Home Opini Memahami Demam ISIS di Indonesia

Memahami Demam ISIS di Indonesia

499
0
SHARE

Oleh Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad

Atjehcyber.com | DALAM beberapa bulan terakhir, dunia internasional dikejutkan dengan kemunculan gerakan terorisme baru yang dikenal dengan istilah ISIS (Islamic State of Iraq and Sham/Syria), yang berarti Negara Islam Irak Syria. Wujud organisasi tersebut di Timur Tengah, telah merambat ke Asia Tenggara, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan disinyalir ISIS sudah memiliki anggotanya di Aceh. Berbagai spekulasi dan analisa pun bermunculan untuk mengatakan bahwa ada jaringan ISIS di negara ini. Artikel ini berusaha untuk memberikan “sisi lain” dari cara pandang mengenai keberadaan jaringan ISIS di Indonesia dan Aceh.

Pertama, untuk membedah jaringan terorisme berita-berita yang tersebar di media massa, baik online maupun cetak, harus dilihat dari segi konteks. Perihal ISIS yang tersebar secara massif dibuktikan dengan aktivitas mereka di Timur Tengah dilakukan persis setelah Arab Spring dan keberhasilan dan kegagalan beberapa gerakan militer ketika menggulingkan rezim pemerintahan di kawasan tersebut. Sebelum itu, dalam list jaringan terorisme internasional, ISIS belumlah dikenal, baik dari sisi personal maupun ideologi.

Ketika huruhara di Timur Tengah, organisasi non-pemerintah yang sering ditampilkan adalah Hizbullah, Hamas, Al-Qaeda, dan Taliban. Merekalah yang menjadi media darling di level internasional. Tidak ada satu pun di antara jaringan tersebut yang memiliki dampak di Indonesia, kecuali al-Qaeda yang dihubungkan dengan Jemaah Islamiyah atau Jama‘at Asharut Tauhid. Ketika persoalan ini mencuat, titik penghabisan analisanya adalah pada sosok Abu Bakar Ba’asyir dan beberapa pentolan jaringan terorisme, baik yang masih berada di penjara maupun diluar penjara.

Kedua, jika dibedah melalui pendekatan ideological forensic (forensik ideologi), persoalan khilafah dan negara Islam merupakan dua hal yang lazim diperjuangkan oleh gerakan Islam, baik yang bersifat ultra-radicalism atau non-ultra-radicalism. Di Asia Tenggara, satu gerakan yang memperjuangkan khilafah adalah Hizbut Tahrir, dimana setiap Jumat ditemukan bulletin mereka di masjid-masjid, serta bandera gerakan ini selalu berkibar di beberapa penjuru tanah air. Namun, gerakan ini masih mendapat tempat di pentas global, tidak terkecuali di negara-negara Barat.

 Memperjuangkan khilafah
Adapun gerakan yang bersifat spiritualis-cum- non-radikalisme yang memperjuangkan khilafah dan tidak pernah memproklamirkan Negara Islam atau khilafah Islam adalah Jama‘ah Tabligh. Gerakan ini sebenarnya telah berhasil mendirikan khilafah Islam yang berpusatkan di Nizamuddin (India), dan memiliki markaz di seluruh dunia sebagai “pusat pemerintahan”, dengan menjadikan masjid sebagai kendali semua kegiatan.

Seorang anggota Jama‘ah Tabligh di Kuala Lumpur mengatakan bahwa tidak perlu mengklaim kita mendirikan Khilafah kepada dunia, karena khilafah akan berdiri sendiri jika ummat Islam mendirikan shalat berjamaah di masjid-masjid. Intinya, ketika masjid sudah makmur oleh para jamaah, di situlah khilafah terbangun kembali seperti zaman Rasululllah saw, yang menjadikan masjid sebagai pusat pemerintahan beliau.

Sementara itu, gerakan khilafah yang bersifat village-based adalah Darul Arqam yang sudah berubah menjadi global ikhwan. Gerakan ini telah berhasil membangun “sistem khilafah” tersendiri yang memiliki jaringan di seluruh dunia. Spirit ibadah yang dipadukan dengan dakwah dan bisnis, telah memperlihatkan kekuatan organisasi ini untuk bertahan dari setiap kepungan pemerintah di Malaysia. Al-hasil, gerakan ini sendiri sebenarnya merupakan satu gerakan yang tidak pernah mengklaim khilafah atau Negara Islam sebagai matlamat utamanya.

