Home Nasional Insiden Hilangnya MH370 dan AirAsia QZ 8501 Sama Sekali Berbeda

Insiden Hilangnya MH370 dan AirAsia QZ 8501 Sama Sekali Berbeda

401
0
SHARE

airasia-air-asia_

Atjehcyber.com – Hilangnya pesawat AirAsia QZ 8501, di hari Minggu pagi, sekilas mirip dengan peristiwa hilangnya pesawat Malaysia Airlines bernomor penerbangan MH 370 10 bulan yang lalu.

Namun sejumlah analis berpendapat sebaliknya, berikut empat perbedaan diantara dua insiden hilangnya dua pesawat maskapai penerbangan komersial tersebut, seperti dikutip dari CNN, Senin (29/12/2014).

1. Kejanggalan-kejanggalan

Ketika pesawat MH370 menghilang dari radar, diduga transponder pesawat sengaja dimatikan. Selain itu pilot dengan sengaja menghentikan transmisi radio.

Tak berhenti di situ, pesawat dengan misterius bergerak keluar dari rencana penerbangan selama berjam-jam sampai semua jejaknya hilang.

Pontensi terjadinya pembajakan, atau perbuatan teror, menyeruak dalam kasus hilangnya pesawat MH370, namun hal itu belum muncul dalam kasus AirAsia.

“Dalam hal ini sebelum pesawat hilang, komunikasi normal dengan pilot, garis cuaca yang tampaknya cukup sulit, berat, dan ia meminta untuk naik setinggi yang dia bisa untuk keluar dari itu,” ujar Peter Goelz, seorang ahli penerbangan dan mantan pejabat Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (AS).

2. Tingkat Kedangkalan Air

Titik hilangnya kedua pesawat MH 370 dan QZ 8501 sama-sama berada di atas laut, namun jika dibandingkan terdapat dua perbedaan yang cukup mencolok.

Wilayah tempat di mana MH370 diyakini telah jatuh merupakan laut dalam, sehingga jika benar pesawat itu jatuh di sana. Maka, sisa-sisa dari bangkai pesawat sulit ditemukan.

Namun dalam kasus hilangnya pesawat AirAsia, jika pesawat itu jatuh ke dalam air, kemungkinan tidak jauh dari bibir pantai, hingga membuat tugas pencarian jauh lebih sederhana.

3. Kesigapan Merespon Situasi

Beberapa jam setelah pesawat MH370 menghilang, kebingungan melanda semua pihak, tak lepas juga Pemerintah Malaysia. Para pejabat berwenang memiliki informasi yang sedikit, tak jarang informasi yang saling bertentangan satu dengan yang lain, sehingga membuat kepanikan diantara para kelaurga penumpang.

Namun dalam peristiwa hilangnya pesawat AirAsia, nampaknya pemerintah dan pihak maskapai, bertindak cepat dan tepat untuk menenangkan keluarga penumpang pesawat.

Beberapa jam, setelah insiden terjadi Pemerintah Indonesia segera membuat jumpa pers, dan posko krisis baik di Bandara Surabaya maupun di Jakarta.

CEO AirAsia, Tony Fernandes, ‘berkicau’ dalam akun Twitternya, bahwa pihaknya berjanji untuk melakukan semua hal, untuk menemukan pesawat itu kembali.

Dari upaya pencarian, pemerintah Indonesia dengan sigap membuat rencana pencarian yang juga melibatkan beberapa negara tetangga. Negara-negara lain yang terlibat dalam upaya pencarian adalah, Malaysia, Singapura dan Australia.

4. “Kami hampir pasti tidak akan mencari pesawat ini dalam 10 bulan.”

Dengan mengetahui titik kordinat dimana diperkirakan pesawat itu hilang dari radar, maka hal itu mempermudah upaya pencarian.

Menurut Steven Wallace, mantan direktur Kantor Investigasi Kecelakaan Administrasi Penerbangan Federal, proses pencarian pesawat AirAsia jauh lebih mudah dibandingkan mencari pesawat MH370.

“Karena mereka tahu dimana posisi hilangnya pesawat itu, dan tingkat kedalaman air tempat dimana pesawat itu hilang tidak terlalu dalam yaitu sekitar 150 meter dibandingkan dengan posisi hilangnya MH370 yaitu sekitar 10-20.000 meter di Samudera Hindia,” katanya.