Home Opini Fenomena Jilboobs dan Hijab Syar’i

Fenomena Jilboobs dan Hijab Syar’i

3251
1
SHARE

Oleh Pangki T. Hidayat

jilbob

Atjehcyber.com – Fenomena jilboobs, belakangan ini telah menjadi satu wacana hangat yang menyita perhatian publik. Fenomena ini berkembang pesat seiring munculnya akun-akun di media sosial yang mengafiliasi konten-konten muslimah yang mengenakan jilboobs. Bahkan, satu akun di media sosial Facebook bernama Jilboobs Community mampu menyedot perhatian publik hingga mendapatkan empat ribu lebih likes di halamannya.

Secara etimologi, istilah jilboobs ini terdiri dari dua kata, yaitu jilbab yang notabene merupakan busana islami kaum muslimah, dan boobs yang bermakna dada wanita atau orang dungu. Istilah ini disematkan untuk menyindir perempuan muslimah yang mengenakan hijab (jilbab), akan tetapi sangat ketat sehingga setiap bagian lekuk tubuhnya terlihat jelas, utamanya pada bagian dada.

Fenomena faktual seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kali terjadi, sebelumnya fenomena serupa juga pernah terjadi pada 2012 lalu. Hanya saja, istilah yang digunakan waktu itu berbeda, yaitu jilbab gaul dan jilbab funky. Namun, terlepas dari apapun istilah yang disematkan, fenomena-fenomena tersebut jelas menyalahi ketentuan berbusana muslim yang syar’i sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran dan sunnah Nabi Muhammad saw.

Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, Musthofa Ali Yakub mengemukakan setidaknya ada empat batasan busana muslimah yang syar’i, yaitu tempat tutup aurat, tidak transparan, tidak tembus pandang, dan tidak menyerupai lawan jenis (Ribut Lupiyanto, 2014). Dalam konteks ini, secara kasat mata busana jilboobs memang telah bisa menutupi seluruh bagian tubuh muslimah yang mengenakannya. Akan tetapi, secara harfiah esensi jilboobs sangatlah jauh dari nilai-nilai berbusana muslim yang syar’i.

Oleh sebab itu, menjadi penting bagi seluruh umat Islam, utamanya kaum muslimah untuk saling menegur dan mengingatkan terkait busana yang dikenakannya. Jika busana yang dikenakan dirasakan sudah pantas dan sesuai kaidah Islam, maka terus pergunakanlah. Sebaliknya, jika ada teguran yang mengungkapkan bahwa busana yang dikenakan kurang pantas bagi muslimah, maka segera introspeksi diri dan tinggalkan busana tersebut.

 Ingin terlihat modis
Munculnya fenomena jilboobs jelas menjadi dilema bagi muslimah di tanah air. Jilbab yang notabene sudah menjadi simbol tingkat kesalehan perempuan muslim di Tanag Air, menjadi buruk nilainya di mata masyarakat. Mereka yang mengenakan jilboobs dianggap hanya ingin terlihat modis saja, akan tetapi tidak menghiraukan syariat berhijab yang syar’i.

Lebih parah lagi, tak jarang masyarakat yang menilai bahwa muslimah yang mengenakan jilboobs hanya ingin menarik perhatian lawan jenisnya saja. Alhasil, jilbab tak lagi mempunyai nilai-nilai islami yang bisa dibanggakan. Pada akhirnya, muslimah yang berhijab dan telah sesuai dengan syariat Islam, di mata sebagian masyarakat sama buruknya dengan muslimah yang mengenakan jilboobs.

Menurut pemilik label busana muslim La Perle Collection, Ira Mutiara, fenomena jilboobs ini muncul karena kurangnya pemahaman sebagian hijabers (pengguna hijab) soal cara berhijab yang syar’i. Dengan kata lain, para muslimah ingin mengenakan hijab, akan tetapi di sisi lain mereka tetap ingin tampil modis. Niat hati yang masih setengah-setengah inilah yang kemudian menciptakan peluang lahirnya berbagai macam dan jenis busana hijab kreatif, namun belum tentu syar’i menurut kaidah Islam.

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Bani dalam bukunya Jilbab Al- mar’ah Al- muslimah Fil Kitabi Was Sunnati, memberikan gambaran tentang batasan-batasan berhijab yang syar’i menurut kaidah Islam. Yaitu, menutupi seluruh badan selain yagn dikecualikan, tidak berfungsi sebagai perhiasan, kainnya harus tebal, harus longgar sehingga tidak menggambarkan bentuk tubuhnya, tidak diberi wewangian (parfum), tidak menyerupai laki-laki, tidak menyerupai wanita kafir, dan bukan libas syuhrah (pakaian popularitas).

