Home Technology Satelit Navigasi Eropa Tersesat di Luar Angkasa

Satelit Navigasi Eropa Tersesat di Luar Angkasa

309
0
SHARE

Atjehcyber.com | Sebuah tamparan telak buat sistem navigasi global Eropa: Dua satelit yang diluncurkan oleh ESA Jumat silam menghilang di luar angkasa. Keduanya dilepaskan pada orbit yang salah.

Nasib dua satelit navigasi Eropa, Galileo, yang gagal memasuki orbit dan sejak itu menghilang, hingga kini belum jelas. Baru beberapa hari ke depan dapat diketahui apakah ilmuwan berhasil mengembalikan kedua satelit ke orbit aslinya, tulis Pusat Pengendalian Satelit di Darmstadt.

Jumat silam kedua satelit diluncurkan dari Stasiun Peluncuran Luar Angkasa Kourou di Guinea. Namun roket pengangkut Soyus milik Rusia melepaskan satelit di ketinggian 17.000 kilometer, bukan 23.500 kilometer seperti yang direncanakan.

Pada ketinggian tersebut kedua satelit sedianya bergabung dengan jaringan satelit navigasi lainnya yang telah lebih dulu diluncurkan. Semua satelit navigasi harus berada pada ketinggian yang sama agar bisa berfungsi.

Direktur Badan Antariksa Perancis, CNES, Jean-Yves Le Gall, menilai manuver buat membawa kembali kedua satelit ke ketinggian yang diharapkan dengan sisa bahan bakar yang ada akan “sangat rumit.” Beberapa pakar antariksa di Paris bahkan menyebut akan menjadi sebuah “keajaiban” jika kedua satelit bisa kembali berfungsi.

Sebuah komisi kini sedang mencari tahu bagaimana kesalahan fatal itu bisa terjadi. Ilmuwan baru menyadari ada yang tidak beres baru tiga jam setelah satelit diluncurkan. Ilmuwan meyakini kesalahan terletak pada roket peluncur.

Soyus, roket yang pernah membawa Yuri Gagarin sebagai manusia pertama di luar angkasa itu sebenarnya dikenal kokoh dan dapat diandalkan. Badan Antariksa Eropa (ESA) menggunakan Soyus untuk mengangkut beban kelas menengah.

Galileo, sistem navigasi global yang dibuat untuk menyaingi Global Positioning System (GPS) milik Amerika Serikat itu sejak awal sering dirundung masalah. Proyek prestisius milik Badan Antariksa Eropa itu seharusnya sudah rampung 2008 silam. Namun konflik di antara negara donor berujung pada keterlambatan penyelesaian proyek.