Sayangnya, kedua gerakan di atas tidak pernah sama sekali memanggul senjata, seperti ISIS, walaupun arah adalah pendirian khilafah dan Negara Islam. Persoalan khilafah atau Negara Islam yang diusung oleh ISIS agaknya “mainan baru”, ketika tidak ditemukan lagi alasan ideologis dari Islam yang dapat “menggerakkan” kekerasan dari kalangan Islam yang dijadikan sebagai legitimasi, untuk menyebutkan bahwa Islam dan Muslim berbahaya. Para analis masa depan menyebutkan bahwa Islam masih dipandang sebagai ancaman serius untuk menerapkan konsep-konsep baru seperti one world, global mind, dan planetary civilization (Michio Kaku, 2013; Kishore Mahbubani, 2013; Al Gore, 2013)). Inti dari konsep-konsep tersebut adalah bahwa kendali dunia harus dimulai dari kesadaran baru yang dikelola oleh Barat melalui model “khilafah Amerika”.

Sejalan dengan itu, tidak mengejutkan ketika ada pendapat yang menyebutkan bahwa ISIS merupakan hasil “binaan” Amerika Serikat dan sekutunya. Dalam paradigma devil orchestra (orkestra iblis) (Robert Dreyfuss, 2005), pola kemunculan ISIS hampir sama dengan pola kemunculan gerakan-gerakan radikalisme/terorisme di Timur Tengah era Perang Dingin. Dalam mengomentari ISIS, Azyumardi Azra mengatakan “kelompok-kelompok (militan radikal) awalnya mendapat bantuan dana dan persenjataan dari Arab Saudi, Qatar, Uni Eropa, dan bahkan AS” (Azra, 2014: 6).

Ketiga, ada pandangan ketika ingin menggerakkan suatu kekerasan atas suatu keyakinan, cenderung dilekatkan pada suatu organisasi yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Di sini studi jaringan sosial dan jaringan religi menjadi trend tersendiri dalam studi terorisme dan radikalisme. Misalnya, jika ada satu organisasi yang melakukan kekerasan, sebelum sampai pada kesimpulan akhir, cenderung diarahkan opini publik pada organisasi yang sudah dikenal oleh masyarakat, sebagai pelaku utamanya. Karena itu, pertemuan, bacaan, acara dakwah/pengajian, silsilah pertemanan antara guru dan murid, dan kekerabatan karena perkawinan sesama anggota, menjadi acuan utama untuk menggiring opini publik pada jaringan gerakan yang sudah dikenal secara global.

 Terlanjur dipublikasikan
Sejauh ini, model pemahaman ini sudah begitu mencuat dalam studi terorisme dan radikalisme. Para peneliti akan diturunkan untuk membuktikan hipotesa sambil dicocokkan dengan data intelijen. Walaupun terkadang hasil penelitian menunjukkan sebaliknya. Namun karena proses pengondisian opini publik terlanjur dipublikasikan secara massif, hasil penelitian kerap tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap pengaruh opini tersebut. Dalam konteks ini, sejak 2013, istilah ISIS sudah begitu membumi secara global. Kata al-Qaeda dan Jemaah Islamiyah mulai diganti oleh ISIS dalam pencarian googling. Pola ini juga hampir mirip dengan pola pada 1979 (Khomeini dan fundamentalisme), 1991 (Perang Teluk dan Irak), 2001 (al-Qaeda dan Osama bin Laden), 2011 (Muammar Qadhafi dan Arab Spring).

Akhirnya, artikel ini hanya sebagai bahan diskusi ketika melihat Indonesia sudah dilanda demam ISIS secara nasional. Ada kata nasihat orang bijak di dalam menanggapi fenomena ini yaitu: hewan akan mengejar makanan dilempar di depannya, tanpa perlu menoleh pada si pelempar. Adapun manusia akan melihat siapa yang memberikan makanan dan motif pemberian makanan yang diberikan kepadanya, apalagi kalau gratis. Tentu saja ISIS merupakan “hidangan baru” di pentas global yang dimasak dengan “bumbu” yang sama oleh tukang masak yang sama pula, yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun./serambi

* Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad, Ph.D., Dosen Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Email: [email protected]