Maka, jilboobs meskipun dari sisi luar nampak seperti berhijab, akan tetapi secara harfiah sesungguhnya esensi jilboobs sangat jauh dari nilai-nilai Islami dalam berhijab. Di dalam Q.S Al- Azhab ayat 59, secara eksplisit disebutkan bahwa salah satu fungsi berhijab bagi muslimah adalah untuk melindungi diri mereka dari kemungkinan adanya gangguan.

Akan tetapi, jika mengenakan jilboobs malah sebaliknya. Perempuan-perempuan yang senang mengenakan jilboobs justru berpotensi untuk mendapatkan gangguan dari pihak luar, misalnya pelecehan seksual dalam bentuk pandangan mata atau bahkan yang paling ekstrem sampai ancaman pemerkosaan. Meski demikian, dalam konteks ini menghakimi maupun mem-bullying jilboobers (pengguna jilboobs) secara sepihak, jelas adalah bukan jalan terbaik untuk keluar dari fenomena jilboobs ini.

Sebab, tindakan seperti itu hanya akan membuat mereka merasa semakin dilecehkan saja. Bukan tidak mungkin, akibat penghakiman sepihak dan bullying yang terus menerus dilakukan malah akan membuat mereka melepaskan dan meninggalkan hijabnya. Itulah sebabnya, untuk mengatasi fenomena jilboobs ini harus dilakukan dari dua sisi, yaitu dari sisi internal dan eksternal.

Dari sisi internal, mutlak dilakukan pemahaman terhadap cara-cara berbusana muslim yang syar’i sebagaimana dijelaskan dalam Surah al- Ahzab ayat 59 dan an- Nur ayat 31. Sementara dari sisi eksternal, Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) perlu berelaborasi dengan para desainer dan pelaku industri busana muslimah, guna mendorong lahirnya busana muslim kreatif, akan tetapi tetap syar’i sesuai dengan kaidah Islam.

 Antisipasi propaganda
Jika dicermati, mayoritas jilboobers itu adalah mereka yang masih tergolong remaja. Santrock (2003: 26), mengungkapkan bahwa batasan usia remaja adalah antara usia 12-21 tahun. Mengacu hal tersebut, maka peran pendidikan di sekolah menjadi sangat penting untuk membentengi logika remaja dari hal-hal negatif, termasuk membentengi diri dari propaganda (hasutan) untuk mengenakan jilboobs.

Itulah sebabnya, implementasi Kurikulum 2013 (K-13) yang baru saja diterapkan secara nasional pada tahun ajaran baru kali ini, paling tidak harus mampu menjadi garda terdepan sebagai upaya antisipasi menekan propaganda penggunaan jilboobs. Secara teknis, proses pembelajaran yang dilakukan selain fokus pada pemahaman materi, juga harus menekankan pentingnya pemahaman moral dan etika kepada siswa, utamannya dalam hal berbusana.

Namun demikian, upaya yang dilakukan untuk menekan propaganda penggunaan jiboobs di sekolah, hendaknya mengedepankan cara-cara persuasif. Misalnya, dengan memberikan teguran secara halus, selalu memberikan contoh berbusana muslim yang syar’i dan selalu menekankan nilai-nilai agama dalam berbusana. Upaya persuatif akan mempunyai dampak jangka panjang dari pada menggunakan upaya-upaya yang bersifat paksaan maupun otoriter (Burgon & Huffer, 2002). Selain itu, upaya persuasif akan bisa mendorong lahirnya kesadaran dari dalam diri sendiri. Kesadaran dari dalam diri sendiri inilah yang sebenarnya penting dan diperlukan untuk membendung propaganda jilboobs, baik dari media sosial maupun propaganda dari teman-teman sebaya di lingkungannya.

Akhirnya, munculnya fenomena jilboobs ini harus disikapi sebagai otokritik yang membangun bagi umat Islam, utamanya kaum muslimah. Otokritik tersebut harus dijadikan landasan untuk tidak kembali terjerumus ke dalam lubang yang sama. Evaluasi dan introspeksi diri mutlak dilakukan, sehingga keteguhan hati dalam berhijab menjadi benar-benar murni hanya karena Allah Swt semata. Dengan begitu, tuntutan bagi kaum muslimah untuk bisa mejalankan ajaran agamanya secara total dan sempurna (kaffah) bisa dilakukan. Wallahu a’lam./serambi

Pangki T. Hidayat, S.Pd., Alumnus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Direktur Eksekutif Research Center for Democratic Education, Yogyakarta. Email: [email protected]