Home Opini Kurikulum 2013: Si Pencipta atau Si Parasit

Kurikulum 2013: Si Pencipta atau Si Parasit

616
1
SHARE

Oleh  Krist Webison

kurikulum-2013Atjehcyber.com – Sektor pendidikan kita akhir-akhir ini ramai diisi dengan diskusi dan debat pro vs kontra bertema Kurikulum 2013. Kemunculan Kurikulum 2013 memicu sejumlah pertanyaan, kebingungan, ketidakjelasan, bahkan juga ketidakpahaman dari banyak kalangan publik, termasuk juga para pemangku regulasi, pendidik, dan peserta didik.

Di tengah situasi “galau dan kacau-balau” tersebut para penggagas dan penjaga regulasi, termasuk para instruktur yang dilatih dan dipercayakan menjadi agen sosialisasi menebarkan gelora optimis dan angin perubahan dalam isi dan praktek kurikulum baru ini. Bagi mereka, fenomena galau dan kacau-balau tidak lebih dari kejutan dan ketidaksanggupan untuk keluar dari zona nyaman dan sangkar emas guna menyongsong fajar perubahan.

Kemunculan Kurikulum 2013 tentu memiliki dasar filosofi dan kiblat ideal mendidik peserta didik menjadi pribadi yang integral. Kiblat tersebut harus berhadapan dengan sejumlah pertanyaan dan gugatan yang berkorelasi dengan inti sari pendidikan itu sendiri. Terutama untuk mengubah kultur pendidikan kita yang lebih cenderung menghasilkan generasi yang ahli menjadi penumpang parasit  sebagai buah dari praktek monolog dan tabiat salin-tempel yang semakin merajalela; ketimbang menjadi manusia mandiri yang bisa berkarya dan mewujudkan budaya belajar mandiri melalui pembelajaran mandiri.

Si Pencipta atau Si Parasit?
Suatu ironi besar terjadi di ruang-ruang kelas dan kintal-kintal sekolah kita dimana peserta didik dibiasakan untuk bergantung pada kondisi serba gampang. Buku-buku pelajaran yang lengkap menyodorkan beragam pengetahuan yang siap dilahap. Tetapi malang lantaran minim diskusi, apalagi bertarung bebas dalam debat tanpa penengah. Media-media informasi dan pengetahuan pun menghidangkan menu tanpa filter. Lalu disalin-tempel dan enteng dikukuhkan sebagai karya sendiri. Peserta didik pun mahir menjadi parasit yang berjaya di atas kesusahan para penemu atau perintis ilmu. Ia tidak beda dengan kotak celengan mati yang hanya bisa menadah tumpukkan koin dan kertas uang.

Ruang gerak peserta didik dikebiri oleh pisau sistem dan praktek monolog yang dangkal. Akibatnya mereka kehilangan kesempatan untuk mengasah budaya mandiri, malah diajarkan untuk jadi parasit tulen. Semua ramai-ramai melaknat sistem lama lalu memalu sistem baru yang ternyata tidak luput dari hujatan.

Lagi-lagi tidak ada jaminan pasti bahwa sistem baru mendulang sukses, jika tak pernah peduli menata cara dan tabiat yang kental dengan pembelajaran mandiri.
Kondisi ini menjadi lebih rumit ketika sang pengajar mengklaim diri sebagai kakek segala pengetahuan, lalu menutup ruang pertanyaan yang ada di benak peserta didik. Malah pertanyaan si murid  dituding sebagai senapan  ‘uji guru’ yang mengganggu proses KBM. Bukankah pertanyaan adalah kunci pembuka segala tabir pengetahuan? Tidak ada kompromi, yang tertulis tetaplah tertulis. Itulah pengetahuan sang pengajar yang terlanjur prematur diklaim sebagai harga mati. Lebih celakanya lagi, semua ini dipandang yang “seharusnya” terjadi; kebenaran yang tidak bisa diutak-atik.

Itukah ideal pendidikan kita? Ini jelas malpraktek. Apapun sistem dan kurikulumnya, dasar pijak pendidikan tetap pada upaya perwujudan humanisasi holistik. Di dalamnya praktek pendidikan membuka ruang bagi pertanyaan, diskusi, dan debat. Darinya terbentuk visi dan kemandirian. Visi yang bukan pinjaman atau parasit pada kemapanan yang sudah ada. Sekedar contoh, Promotheus dirantai ke batu karang dan dicabik-cabik burung pemakan bangkai- karena ia dituding mencuri api dari para dewa. Adam dikutuk untuk menderita karena ia telah menyantap buah pohon pengetahuan. Apa pun legendanya, di suatu tempat di balik bayang-bayang kenangan tentangnya, semua mengakui bahwa kejayaannya dimulai dari kebranian seorang penemu mempertahankan visinya sendiri .

Motif  jiwa penemu hanyalah kebenaran. Sebaris simponi, sebuah buku, sebentuk mesin, serangkai filosofi, sebuah pesawat terbang, atau bangunan–itulah tujuannya. “Visinya, kekuatannya, datang dari rohnya sendiri. Entitas yang adalah kesadarannya”, tegas Ayn Rand.  Si penemu merintis jalan; si parasit menjiplak tanpa risih. Si penemu menghadapi alam raya dalam kemandirian; si parasit menghadapi alam lewat perantara. Keperluan dasar si penemu adalah kemerdekaan. Ia menuntut kemandirian dalam fungsi dan motif. Kebutuhan pokok si penyantap lungsuran adalah untuk mengamankan ikatan ketergantungan supaya dia bisa disuapi.

Zona Aman
Kurikulum 2013 kini sedang dijalani, terlepas dari argumen pro versus kontra, nyanyian pesimis, bahkan pantun laknat yang mengiringinya.  Kemunculannya tentu beranjak dari  deretan evaluasi praktek lama yang tentu tidak gagal total, tetapi butuh pemugaran dan pembaharuan. Tidak ada kurikulum atau sistem pendidikan yang harga mati.

Perubahan ini perlu disambut dengan gerakan `kembali ke hakikat’ pendidikan itu sendiri untuk memanusiakan manusia seutuhnya. Apapun sistem dan kurikulumnya, pendidikan pantang untuk murtad dari kiblat utamanya memanusiakan peserta didik secara menyeluruh. Prakteknya dengan mengindahkan pembelajaran dialogis partisipatif dan kultur pembelajaran mandiri,  yang membuka peluang dan ruang untuk menjadi penemu baru.

Memang praktek pendidikan kita  sudah terlanjur mapan dalam zona aman yang menyimpang dari hakikat tersebut. Untuk bisa maju perlu keberanian untuk merobohkan zona aman dimana kultur pembelajaran mandiri terpinggirkan oleh dominasi mengajar monolog dan ‘tanda tanya’ mati suri oleh kekasaran klaim kebenaran sang pengajar dan buku-buku pelajaran. Berubah untuk maju memang butuh keberanian untuk meladeni perubahan dan tidak lupa menantang dengan pertanyaan tanpa final, untuk menjadikan generasi muda bangsa yang terus mencipta, tidak sekadar menjadi penumpang parasit./Tribun Kupang

* (Peneliti Institut Sophia)