stat counter Pentingnya Bertanya Sebelum Menghakimi dan Marah Tidak Jelas | Aceh Online Magazine

Pentingnya Bertanya Sebelum Menghakimi dan Marah Tidak Jelas

pentingnya-bertanya-sebelum-menghakimi-dan-marah-tidak-jelas

ATJEHCYBER.com – Pernahkan Anda merasa sedang berada dalam situasi di mana seseorang (pasangan, anak, sahabat atau teman) melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang kita anggap tidak tepat lantas kita langsung marah dan menghakiminya tanpa ada keinginan bertanya latar belakang atau alasan? jika iya, sebaiknya gaya seperti ini haruslah diubah perlahan-lahan. Berikut alasannya:

1. Menimbulkan kesalahpahaman

Orang-orang yang mudah menghakimi dan marah tidak jelas dikarenakan melihat orang lain melakukan kesalahan tanpa kita mau mencari tahu alasannya maka bisa jadi akan menimbulkan kesalahpahaman. Akibatnya beberapa hal lain yang seharusnya tidak terjadi justru terjadi. Misalnya seorang anak tidak mau mengerjakan PR kemudian dengan membabi buta orangtuanya marah serta menghakiminya sebagai anak pemalas, bodoh, dan sebagainya tanpa ada kemauan bertanya apa yang membuatnya enggan mengerjakan tugas. Pada akhirnya sang anak justru bukan hanya malas mengerjakan tugas, namun juga diikuti rasa takut pada orangtuanya. Jika dibiarkan terus menerus, maka dapat berbuntut panjang pada sisi psikologis anak.

2. Menganggap kita adalah paling benar

Gaya di atas juga mengisyaratkan bahwa kita adalah orang yang paling benar, sedangkan orang lain penuh dengan kesalahan sehingga sangat perlu dihakimi dan dicerca tanpa mau bersikap bijak dalam memandang suatu permasalahan. Padahal setiap orang-orang terdekat atau orang lain melakukan kesalahan tentu ada yang melatar belakanginya.  Dibandingkan dengan marah dan terus bersikap arogan terus-menerus alangkah baiknya segera diputuskan apa yang harus dilakukan dan konsekuensi apa yang pantas agar ia menyesali perbuatannya.

Dari Ibu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah  SAW itu ketika ditimpa oleh kesempitan yaitu di waktu hati kesal dan ingin marah-marah, beliau Rasulullah SAW mengucapkan  “La ilaha illallahu ‘azhimul halim.. La ilaha lllallahu rabbul  ‘arsyil ‘azhim.. La ilaha illallahu rabbus samawati wa rabbul  ardhi wa rabbul ‘arsyil karim” yang artinya tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Agung lagi Penyantun. Tiada Tuhan melainkan Allah yang Maha Menguasai ‘arasy yang agung. Tiada Tuhan  melainkan Allah yang Maha Menguasai langit-langit dan  Menguasai Bumi dan Menguasai ‘arasy yang mulia. (Muttafaq  ’alaih)

3. Menjadi kebiasaan buruk

Siapa sangka hal seperti ini dianggap menjadi kebiasaan yang buruk? ya, karena kebiasaan seperti inilah yang juga menimbulkan pertengkaran, amarah tak berujung, serta kesalahan dalam berkomunikasi yang berkepanjangan. Kita sulit untuk memberikan kesempatan lawan bicara untuk mengutarakan apa alasan dirinya melakukan sesuatu, padahal sesuatu yang ia lakukan belum tentu salah, namun persepsi kita yang menganggapnya salah.

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Yang dinamakan orang kuat adalah bukan orang yang kuat  bergulat. Orang yang kuat adalah orang yang dapat  mengendalikan hawa nafsunya pada waktu marah.” (HR  Bukhari dan Muslim). (Ummi)