Home Nasional Bertaruh Nyawa Memburu Bangkai QZ8501

Bertaruh Nyawa Memburu Bangkai QZ8501

350
0
SHARE

Ilustrasi penyelam Basarnas AirAsia. (c) Tribunnews
Ilustrasi penyelam Basarnas AirAsia. (c) Tribunnews

Atjehcyber.com – Kepala Badan SAR Nasional, Marsekal Madya TNI FHB Soelistyo, Minggu (4/1/2015) menyampaikan kabar buruk terkait tahap pertama operasi penyelaman memburu bangkai pesawat AirAsia QZ 8501.

Perburuan itu diharapkan mampu menjangkau lebih banyak lagi awak dan penumpang pesawat yang diyakini masih berada di kabin yang bangkainya bergeletakan di sejumlah titik di dasar laut perairan Selat Karimata.

“Laporan yang saya terima berhasil turun dua orang penyelam. Tapi di dasar laut jarak pandang nol atau gelap. Terlihat lumpur, arus dasar laut tiga sampai lima knot,” kata Soelistyo di Kantor Basarnas, Jakarta Pusat.

Misi pencarian QZ 8501 kini naik level menjadi misi yang sangat berbahaya dan berisiko tinggi. Penyelaman menjadi tahap tak terelakkan setelah makin sedikit korban yang ditemukan mengapung di permukaan laut.

Kondisi perairan di lepas pantai Teluk Kumai, Kalimantan Tengah, pun tak semudah yang diperkirakan. Dasar laut berlumpur tebal, visibilitas nol persen, atau artinya ketika penyelam masuk ke kedalaman, ia sama sekali tak bisa melihat apa-apa kecuali lumpur pekat.

Kesulitan bertambah-tambah ketika arus bawah laut ternyata sangat kuat, kecepatannya antara 3 sampai 5 knot atau lebih kurang antara 5 hingga 9 kilometer per jam. Kecepatan arus seperti ini sudah cukup bisa menyeret dan mencelakakan penyelam.

Tetapi seperti tekad FHB Soelistyo, apapun akan dilakukan untuk mengevakuasi jasad survivor QZ 8501, meski di kedalaman laut yang berbahaya. Operasi penyelaman dasar laut secara umum terbagi dua, penyelaman biasa dan penyelaman dalam.

Pada penyelaman biasa, peralatan yang digunakan standar diving. Penyelam menggunakan perangkat scuba diver. Batas kedalaman untuk penyelaman biasa 40 meter, dan lama penyelaman pun dibatasi tak lebih 30 menit. Penyelam akan menggendong tabung oksigen

Standar operasi penyelaman ini dilakukan dua penyelam berpasangan yang dihubungkan tali satu sama lain. Penyelaman harus berpasangan dan mereka terhubung tali adalah standar pengamanan untuk keselamatan mereka.

Ke kapal atau perahu sekoci yang dipakai untuk menurunkan, mereka pun juga dihubungkan tali pengaman. Tujuannya, menghindari pergeseran penyelam dari titik asal jika arus di bawah ternyata sangat kuat.

Operasi kedua untuk penyelaman dalam, lebih dari 40 meter dari permukaan laut, para penyelam harus mengenakan perangkat khusus Kirby Morgan Dive Helmet 37. Peralatan ini sangat berbeda dengan scuba diver.

Penyelam mengenakan helm khusus yang pasokan oksigennya langsung dari kapal di permukaan laut, sehingga durasi penyelaman bisa cukup lama. Helm itu juga dilengkapi CCTV serta alat komunikasi bawah air ke permukaan.

Pergerakan penyelam ini bisa dimonitor dan situasi di kedalaman laut juga terpantau dari layar monitor CCTV. Tentu dengan catatan kondisi di kedalaman air memungkinkan jarak pandang (visibilitas) yang baik untuk kamera maupun penyelamnya.

Dari dua jenis penyelaman itu, prosedur standar yang harus dilalui tim penyelam. Pertama, tim penyelam survei lokasi terlebih dahulu dan mengukur kedalaman laut menggunakan deep scan. Langkah kedua, komandan tim turun bersama satu anak buahnya untuk survei lokasi, dilanjut briefing

Ketiga, penyelaman mulai dilakukan tim masing-masing terdiri dua penyelam. Kedua penyelam harus dihubungkan atau terikat tali satu sama lain, selain terhubung dengan tali ke kapal/sekoci yang jadi pangkalan penyelaman.

Grafis yang dibuat tim Tribun Jogja ini bermaksud memberi ilustrasi dasar bagaimana upaya evakuasi korban dari bangkai pesawat AirAsia QZ8501 dilakukan. Situasi sesungguhnya di dasar laut belum seorang pun tahu.

Termasuk bagaimana mengevakuasi para korban dan awak pesawat yang mungkin saja masih terikat di kursi masing-masing, dalam kondisi tubuh yang sudah terendam air laut selama berhari- hari. Secara fisik kondisinya tentu mulai rapuh dan sangat mudah rusak.

Membayangkan para penyelam berjibaku mempertaruhkan nyawa masuk ke lorong-lorong kabin pesawat yang rusak, gelap, kotor, jelas ini operasi yang sangat sulit, menantang, sekaligus menyedihkan.