikan terhadap keberangkatan kedua polisi tersebut, diketahui dari data perlintasan Imigrasi Bandara Supadio, Idha berangkat dengan menggunakan Maskapai MASWINGS Pontianak – Kuching pada tanggal 29 Agustus 2014. Idha check in pada saat penumpang sudah boarding (late check in), dengan alasan terburu-buru.

Sementara Bripka M.P Harahap berangkat ke Kuching atas permintaan AKBP Idha melalui telepon untuk menjemput di Bandara Kuching dan tanpa seizin atasan (baik Kapolsek maupun Kapolres).
Belum jelas jumlah barang bukti yang diamankan pihak Malaysia. Namun beredar kabar jumlahnya mencapai 6 kilogram. Tak ada keterangan soal barang bukti tersebut di email dari Brigjen Arief.
Istri pernah kehilangan berlian Nama AKBP Idha pernah disorot media awal tahun ini karena istrinya mengaku kehilangan perhiasan senilai Rp 19 miliar.

Peristiwa ini terjadi pada 3 Januari 2014. Istri AKBP Idha bernama Titi Yustinawati melaporkan kehilangan beberapa perhiasan ke Polres Bandara Soekarno-Hatta. Nilai kerugiannya mencapai Rp 19 miliar.
Setelah diselidiki, pelakunya akhirnya tertangkap. Namun menurut saksi ahli, jumlah perhiasan milik Titi yang menjabat sebagai direktur utama PT Berlian Kapuas Khatulistiwa ini nilainya hanya kurang dari Rp 180 juta. “Dari peristiwa tersebut terungkap juga bahwa keberadaan yang bersangkutan di Jakarta tanpa dilengkapi surat izin yang sah dari pimpinan,” kata Arief.

Menurut Kapolda, perilaku AKBP Idha telah beberapa kali memalukan institusi Polri. Idha telah dinonaktifkan dari jabatan Subdit III Narkoba Polda Kalbar dan dipindahkan ke Pamen Polda karena melanggar kode etik.
“Catatan Propam Polda Kalbar, personel ini dipindahkan karena ketahuan perselingkuhan dan terjadi perceraian. Tahun 2002, AKBP Idha Endi melakukan hubungan intim dengan pembantunya sampai punya anak dan diselesaikan dengan cara kekeluargaan,” Arief menjelaskan.

Tak hanya itu, tahun 2010, Idha juga terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita bernama Titi Yusnawati, namun sudah diselesaikan dan dinikahi sampai sekarang.
“Pada 7 Juni ditugaskan di Kasubdit III Narkoba, namun dipindahkan terkait pelanggaran kode etik,” kata Arief.
Arief menyatakan, apa yang telah dilakukan dua anggotanya ini telah mencederai institusi kepolisian, khususnya Polda Kalbar. (tribuncetak)