Home Nasional Belum Sebulan Dilantik Anggota Dewan ini Sudah Studi Banding

Belum Sebulan Dilantik Anggota Dewan ini Sudah Studi Banding

678
10
SHARE

Anggota DPR mengikuti sidang paripurna DPR di Gedung Parlemen, Jakarta, Selasa (9/7)

Atjehcyber.com – Belum genap satu bulan menjabat, 25 anggota DPRD Kabupaten Bandung sudah ramai-ramai bepergian ke luar kota. Rencananya mereka akan studi banding ke Yogyakarta. Tujuannya untuk melihat kelengkapan dewan. Yogyakarta dipilih karena DPRD di kota tersebut telah memiliki alat kelengkapan.

Kepala Sekretariat DPRD Kabupaten Bandung, Abdulah Amin, mengatakan ke-25 anggota dewan yang melakukan studi banding ini berasal dari panitia khusus (pansus) tata tertib.

Rencananya, menurut Amin, studi banding tersebut dilakukan selama tiga hari. Mereka berangkat, Rbu (10/9/2014), dan dijadwalkan kembali, Sabtu besok. “Kenapa Yogyakarta yang dipilih, saya tidak tahu. Itu merupakan kewenangan dewan,” ujarnya, Kamis (11/9/2014).

Asep Syamsudin, anggota DPRD Kabupaten Bandung dari PKB, mengatakan studi banding ini adalah hal yang memang perlu dilakukan. Pansus tata tertib, ujarnya, perlu melihat alat kelengkapan di DPRD daerah lain yang telah terbentuk. Studi banding akan menjadi rujukan bagi DPRD Kabupaten Bandung dalam merumuskan tata tertib.

“Di Yogyakarta, alat kelengkapannya sudah terbentuk. Apalagi sekarang lagi ramai masalah RUU Pilkada. Kalau nanti pemilihan kepala daerah jadi dilakukan oleh oleh dewan, tentu hal tersebut harus ada dalam tatib. Jadi kami hanya ingin melihat kesiapan di daerah lain,” kata Asep.

Keberangkatan 25 anggota dewan ke Yogyakarta disesalkan Forum Diskusi Anggaran (FDA) Kabupaten Bandung. Deni Abdulah, Kabid advokasi dan hukum FDA, menuturkan kegiatan studi banding alat kelengkapan DPRD itu sangat mengada-ada.

“Kultur politik di Kabupaten Bandung dan daerah lainnya berbeda. Kenapa tidak mengundang ahli dan pakar saja ke sini. Di Yogya juga belum tentu mereka sudah selesai bikin tatib,” kata Deni.

Berdasarkan informasi yang ia terima, kata Deni, para anggota dewan yang baru sebelumnya tidak mengetahui rencana kunjungan ini. Tiba-tiba saja, mereka disodori jadwal dan perubahan jadwal kegiatan yang ada.

“Kegiatan ini bisa jadi keinginan dari anggota incumbent, atau juga dari sekwan. Kalau orang baru rasanya tidak akan sampai terpikir studi banding,” ujarnya.

Studi banding itu, kata Deni, akan merusak nama anggota dewan itu sendiri dimata masyarakat. Terutama bagi anggota dewan yang baru karena telah melakukan kegiatan yang kontra produktif.

“Seharusnya anggota dewan baru, berani menolak untuk studi banding. Apalagi saat ini masyarakat sedang susah dengan berbagai kenaikan harga,” katanya. (Tribun Jabar)